Mohon tunggu, konten utama Anda akan muncul dalam 5 detik...
CILACAP – Hujan ekstrem yang mengguyur wilayah Kabupaten Cilacap dan Banyumas, Jawa Tengah, sejak Jumat malam (30/10/2026) hingga Sabtu pagi (31/10/2026), memicu banjir dan tanah longsor di sejumlah lokasi. BMKG mencatat curah hujan tertinggi mencapai 349 milimeter dalam periode pengamatan 24 jam di wilayah Jeruklegi/Jambusari, Cilacap.
Curah hujan tersebut masuk kategori ekstrem dan menjadi salah satu faktor utama yang memicu bencana hidrometeorologi di kawasan tersebut.
Ketua Tim Kerja Pelayanan Data dan Diseminasi Informasi BMKG Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung Cilacap, Teguh Wardoyo, menjelaskan bahwa hujan dengan intensitas lebat hingga ekstrem terpantau di sejumlah pos pengamatan hujan di Cilacap dan sekitarnya.
JERUKLEGI CATAT CURAH HUJAN TERTINGGI
Berdasarkan data pengamatan BMKG hingga Sabtu (31/10/2026) pagi, wilayah Jeruklegi/Jambusari, Kabupaten Cilacap, mencatat curah hujan tertinggi, yakni 349 mm.
Sejumlah wilayah lainnya juga mengalami hujan dengan intensitas sangat tinggi:
– Jeruklegi/Jambusari, Cilacap: 349 mm.
– Bandara Tunggul Wulung, Cilacap: 241 mm.
– Maos, Cilacap: 196 mm.
– Rembang, Purbalingga: 158 mm.
– Dam Piasa Kulon, Somagede, Banyumas: 141 mm.
– DPU Banyumas: 138 mm.
– Rawalo, Banyumas: 117 mm.
– Jeruklegi, Cilacap: 107 mm.
– Dayeuhluhur, Cilacap: 79 mm.
BMKG mengategorikan curah hujan 5–20 mm sebagai hujan ringan, 20–50 mm hujan sedang, 50–100 mm hujan lebat, dan 100–150 mm hujan sangat lebat. Curah hujan di atas 150 mm masuk kategori ekstrem.
BMKG JELASKAN FAKTOR PEMICU HUJAN EKSTREM
Teguh Wardoyo menjelaskan bahwa tingginya curah hujan kemungkinan dipengaruhi dinamika atmosfer, termasuk aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO). MJO merupakan fenomena gelombang atmosfer yang bergerak di wilayah tropis dan dapat memengaruhi pembentukan awan serta distribusi hujan.
Berdasarkan informasi dinamika atmosfer BMKG per 31 Oktober 2026, SOI tercatat minus 14,5, indeks ENSO Nino 3.4 plus 2,88, dan DMI plus 0,69. Menurut Teguh, ketiga indikator tersebut tidak menunjukkan pengaruh terhadap peningkatan pola konvektif di Indonesia.
Aktivitas MJO berada pada Fase 2 di Samudra Hindia. Secara umum, fase tersebut kurang berkontribusi terhadap pembentukan awan hujan di Indonesia. Namun secara spasial, aktivitasnya diprakirakan memengaruhi sejumlah wilayah, termasuk Pulau Jawa.
Belokan angin dan daerah konvergensi atau pertemuan massa udara juga berpotensi mendukung pertumbuhan awan hujan.
BANJIR DAN LONGSOR MELANDA CILACAP DAN BANYUMAS
Hujan lebat hingga ekstrem sejak Jumat malam hingga Sabtu pagi mengakibatkan banjir dan tanah longsor di sejumlah wilayah Kabupaten Cilacap dan Banyumas. Tingginya akumulasi curah hujan dalam waktu relatif singkat meningkatkan risiko meluapnya aliran air serta pergerakan tanah, terutama di kawasan rawan.
Di Banyumas, BPBD melakukan penanganan dan asesmen terhadap sejumlah kejadian bencana yang dilaporkan masyarakat. Wilayah Cilacap yang mencatat curah hujan sangat tinggi, seperti Jeruklegi dan Maos, juga perlu mendapat perhatian dalam mitigasi banjir dan longsor.
BMKG MINTA WARGA WASPADA
BMKG mengimbau masyarakat, terutama yang tinggal di kawasan rawan banjir dan tanah longsor, agar meningkatkan kewaspadaan dan terus memantau informasi cuaca resmi.
Warga di sekitar bantaran sungai, daerah cekungan, serta kawasan perbukitan dan lereng perlu memperhatikan tanda bahaya seperti peningkatan debit air, retakan tanah, maupun guguran material dari lereng. Masyarakat diminta menjauhi lokasi berbahaya dan mengikuti arahan petugas.
KESIAPSIAGAAN BENCANA PERLU DIPERKUAT
Kejadian hujan ekstrem di Cilacap dan Banyumas menjadi pengingat pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana hidrometeorologi. Pemantauan cuaca, kondisi drainase, kapasitas sungai, tanggul, serta kawasan rawan longsor perlu mendapat perhatian pemerintah daerah.
Koordinasi BMKG, BPBD, pemerintah desa, dan masyarakat diperlukan agar informasi peringatan dini diterima lebih cepat. Masyarakat diharapkan tidak mengabaikan potensi bencana susulan apabila hujan intensitas tinggi kembali terjadi.


