Mohon tunggu, konten utama Anda akan muncul dalam 5 detik...
JAKARTA – Badan Pusat Statistik (BPS) memastikan pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 (SE2026) akan menjangkau seluruh aktivitas usaha masyarakat, termasuk pelaku usaha yang menjalankan bisnis melalui marketplace maupun media sosial.
Wakil Kepala BPS Sonny Harry Budiutomo Harmadi mengatakan, perkembangan teknologi telah mengubah pola aktivitas ekonomi masyarakat. Karena itu, usaha berbasis digital kini menjadi salah satu fokus utama dalam pendataan Sensus Ekonomi 2026.
“Iya betul sekali. Pedagang marketplace juga akan didata. Kami punya pengalaman ada usaha kecil yang terlihat biasa saja, tetapi ternyata memiliki omzet besar karena berjualan melalui media sosial. Hal-hal seperti ini tentu akan masuk dalam pendataan,” ujar Sonny dalam keterangan yang diterima, Sabtu (20/6/2026).
Menurut Sonny, selama ini banyak pelaku usaha digital yang menjalankan bisnis dari rumah tanpa memiliki toko fisik. Namun, aktivitas ekonomi mereka mampu menghasilkan pendapatan yang cukup besar.
Karena itu, BPS ingin memastikan seluruh kegiatan ekonomi, baik yang dilakukan secara konvensional maupun melalui platform digital, dapat tercatat secara lengkap dan akurat.
Aktivitas Ekonomi Digital Makin Besar
Sonny menjelaskan, perubahan perilaku masyarakat dalam berbisnis membuat transaksi ekonomi digital terus meningkat dari tahun ke tahun.
Jika sebelumnya mayoritas pelaku usaha mengandalkan toko fisik, kini banyak masyarakat yang memilih berjualan melalui marketplace, media sosial, maupun aplikasi digital lainnya.
Fenomena tersebut tidak hanya terjadi pada perusahaan besar, tetapi juga usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) hingga usaha rumahan.
“Karena pola ekonomi masyarakat berubah, maka sensus ekonomi juga harus mampu menangkap perubahan itu. Aktivitas usaha digital akan menjadi bagian penting dalam pendataan,” katanya.
BPS menilai data mengenai aktivitas ekonomi digital sangat diperlukan untuk mengetahui kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi nasional sekaligus menjadi dasar dalam penyusunan kebijakan pemerintah.
Petugas Datang Langsung ke Rumah
Dalam pelaksanaannya, BPS akan menerapkan metode door to door atau mendatangi langsung lokasi usaha maupun tempat tinggal pelaku usaha.
Metode tersebut dipilih agar petugas dapat memperoleh data yang lebih lengkap dan meminimalkan kemungkinan adanya pelaku usaha yang tidak terdata.
“Jadi nanti kita akan datang ke seluruh pelaku usaha dan melakukan pendataan secara door to door ke rumah,” ujar Sonny.
BPS juga memastikan bahwa proses pendataan dilakukan oleh petugas resmi yang dilengkapi identitas dan mengikuti prosedur yang telah ditetapkan.
Masyarakat diimbau untuk menerima petugas dan memberikan informasi yang benar agar hasil sensus dapat menggambarkan kondisi ekonomi Indonesia secara lebih akurat.
Target 32 Juta Pelaku Usaha
Pada pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026, BPS menargetkan sedikitnya 32 juta unit usaha dapat terdata.
Selain itu, pendataan juga mencakup sekitar 95,3 juta keluarga serta sekitar 289,3 juta individu yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia.
Data yang terkumpul nantinya akan digunakan sebagai dasar penyusunan berbagai kebijakan ekonomi nasional, termasuk pengembangan sektor UMKM, ekonomi digital, investasi, hingga penciptaan lapangan kerja.
Menurut Sonny, keberhasilan sensus tidak hanya bergantung pada petugas BPS, tetapi juga membutuhkan dukungan dari pemerintah daerah, pelaku usaha, serta seluruh masyarakat.
Penting untuk Kebijakan yang Tepat Sasaran
BPS berharap seluruh pelaku usaha, termasuk penjual di marketplace dan media sosial, dapat berpartisipasi aktif dalam Sensus Ekonomi 2026.
Data yang akurat diyakini akan membantu pemerintah dalam menyusun kebijakan yang lebih tepat sasaran dan sesuai dengan kondisi riil di lapangan.
Selain itu, hasil sensus juga dapat menjadi gambaran mengenai perkembangan ekonomi digital Indonesia yang dalam beberapa tahun terakhir tumbuh sangat pesat.
Dengan demikian, Sensus Ekonomi 2026 tidak hanya menjadi kegiatan pendataan rutin, tetapi juga menjadi instrumen penting untuk memetakan arah pembangunan ekonomi Indonesia di masa depan, termasuk potensi besar yang berasal dari jutaan pelaku usaha digital di berbagai daerah.


