Mohon tunggu, konten utama Anda akan muncul dalam 5 detik...
RIYADH – Serangan terhadap Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, Arab Saudi, pada Sabtu (10/10/2026) menewaskan sedikitnya 12 orang dan menyebabkan 309 lainnya terluka. Insiden ini menjadi salah satu serangan paling mematikan di wilayah Arab Saudi sejak perang Iran dimulai.
Otoritas Penerbangan Sipil Arab Saudi melaporkan bahwa korban luka telah mendapatkan penanganan di sejumlah rumah sakit. Beberapa di antaranya dilaporkan berada dalam kondisi kritis.
Serangan tersebut juga memicu penghentian sementara operasional bandara untuk memungkinkan petugas melakukan pemeriksaan keamanan dan menilai kerusakan yang terjadi. Sejumlah penerbangan terdampak, sementara penumpang diminta memeriksa informasi terbaru mengenai jadwal perjalanan mereka.
Korban Berasal dari Berbagai Negara
Otoritas penerbangan Arab Saudi menyebut korban meninggal dunia terdiri atas empat warga negara Saudi, dua warga Bangladesh, serta masing-masing satu warga Amerika Serikat, Mesir, Yordania, Suriah, Palestina, dan Sudan.
Sebanyak 309 orang dilaporkan mengalami luka-luka. Sejumlah korban membutuhkan perawatan intensif di rumah sakit.
Besarnya jumlah korban menjadikan serangan ini salah satu insiden paling serius yang pernah terjadi di fasilitas penerbangan sipil Arab Saudi dalam lebih dari satu dekade terakhir. (Reuters)
Houthi Peringatkan Maskapai Hindari Wilayah Udara Saudi
Serangan tersebut terjadi di tengah meningkatnya konflik antara kelompok Houthi yang berbasis di Yaman dan koalisi pimpinan Arab Saudi.
Koalisi pimpinan Saudi menuding kelompok Houthi sebagai pihak yang bertanggung jawab atas serangan di bandara Riyadh. Kelompok Houthi juga menyampaikan pernyataan bahwa mereka telah melumpuhkan operasional bandara tersebut.
Sebelumnya, Houthi memperingatkan maskapai penerbangan internasional agar tidak melintasi wilayah udara Arab Saudi. Kelompok itu menyatakan wilayah udara tersebut telah menjadi area operasi militer, dengan pengecualian wilayah udara di atas Makkah dan Madinah. (Al Jazeera)
Serangan pada Sabtu tersebut bukan insiden pertama yang menyasar Bandara Internasional King Khalid dalam pekan yang sama. Serangan sebelumnya pada Kamis juga dilaporkan menimbulkan korban jiwa dan kerusakan pada fasilitas penerbangan.
Operasional Bandara Dihentikan Sementara
Setelah serangan terjadi, otoritas penerbangan Arab Saudi menghentikan sementara operasional bandara untuk memeriksa kondisi fasilitas dan memastikan keamanan penerbangan.
Sejumlah penerbangan dialihkan, sementara beberapa maskapai membatalkan atau menangguhkan layanan menuju Riyadh. Penumpang diminta mengikuti informasi resmi dari maskapai masing-masing sebelum berangkat ke bandara.
Kedutaan Amerika Serikat dan sejumlah perwakilan diplomatik negara lain turut mengeluarkan imbauan keamanan kepada warga mereka agar menjauhi kawasan bandara dan sekitarnya. (Reuters)
Konflik Yaman Berpotensi Meluas
Meningkatnya serangan terhadap fasilitas penerbangan dan infrastruktur Saudi menambah ketegangan di kawasan Timur Tengah. Konflik ini berlangsung ketika pertempuran di Yaman kembali meningkat setelah gencatan senjata yang sebelumnya meredakan konflik tidak lagi berjalan efektif.
Arab Saudi selama ini mendukung pemerintah Yaman yang diakui secara internasional dalam menghadapi kelompok Houthi. Sementara itu, Houthi melakukan serangan yang mereka sebut sebagai balasan terhadap operasi militer Saudi dan sekutunya.
Serangan terhadap bandara sipil juga memunculkan kekhawatiran mengenai keselamatan warga sipil dan dampaknya terhadap transportasi udara internasional.
Pemerintah serta otoritas keamanan Arab Saudi masih menghadapi tantangan untuk menjaga keamanan fasilitas penerbangan di tengah ancaman serangan lanjutan.
Hingga perkembangan terakhir yang dilaporkan pada 10 Oktober 2026, perhatian utama tertuju pada penanganan korban, pemulihan operasional bandara, dan kemungkinan respons militer terhadap serangan tersebut.


