Mohon tunggu, konten utama Anda akan muncul dalam 5 detik...
KUALA LUMPUR – Google mengumumkan rencana investasi senilai 15 miliar dollar AS atau sekitar Rp271 triliun di Malaysia selama periode 2027–2028. Investasi besar tersebut diarahkan untuk memperluas infrastruktur digital, membangun kompleks pusat data (data center), serta meningkatkan kapasitas komputasi guna memenuhi kebutuhan layanan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Pengumuman investasi itu disampaikan Google pada 4 November 2026 dalam acara Mantap Malaysia Bersama AI yang turut dihadiri Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim.
Presiden dan Chief Investment Officer Alphabet dan Google, Ruth Porat, mengatakan investasi tersebut merupakan bagian dari komitmen perusahaan untuk memperluas infrastruktur digital sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi Malaysia.
Rencana ini mencakup pembangunan kompleks pusat data baru di negara bagian Selangor dan Negeri Sembilan. Fasilitas tersebut akan melengkapi pusat data pertama Google di Elmina Business Park, Selangor, yang telah beroperasi.
Dorong Kapasitas Komputasi untuk Kebutuhan AI
Ekspansi Google dilakukan seiring meningkatnya kebutuhan komputasi untuk menjalankan berbagai layanan digital dan aplikasi berbasis AI.
Pusat data memiliki peran penting dalam ekosistem teknologi modern. Fasilitas ini menjadi tempat penyimpanan dan pemrosesan data yang mendukung layanan seperti Google Search, Google Maps, Chrome, Google Cloud, serta berbagai aplikasi kecerdasan buatan.
Google menyebut infrastruktur baru tersebut akan menyediakan kapasitas komputasi untuk mendukung pengembangan aplikasi digital generasi berikutnya di Malaysia dan kawasan Asia Pasifik.
Kapasitas komputasi di Selangor juga akan mendukung rencana kehadiran layanan Google Cloud Region di Malaysia untuk pelanggan perusahaan.
Dengan infrastruktur lokal, perusahaan dan organisasi diharapkan dapat mengakses layanan cloud dengan performa lebih baik, latensi lebih rendah, serta kemampuan pengembangan solusi AI yang lebih luas.
Berpotensi Menyumbang Rp19 Triliun per Tahun bagi Ekonomi Malaysia
Investasi Google diperkirakan memberikan dampak ekonomi yang signifikan selama tahap pembangunan.
Menurut proyeksi perusahaan, pembangunan kompleks pusat data pada 2027 hingga 2028 dapat memberikan kontribusi rata-rata 1,1 miliar dollar AS atau sekitar Rp19,8 triliun per tahun terhadap produk domestik bruto (PDB) Malaysia.
Proyek tersebut juga diperkirakan mendukung lebih dari 37.000 lapangan kerja lokal setiap tahun selama masa konstruksi.
Dari jumlah tersebut, sekitar 6.000 pekerjaan diperkirakan berkaitan langsung dengan sektor konstruksi.
Setelah fasilitas beroperasi, kompleks pusat data Google diproyeksikan menopang lebih dari 9.000 lapangan kerja lokal setiap tahun. Posisi yang dibutuhkan mencakup teknisi pusat data, insinyur mekanik dan listrik, manajer operasional logistik, hingga tenaga keamanan fasilitas.
Google memperkirakan rata-rata upah pekerjaan yang didukung fasilitas tersebut sekitar 45 persen lebih tinggi dibandingkan median upah nasional Malaysia.
Perusahaan juga menyatakan akan bekerja sama dengan lebih dari 80 entitas lokal dalam rantai pasok proyek, termasuk perusahaan konstruksi, jaringan infrastruktur, sistem kelistrikan, pendingin, logistik, hingga layanan pendukung lainnya.
Google Siapkan Tambahan Energi Bersih Lebih dari 1 Gigawatt
Pembangunan pusat data dalam skala besar membutuhkan pasokan listrik yang sangat besar. Karena itu, Google turut memasukkan pengembangan energi bersih dalam rencana investasinya di Malaysia.
Perusahaan berencana menambah kapasitas energi bersih lebih dari 1 gigawatt (GW) ke jaringan listrik nasional Malaysia.
Google juga menyatakan akan membayar 100 persen biaya listrik yang digunakan oleh kompleks pusat datanya, termasuk biaya infrastruktur langsung yang dibutuhkan untuk menghubungkan fasilitas tersebut ke jaringan listrik.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya perusahaan untuk mengantisipasi peningkatan kebutuhan energi akibat ekspansi infrastruktur komputasi.
Dari sisi efisiensi, Google menargetkan nilai Power Usage Effectiveness (PUE) sekitar 1,12 hingga 1,14 untuk fasilitas pusat datanya di Malaysia.
PUE merupakan indikator efisiensi energi pusat data. Semakin mendekati angka 1, semakin sedikit energi tambahan yang digunakan di luar kebutuhan perangkat komputasi.
Perhatikan Kebutuhan Air dan Lingkungan
Selain listrik, kebutuhan air juga menjadi perhatian dalam pembangunan pusat data. Air digunakan dalam sejumlah sistem pendinginan untuk mengendalikan panas yang dihasilkan server dan perangkat komputasi.
Google menyatakan telah melakukan penilaian risiko sumber daya air di wilayah Selangor dan Negeri Sembilan sebelum menentukan penggunaan sistem pendinginan berbasis air.
Perusahaan juga menyiapkan sejumlah program pengelolaan sumber daya air bersama organisasi lokal, termasuk pemulihan kualitas sungai, pengembangan lahan basah buatan, serta pemantauan pencemaran.
Salah satu rencana lainnya adalah pembangunan fasilitas penyimpanan air dan instalasi pengolahan air di Negeri Sembilan untuk mendukung ketahanan pasokan air setempat.
Pada awal November 2026, Google juga mengumumkan pendanaan sebesar 160 juta dollar AS untuk pembangunan infrastruktur air bersama di Negeri Sembilan.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa pembangunan pusat data berskala besar tidak hanya membutuhkan investasi teknologi, tetapi juga perencanaan sumber daya energi dan air yang memadai.
Target Tingkatkan Keterampilan Digital 800.000 Warga Malaysia
Investasi Google tidak hanya berfokus pada pembangunan fasilitas fisik. Perusahaan juga menyiapkan empat program pengembangan keterampilan digital yang ditargetkan menjangkau sekitar 800.000 warga Malaysia selama lima tahun, mulai 2027 hingga 2031.
Program tersebut menyasar tenaga pendidik, pelajar, pelaku usaha mikro, aparatur pemerintah, serta pencari kerja di bidang vokasi.
Salah satu programnya adalah Experience AI Malaysia yang bertujuan meningkatkan literasi kecerdasan buatan di lingkungan pendidikan.
Google juga menyiapkan program Jelajah AI MSME untuk membantu pelaku usaha mikro memanfaatkan teknologi digital dan AI dalam mengembangkan bisnis.
Selain itu, terdapat program Anjakan Kemahiran AI Demi Rakyat (AKAD Rakyat) untuk meningkatkan kemampuan aparatur pemerintah dalam memanfaatkan teknologi AI guna mendukung produktivitas pelayanan publik.
Program Data Center Institutes juga akan dikembangkan di sejumlah politeknik di Selangor dan Negeri Sembilan. Program ini dirancang untuk mempersiapkan tenaga kerja lokal agar memiliki keterampilan teknis yang dibutuhkan dalam operasional pusat data.
Bagaimana Posisi Indonesia di Tengah Ekspansi Google?
Investasi besar Google di Malaysia menjadi perkembangan penting bagi persaingan infrastruktur digital di Asia Tenggara. Negara-negara di kawasan ini semakin berlomba menarik investasi pusat data untuk mendukung pertumbuhan komputasi awan dan kecerdasan buatan.
Indonesia sendiri telah memiliki Google Cloud Region Jakarta yang mulai beroperasi pada 24 Juni 2020.
Keberadaan pusat data lokal tersebut memungkinkan perusahaan dan organisasi di Indonesia menggunakan layanan cloud dengan infrastruktur yang berada di dalam negeri.
Google sebelumnya juga mengumumkan perluasan kapasitas komputasi di Jakarta Cloud Region pada Mei 2025 untuk memenuhi peningkatan kebutuhan layanan berbasis AI.
Dalam laporan mengenai dampak ekonominya, Google mengklaim Jakarta Cloud Region telah berkontribusi sekitar Rp900 triliun terhadap perekonomian Indonesia selama lima tahun pertama operasionalnya dan mendukung rata-rata hampir 92.000 lapangan kerja per tahun.
Untuk lima tahun berikutnya, perusahaan memproyeksikan kontribusi ekonomi mencapai Rp1.400 triliun dengan dukungan rata-rata hampir 240.000 lapangan kerja per tahun.
Namun, Google tidak merinci nilai investasi pusat data di Indonesia yang dapat dibandingkan secara langsung dengan komitmen investasi 15 miliar dollar AS di Malaysia.
Ekspansi di Malaysia menjadi sinyal bahwa persaingan menarik investasi teknologi global semakin penting bagi negara-negara Asia Tenggara.
Bagi Indonesia, peluangnya bukan hanya menarik pembangunan pusat data baru, tetapi juga memperkuat pasokan energi, ketersediaan air, jaringan telekomunikasi, kepastian regulasi, serta kesiapan sumber daya manusia.
Dengan meningkatnya kebutuhan komputasi AI, negara yang mampu menyediakan infrastruktur digital andal dan berkelanjutan berpotensi memperoleh keuntungan ekonomi lebih besar dalam jangka panjang.


