Mohon tunggu, konten utama Anda akan muncul dalam 5 detik...
JAKARTA – Sejumlah negara maju meningkatkan kampanye kesiapsiagaan masyarakat dengan meminta setiap rumah tangga memiliki persediaan makanan, air bersih, obat-obatan, dan kebutuhan pokok untuk menghadapi situasi darurat. Jepang, Inggris, Jerman, hingga Norwegia memiliki rekomendasi berbeda, mulai dari persediaan untuk tiga hari hingga sepuluh hari.
Kebijakan tersebut menjadi perhatian di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik, ancaman bencana alam, serta risiko gangguan infrastruktur dan rantai pasok global.
Namun, imbauan tersebut bukan berarti pemerintah negara-negara tersebut memastikan akan terjadi perang atau krisis pangan dalam waktu dekat. Persediaan darurat merupakan bagian dari strategi perlindungan masyarakat agar rumah tangga tetap mampu memenuhi kebutuhan dasar ketika layanan publik terganggu.
Jepang Minta Warga Simpan Stok Makanan hingga Satu Minggu
Pemerintah Jepang secara konsisten mendorong masyarakat untuk memiliki persediaan makanan dan air bersih di rumah.
Melalui panduan resmi pemerintah, masyarakat dianjurkan menyiapkan kebutuhan pangan minimal tiga hari dan, jika memungkinkan, hingga satu minggu.
Rekomendasi ini berkaitan erat dengan kondisi geografis Jepang yang rawan gempa bumi, tsunami, topan, dan bencana alam lainnya. Bencana berskala besar berpotensi memutus jaringan listrik, air bersih, transportasi, serta distribusi logistik.
Pemerintah Jepang juga menyarankan persediaan air minum sekitar tiga liter per orang per hari. Untuk kebutuhan makanan, masyarakat dianjurkan menyimpan beras, makanan kaleng, makanan siap saji, serta bahan pangan yang dapat bertahan lama.
Kementerian Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan Jepang turut mendorong metode rolling stock, yaitu membeli bahan makanan lebih banyak dari kebutuhan harian, mengonsumsi persediaan yang lebih lama disimpan, kemudian menggantinya dengan produk baru.
Dengan cara tersebut, persediaan darurat tetap tersedia tanpa harus membeli seluruh kebutuhan sekaligus.
Inggris Jalankan Kampanye Nasional Be Ready
Di Eropa, pemerintah Inggris mengembangkan kampanye kesiapsiagaan nasional bertajuk Be Ready.
Melalui kampanye tersebut, masyarakat didorong untuk mampu memenuhi kebutuhan dasar rumah tangga selama minimal 72 jam atau tiga hari ketika terjadi keadaan darurat.
Panduan resmi pemerintah Inggris menyebutkan bahwa gangguan dapat terjadi pada berbagai layanan penting, seperti listrik, air bersih, komunikasi, transportasi, dan sistem pembayaran.
Karena itu, setiap rumah tangga dianjurkan menyiapkan persediaan air minum, makanan tahan lama, obat-obatan, perlengkapan pertolongan pertama, senter, baterai, radio, uang tunai, serta dokumen penting.
Untuk air minum, rekomendasinya sekitar tiga liter per orang per hari selama tiga hari. Persediaan juga perlu disesuaikan dengan kebutuhan bayi, anggota keluarga yang membutuhkan obat rutin, serta hewan peliharaan.
Pemerintah Inggris menekankan bahwa persiapan tidak harus dilakukan sekaligus. Masyarakat dapat melengkapinya secara bertahap melalui pembelian kebutuhan sehari-hari.
Jerman Anjurkan Persediaan untuk 10 Hari
Jerman menerapkan rekomendasi kesiapsiagaan rumah tangga yang lebih panjang.
Kantor Federal untuk Perlindungan Sipil dan Bantuan Bencana Jerman (BBK) menyarankan masyarakat agar memiliki persediaan makanan dan minuman yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hingga 10 hari.
Rekomendasi tersebut dibuat untuk mengantisipasi berbagai situasi, seperti banjir yang memutus akses jalan, cuaca ekstrem, gangguan pasokan listrik, hingga terhentinya distribusi barang kebutuhan pokok.
BBK menjelaskan bahwa persediaan makanan sebaiknya terdiri dari bahan pangan yang biasa dikonsumsi keluarga, mudah disimpan, dan tidak membutuhkan pendinginan.
Masyarakat dianjurkan menyiapkan makanan kaleng, beras, pasta, roti tahan lama, kacang-kacangan, serta bahan pangan lain yang dapat dikonsumsi dalam kondisi darurat.
Untuk kebutuhan cairan, BBK merekomendasikan sekitar 1,5 liter minuman per orang per hari, ditambah kebutuhan air untuk memasak.
Pemerintah Jerman juga menegaskan bahwa persediaan darurat tidak harus langsung dipenuhi dalam jumlah besar. Masyarakat dapat membangunnya secara bertahap sesuai kemampuan ekonomi dan kapasitas penyimpanan masing-masing.
Norwegia Naikkan Standar Kesiapsiagaan Menjadi Satu Minggu
Norwegia menjadi salah satu negara Eropa yang memperbarui rekomendasi kesiapsiagaan rumah tangga secara signifikan.
Pada Mei 2024, Direktorat Perlindungan Sipil Norwegia (DSB) meningkatkan rekomendasi kemampuan bertahan mandiri masyarakat dari sebelumnya minimal tiga hari menjadi satu minggu.
Kebijakan tersebut merupakan bagian dari penguatan ketahanan masyarakat atau self-preparedness.
DSB menjelaskan bahwa masyarakat perlu mempersiapkan diri menghadapi berbagai kemungkinan gangguan, termasuk cuaca ekstrem, pandemi, kecelakaan besar, sabotase, hingga dalam skenario terburuk, tindakan perang.
Untuk mendukung kebutuhan tersebut, pemerintah Norwegia merekomendasikan persediaan air minum sekitar 20 liter per orang untuk satu minggu.
Selain makanan dan air, masyarakat juga dianjurkan memiliki perlengkapan memasak alternatif, pakaian hangat, selimut, obat-obatan, radio, baterai, senter, serta uang tunai.
Norwegia menilai kesiapsiagaan individu dapat membantu pemerintah memprioritaskan bantuan kepada kelompok masyarakat yang paling membutuhkan ketika krisis terjadi.
Prancis dan Republik Ceko Terapkan Panduan 72 Jam
Kesiapsiagaan menghadapi keadaan darurat juga menjadi perhatian sejumlah negara Eropa lainnya.
Pemerintah Prancis mendorong masyarakat menyiapkan emergency kit atau perlengkapan darurat untuk memenuhi kebutuhan selama 72 jam.
Panduan tersebut mencakup air minum, makanan tahan lama yang tidak membutuhkan proses memasak, obat-obatan, kotak P3K, radio, senter, baterai, uang tunai, serta salinan dokumen penting.
Sementara itu, Republik Ceko melalui kampanye kesiapsiagaan 72hodin juga meminta masyarakat mempersiapkan kebutuhan rumah tangga untuk menghadapi kemungkinan gangguan selama tiga hari.
Gangguan yang diantisipasi meliputi pemadaman listrik, terhentinya pasokan air, gangguan komunikasi, kelangkaan bahan bakar, hingga penutupan toko.
Panduan tersebut menunjukkan bahwa kesiapsiagaan sipil mulai menjadi bagian penting dari kebijakan perlindungan masyarakat di berbagai negara Eropa.
Mengapa Negara-Negara Mendorong Persediaan Darurat?
Ada beberapa alasan mengapa pemerintah meningkatkan perhatian terhadap kesiapsiagaan rumah tangga.
Pertama, bencana alam dapat mengganggu distribusi kebutuhan pokok dalam waktu singkat. Gempa bumi, banjir, badai, dan kebakaran besar berpotensi merusak infrastruktur serta memutus akses transportasi.
Kedua, gangguan energi dan infrastruktur dapat berdampak luas terhadap kehidupan masyarakat. Pemadaman listrik berkepanjangan, misalnya, dapat mengganggu penyimpanan makanan, komunikasi, layanan kesehatan, hingga transaksi keuangan.
Ketiga, konflik geopolitik dan ketegangan internasional berpotensi memengaruhi perdagangan, distribusi energi, serta rantai pasok global.
Dalam situasi tertentu, masyarakat mungkin tidak dapat memperoleh kebutuhan pokok seperti biasanya. Karena itu, persediaan rumah tangga menjadi salah satu lapisan perlindungan awal sebelum bantuan pemerintah dan layanan darurat menjangkau seluruh wilayah terdampak.
Bukan Ajakan Memborong atau Menimbun Secara Berlebihan
Penting dipahami bahwa rekomendasi pemerintah tersebut bukan ajakan melakukan pembelian panik atau memborong bahan makanan dalam jumlah berlebihan.
Sebaliknya, pemerintah mendorong masyarakat membangun persediaan secara terencana, bertahap, dan sesuai kebutuhan keluarga.
Metode rolling stock menjadi salah satu cara yang dianjurkan. Masyarakat cukup membeli kebutuhan pokok sedikit lebih banyak, menggunakan produk yang lebih dahulu disimpan, lalu menggantinya ketika persediaan mulai berkurang.
Cara ini membantu menjaga ketersediaan kebutuhan pokok sekaligus mengurangi risiko makanan kedaluwarsa dan pemborosan.
Pelajaran bagi Indonesia
Meningkatnya kampanye kesiapsiagaan di berbagai negara dapat menjadi pelajaran penting bagi Indonesia.
Sebagai negara yang memiliki risiko gempa bumi, tsunami, letusan gunung api, banjir, tanah longsor, dan cuaca ekstrem, Indonesia juga membutuhkan ketahanan rumah tangga yang kuat.
Masyarakat dapat mulai menyiapkan persediaan air minum, beras, makanan tahan lama, obat-obatan pribadi, perlengkapan P3K, senter, baterai, power bank, radio, serta dokumen penting.
Persediaan dapat disesuaikan dengan kondisi keluarga dan risiko bencana di masing-masing daerah.
Pada akhirnya, kesiapsiagaan bukan berarti hidup dalam ketakutan terhadap ancaman perang atau krisis global. Langkah tersebut merupakan bentuk antisipasi agar masyarakat tidak sepenuhnya bergantung pada bantuan dari luar ketika keadaan darurat terjadi.
Di tengah dunia yang semakin dinamis, kemampuan rumah tangga untuk bertahan secara mandiri selama beberapa hari menjadi bagian penting dari ketahanan masyarakat dan keamanan nasional.


