Mohon tunggu, konten utama Anda akan muncul dalam 5 detik...
LONDON, BanyumasRaya.com – Pemerintah Inggris meluncurkan kampanye kesiapsiagaan darurat bertajuk Be Ready yang mengimbau masyarakat menyimpan persediaan air minum dan makanan tahan lama untuk memenuhi kebutuhan selama tiga hari. Kebijakan ini ditujukan untuk membantu rumah tangga menghadapi gangguan layanan penting akibat cuaca ekstrem, bencana, maupun insiden siber.
Panduan tersebut diumumkan pada Kamis, 22 Oktober 2026, sebagai bagian dari program kesiapsiagaan nasional selama tiga tahun. Pemerintah Inggris menekankan bahwa imbauan ini bukan tanda bahwa perang akan segera terjadi, melainkan langkah praktis untuk mengurangi dampak keadaan darurat yang dapat mengganggu kehidupan sehari-hari.
Melalui kampanye tersebut, warga diminta menyiapkan kebutuhan dasar agar tetap dapat bertahan secara mandiri selama sekitar 72 jam apabila pasokan listrik, air, komunikasi, atau akses layanan publik terganggu.
Informasi resmi kampanye diterbitkan melalui Cabinet Office Inggris dan situs pemerintah Be Ready. Pemerintah menyebut langkah ini juga menyelaraskan pendekatan Inggris dengan sejumlah negara Eropa yang telah mendorong rumah tangga memiliki persediaan darurat untuk tiga hari. (GOV.UK)
Andy Burnham: Kesiapsiagaan Bukan Berarti Panik
Perdana Menteri Inggris Andy Burnham menekankan perlunya perubahan pendekatan dalam menghadapi keadaan darurat. Menurutnya, pemerintah dan masyarakat tidak seharusnya baru mengambil langkah setelah krisis terjadi.
Serangkaian kejadian, mulai dari cuaca ekstrem hingga gangguan teknologi, memperlihatkan bagaimana kehidupan masyarakat modern bergantung pada layanan yang dapat terganggu secara mendadak.
Pemerintah Inggris menilai persiapan sederhana di tingkat rumah tangga dapat membantu masyarakat menghadapi situasi ketika layanan penting tidak tersedia untuk sementara waktu. Persediaan makanan dan air memungkinkan keluarga memenuhi kebutuhan dasar sambil menunggu layanan kembali normal atau bantuan tiba.
Burnham juga menegaskan bahwa kampanye tersebut bukan ajakan untuk melakukan pembelian secara berlebihan. Persediaan dapat dikumpulkan secara bertahap sesuai kemampuan masing-masing rumah tangga.
Pendekatan ini penting agar imbauan kesiapsiagaan tidak justru memicu kepanikan atau kelangkaan barang akibat pembelian dalam jumlah besar.
Gangguan Siber dan Kerentanan PHP Menjadi Pengingat
Salah satu latar belakang yang disoroti pemerintah Inggris adalah insiden keamanan pada perangkat lunak PHP, bahasa pemrograman yang digunakan oleh banyak situs dan layanan digital.
Kerentanan yang terungkap pada pekan tersebut mendorong berbagai organisasi dan perusahaan di sejumlah negara memperkuat sistem mereka. Sejumlah layanan dilaporkan mengalami gangguan, sementara insiden itu juga memicu jutaan upaya peretasan.
Peristiwa tersebut memperlihatkan risiko ketergantungan masyarakat terhadap infrastruktur digital. Gangguan pada sistem teknologi dapat memengaruhi akses terhadap informasi, layanan daring, komunikasi, hingga aktivitas bisnis.
Namun, tidak tepat menyimpulkan bahwa insiden PHP menyebabkan seluruh internet dunia mati. Dampak yang dilaporkan berkaitan dengan gangguan pada sejumlah layanan dan ancaman keamanan siber, bukan pemadaman total internet global.
Dalam konteks kesiapsiagaan rumah tangga, gangguan digital dapat menjadi masalah ketika masyarakat tidak bisa mengakses informasi secara normal, menggunakan layanan pembayaran elektronik, atau memperoleh pembaruan situasi melalui saluran daring.
Karena itu, panduan Be Ready turut menyarankan warga memiliki radio FM bertenaga baterai atau radio engkol, serta pengisi daya portabel untuk telepon seluler.
Ancaman Negara Asing, Serangan Siber, dan Perubahan Iklim
Menteri Pertahanan Inggris Wes Streeting turut menyoroti perubahan lanskap ancaman keamanan. Menurutnya, risiko yang harus diperhitungkan tidak hanya berbentuk konflik militer konvensional, tetapi juga serangan siber, tindakan aktor negara yang bermusuhan, kejahatan terorganisasi, dan dampak perubahan iklim.
Streeting menggunakan istilah state-sponsored terrorism atau terorisme yang disponsori negara ketika menjelaskan ancaman terhadap infrastruktur dan kehidupan masyarakat yang dikaitkan dengan pihak negara yang bermusuhan.
Peringatan tersebut menyoroti kemungkinan bahwa infrastruktur penting dapat menjadi sasaran, termasuk sistem digital dan layanan yang menopang kegiatan ekonomi maupun kebutuhan masyarakat.
Dalam wawancara dengan media Inggris, Streeting juga menyatakan bahwa masyarakat perlu tetap waspada tanpa menjadi panik. Perkembangan teknologi kecerdasan buatan dapat mempermudah pihak tertentu menemukan kelemahan sistem keamanan, sehingga organisasi dan pemerintah perlu meningkatkan kesiapan menghadapi serangan siber.
Meski demikian, imbauan untuk memiliki persediaan rumah tangga tidak berarti pemerintah sedang mengumumkan adanya serangan tertentu yang akan segera terjadi. Pesan utama kampanye adalah memperkuat ketahanan masyarakat terhadap berbagai kemungkinan gangguan.
Cuaca Ekstrem dan Kebakaran Hutan Jadi Perhatian
Selain risiko digital dan keamanan, cuaca ekstrem menjadi alasan penting di balik kampanye kesiapsiagaan Inggris.
Pemerintah menyoroti badai yang melanda sejumlah wilayah pada musim sebelumnya serta kebakaran hutan pada musim panas 2026. Kejadian cuaca ekstrem dapat mengganggu pasokan listrik, layanan komunikasi, akses transportasi, dan distribusi kebutuhan pokok.
Kebakaran hutan juga dapat memaksa warga meninggalkan rumah, membatasi akses ke suatu wilayah, atau menambah beban layanan darurat. Dalam keadaan tertentu, masyarakat perlu menunggu informasi resmi sebelum dapat kembali beraktivitas secara normal.
Pemerintah Inggris turut mengumumkan rencana peningkatan kemampuan penanganan kebakaran hutan, termasuk penggunaan pesawat militer untuk mendukung respons darurat.
Risiko tersebut memperlihatkan bahwa kesiapsiagaan tidak hanya berkaitan dengan perang atau ancaman keamanan. Bencana alam dan gangguan infrastruktur sehari-hari juga dapat menimbulkan dampak besar apabila rumah tangga tidak memiliki persediaan dasar.
Apa Saja yang Perlu Disiapkan Warga?
Dalam panduan resmi Be Ready, masyarakat didorong memeriksa kebutuhan yang telah tersedia di rumah, kemudian melengkapi kekurangannya secara bertahap.
Berikut beberapa kebutuhan yang disarankan:
- Air minum: sekitar tiga liter per orang per hari untuk diminum, atau sembilan liter selama tiga hari. Kebutuhan tambahan mungkin diperlukan untuk memasak dan kebersihan.
- Makanan tahan lama: makanan kaleng, ikan atau daging kalengan, sayuran kalengan, buah kering, kacang-kacangan, dan makanan lain yang tidak mudah rusak.
- Penerangan: senter beserta baterai cadangan.
- Komunikasi: radio FM bertenaga baterai atau radio engkol untuk memperoleh informasi ketika jaringan komunikasi terganggu.
- Daya cadangan: power bank yang terisi untuk menjaga telepon seluler atau perangkat yang diperlukan tetap berfungsi.
- Uang tunai: untuk mengantisipasi gangguan pembayaran elektronik atau mesin ATM.
- Kesehatan dan kebersihan: obat-obatan penting, perlengkapan pertolongan pertama, pembersih tangan, dan kebutuhan kebersihan pribadi.
- Perlengkapan hangat: selimut, kantong tidur, atau pakaian hangat jika pemanas rumah tidak dapat digunakan.
Pemerintah menyarankan warga memilih persediaan yang sesuai dengan kebutuhan keluarga masing-masing, termasuk kebutuhan bayi, lansia, penyandang disabilitas, orang yang mengonsumsi obat rutin, serta hewan peliharaan.
Persediaan juga perlu diperiksa secara berkala untuk memastikan makanan belum kedaluwarsa, air tersimpan dengan baik, dan baterai maupun perangkat cadangan masih dapat digunakan.
Inggris Memperkuat Ketahanan Masyarakat
Kampanye Be Ready mencerminkan pendekatan kesiapsiagaan yang melibatkan pemerintah, organisasi masyarakat, dunia usaha, dan rumah tangga. Tujuannya bukan membuat setiap keluarga menghadapi krisis sendirian, melainkan mengurangi tekanan pada layanan darurat ketika banyak orang terdampak secara bersamaan.
Pemerintah Inggris menyatakan bahwa masyarakat yang mampu memenuhi kebutuhan dasar untuk sementara waktu dapat membantu petugas memprioritaskan kelompok yang paling membutuhkan pertolongan.
Imbauan ini juga tidak mengharuskan seluruh persediaan dibeli sekaligus. Pemerintah mendorong warga memeriksa barang yang sudah dimiliki dan menambah kebutuhan sedikit demi sedikit agar biaya persiapan lebih terjangkau.
Bagi masyarakat Indonesia, pendekatan serupa dapat menjadi bahan pembelajaran dalam menghadapi banjir, gempa bumi, cuaca ekstrem, pemadaman listrik, atau gangguan distribusi kebutuhan pokok. Persediaan air minum, makanan tahan lama, obat-obatan, penerangan, dan alat komunikasi cadangan dapat membantu keluarga memenuhi kebutuhan awal sambil mengikuti arahan petugas.
Pada akhirnya, pesan utama Be Ready bukanlah bahwa bencana besar pasti segera terjadi. Pemerintah Inggris ingin membangun kebiasaan kesiapsiagaan agar masyarakat tidak sepenuhnya bergantung pada layanan yang mungkin terganggu ketika keadaan darurat muncul.


