Mohon tunggu, konten utama Anda akan muncul dalam 5 detik...
JAKARTA – Ancaman relokasi industri kembali membayangi sektor manufaktur Indonesia. Dua pabrik komponen otomotif yang beroperasi di Jawa Timur dikabarkan tengah mempertimbangkan pemindahan sebagian lini produksinya ke Vietnam.
Jika rencana tersebut benar-benar terealisasi, ribuan pekerja berpotensi terdampak pemutusan hubungan kerja (PHK). Informasi ini disampaikan oleh Penasihat Khusus Presiden Bidang Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan Buruh, Said Iqbal.
Menurut Said, pemerintah bersama serikat pekerja saat ini masih berupaya mencegah relokasi tersebut. Salah satu langkah yang ditempuh adalah membuka ruang dialog dengan pihak perusahaan agar produksi tetap dipertahankan di Indonesia.
“Kami meminta serikat pekerja untuk terlebih dahulu melakukan negosiasi dengan perusahaan. Tujuannya agar bisa meyakinkan prinsipal supaya tidak memindahkan produksinya ke Vietnam,” kata Said Iqbal dalam konferensi pers virtual, Minggu (21/6/2026).
Pemerintah Siapkan Langkah Mitigasi
Said menjelaskan, hasil negosiasi tersebut nantinya akan dilaporkan kepada Presiden Prabowo Subianto. Laporan juga akan ditembuskan kepada Kementerian Sekretariat Negara dan pimpinan DPR RI untuk membahas langkah kebijakan yang dapat diambil pemerintah.
Menurutnya, persoalan ini tidak hanya berkaitan dengan hubungan industrial semata, tetapi juga menyangkut arah kebijakan nasional dalam pengembangan industri kendaraan listrik.
“Dari hasil dialog itu nanti akan saya laporkan kepada Presiden. Ini menyangkut kebijakan industri, khususnya terkait pengembangan mobil listrik di Indonesia,” ujarnya.
Ia menilai pemerintah perlu segera melakukan evaluasi terhadap daya saing industri kendaraan listrik nasional agar Indonesia tidak kehilangan investasi di sektor manufaktur otomotif.
Identitas Perusahaan Masih Dirahasiakan
Meski kabar relokasi sudah beredar, Said Iqbal belum bersedia mengungkap identitas kedua perusahaan tersebut. Ia hanya menyebut inisial perusahaan yakni PT J dan PT S.
Menurutnya, identitas perusahaan sengaja tidak dibuka ke publik karena proses negosiasi masih berlangsung dan dikhawatirkan dapat mengganggu upaya penyelesaian.
“Saya hanya menyebut inisial PT J dan PT S. Nama lengkapnya belum bisa disampaikan karena saat ini masih dalam tahap negosiasi,” katanya.
Said mengungkapkan bahwa kedua perusahaan tersebut merupakan bagian dari grup industri asal Jepang yang bergerak di bidang komponen otomotif.
Fokus Beralih ke Kendaraan Listrik
Lebih lanjut, Said menjelaskan bahwa perubahan strategi bisnis di tingkat induk perusahaan menjadi salah satu faktor yang memicu rencana relokasi tersebut.
Perusahaan induk di Jepang disebut tengah mengalihkan fokus bisnis ke pengembangan komponen kendaraan listrik dan mempertimbangkan negara yang dinilai lebih kompetitif sebagai basis produksi baru.
“Prinsipal di Jepang ingin memindahkan produksi ke negara yang dianggap lebih produktif dan mendukung pengembangan kendaraan listrik. Saat ini mereka melihat Vietnam lebih menarik untuk pengembangan tersebut,” jelasnya.
Ia menilai Vietnam memiliki kebijakan yang lebih agresif dalam membangun ekosistem industri kendaraan listrik, mulai dari insentif investasi hingga pengembangan rantai pasok industri.
Ribuan Pekerja Berpotensi Terdampak
Menurut Said, apabila sebagian produksi benar-benar dipindahkan, maka ribuan pekerja di Indonesia berpotensi terkena dampaknya.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa informasi yang diterima masih bersifat awal dan pemerintah masih memiliki ruang untuk melakukan langkah-langkah penyelamatan.
“Ini masih tahap diskusi awal dan informasi awal. Namun yang jelas, potensi dampaknya cukup besar karena menyangkut ribuan pekerja,” ujarnya.
Pemerintah bersama serikat pekerja kini terus berupaya mencari solusi agar investasi dan lapangan kerja tetap bertahan di Indonesia, sekaligus meningkatkan daya saing industri otomotif nasional di tengah persaingan global yang semakin ketat.


