Kesehatan

Jika Tak Ada Intervensi, Kasus Corona di Indonesia Bisa Tembus 71.000 Akhir April

Share
Share

IQBAL ELYAZAR
SUDIRMAN NASIR
SUHARYO SUMOWIDAGDO

Angka penularan COVID-19 di Indonesia berpotensi bertambah secara eksponensial–mengikuti deret ukur yang jumlahnya berangsur membesar dan kemudian tak terkendali–jika tidak ada upaya segera mengurangi laju penyebaran dengan menghilangkan faktor-faktor penting yang dapat memperluas wabah penyakit ini.

Dengan analisis fungsi eksponensial, kami perkirakan–dengan data kasus sejak 2 Maret dan asumsi level penggandaan waktu kasus seperti Iran dan Italia–pada akhir April 2020 akan terdapat 11.000-71.000 kasus COVID-19 di Indonesia.

Angka itu akan tercapai jika penanganan serangan coronavirus di negeri ini masih seperti saat ini: minim sekali informasi lokasi penderita dan kuantitas pemeriksaan penderita, sikap masyarakat kurang peduli untuk meminimalkan kontak antarorang, minimnya sanksi terhadap pelanggaran karantina mandiri, dan minimnya informasi lokasi yang harus dihindari masyarakat.

Kepastian Indonesia terkena COVID-19 bermula saat 2 Maret lalu Presiden Joko Widodo menyatakan ada dua kasus positif terinfeksi COVID-19 di Depok yang diduga tertular dari warga negara Jepang yang terbang dari Malaysia. Lalu, setelah itu jumlah kasus baru terus meningkat dengan cepat dan berlipat-ganda.

Pada akhir pekan kedua, kasus melonjak menjadi 117 kasus. Dan per 18 Maret, naik lagi mencapai 227 kasus dan sehari kemudian (19 Maret) melompat jadi 309 kasus. Per 19 Maret ada peningkatan kasus 154 kali dibanding hari pertama kali diumumkan. Selain itu, masih ada 480 pasien yang diawasi dan 976 orang dipantau terkait SARS-CoV-2, virus yang menyebabkan penyakit COVID-19.

Angka-angka ini baru yang terlaporkan dan terdeteksi di laboratorium. Ada kemungkinan orang terinfeksi namun belum terdeteksi atau tidak melapor.

4
Home Sains Fenomena
The
The Conversation
Wartawan dan akademisi
Bergabung sejak : 2 Maret 2018
Platform kolaborasi antara wartawan dan akademisi dalam menyebarluaskan analisis dan riset kepada khalayak luas.

Jika Tak Ada Intervensi, Kasus Corona di Indonesia Bisa Tembus 71.000 Akhir April
Jumat, 20 Maret 2020 | 12:02 WIB

Komentar (4)
Ilustrasi virus corona
Lihat Foto
Penulis: The Conversation | Editor: Sri Anindiati Nursastri

IQBAL ELYAZAR
SUDIRMAN NASIR
SUHARYO SUMOWIDAGDO

Angka penularan COVID-19 di Indonesia berpotensi bertambah secara eksponensial–mengikuti deret ukur yang jumlahnya berangsur membesar dan kemudian tak terkendali–jika tidak ada upaya segera mengurangi laju penyebaran dengan menghilangkan faktor-faktor penting yang dapat memperluas wabah penyakit ini.

Dengan analisis fungsi eksponensial, kami perkirakan–dengan data kasus sejak 2 Maret dan asumsi level penggandaan waktu kasus seperti Iran dan Italia–pada akhir April 2020 akan terdapat 11.000-71.000 kasus COVID-19 di Indonesia.

Angka itu akan tercapai jika penanganan serangan coronavirus di negeri ini masih seperti saat ini: minim sekali informasi lokasi penderita dan kuantitas pemeriksaan penderita, sikap masyarakat kurang peduli untuk meminimalkan kontak antarorang, minimnya sanksi terhadap pelanggaran karantina mandiri, dan minimnya informasi lokasi yang harus dihindari masyarakat.

Kepastian Indonesia terkena COVID-19 bermula saat 2 Maret lalu Presiden Joko Widodo menyatakan ada dua kasus positif terinfeksi COVID-19 di Depok yang diduga tertular dari warga negara Jepang yang terbang dari Malaysia. Lalu, setelah itu jumlah kasus baru terus meningkat dengan cepat dan berlipat-ganda.

Pada akhir pekan kedua, kasus melonjak menjadi 117 kasus. Dan per 18 Maret, naik lagi mencapai 227 kasus dan sehari kemudian (19 Maret) melompat jadi 309 kasus. Per 19 Maret ada peningkatan kasus 154 kali dibanding hari pertama kali diumumkan. Selain itu, masih ada 480 pasien yang diawasi dan 976 orang dipantau terkait SARS-CoV-2, virus yang menyebabkan penyakit COVID-19.

Angka-angka ini baru yang terlaporkan dan terdeteksi di laboratorium. Ada kemungkinan orang terinfeksi namun belum terdeteksi atau tidak melapor.

Ilustrasi virus corona di Indonesia
Lihat Foto
Pertumbuhan jumlah kasus COVID tersebut memasuki fase eksponensial setelah sebelumnya memasuki fase penundaan yang tidak terdeteksi. Pertumbuhan cepat serupa terjadi di Italia, Iran, dan Korea Selatan. Dampaknya, rumah sakit dan petugas kesehatan di sana kewalahan menangani ribuan pasien yang butuh perawatan bersamaan.

Jika pemerintah Indonesia tidak segera memotong laju pertumbuhan virus, potensi penularan virus akan makin meluas. Apalagi pada akhir April mulai puasa Ramadan, yang biasanya ada banyak kegiatan buka bersama sore hari dan malamnya salat jemaah tarawih di masjid yang melibatkan banyak orang dan kontak dekat antarorang.

Lalu akhir Mei nanti ada libur Idul Fitri, saat umumnya masyarakat merayakannya dengan pulang kampung, pertemuan massal dan kontak dekat antar penduduk.

Saat musim mudik dan Lebaran, biasanya hampir 15 juta orang secara bergelombang meninggalkan Jakarta, salah satu pusat penularan COVID-19, dan sekitarnya menuju Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan provinsi lainnya. Badan Nasional Penanggulangan Bencana menetapkan masa darurat bencana akibat COVID-19 hingga 29 Mei 2020.

Kita perlu mengambil pelajaran dari sebuah pertemuan massal puluhan ribu orang menjelang Imlek di Distrik Baibuting, Wuhan, Cina pada 10 Januari, yang diduga menjadi medium awal penyebaran massal penyakit ini ke seluruh daratan Cina, lalu berkembang ke-167 negara dan teritorial.

Pertumbuhan eksponensial yang mengerikan
Jumlah kasus yang tumbuh secara eksponensial, pada tahap awal akan tampak tidak banyak, tapi pada suatu titik akan meledak luar biasa menembus daya tampung fasilitas kesehatan.

Dalam ilmu epidemiologi, laju kenaikan kasus menyatakan seberapa besar kasus itu meningkat dalam suatu periode waktu tertentu. Misalnya, jumlah kasus baru meningkat dua kali lipat dalam waktu satu minggu (waktu penggandaan, doubling time).

Tanpa ada pembatasan yang ketat, pertumbuhan jumlah pasien karena penularan virus adalah eksponensial. Artinya untuk tiap periode waktu yang sama terlewatkan, jumlah pasien menjadi N kali jumlah pasien sebelumnya.

Misalnya, jika jumlah pasien meningkat 2x setiap hari–setiap satu pasien menularkan ke dua orang–maka jumlah pasien pada hari pertama hingga hari ke-7 adalah: 1, 2, 4, 8, 16, 32, 64.
Pada periode pekan pertama ini ini tampaknya jumlah pasien masih dapat ditangani petugas medis.

Namun jika penggandaan berlanjut, pada akhir pekan kedua jumlah pasien sudah menjadi 8.192. Pada akhir pekan ketiga menjadi 1.048.576, menembus lebih satu juta.
Pada akhir pekan keempat menjadi 13.421.728, menembus lebih 10 juta.

Guna mencegah keadaan lebih buruk, penggandaan harus dihentikan sesegera mungkin di awal di saat jumlah pasien masih kecil.

Namun tampaknya banyak negara, termasuk Indonesia, tidak mengambil langkah-langkah drastis untuk mengurangi laju kenaikan pada saat awal karena menganggap jumlahnya masih kecil.

Laju kenaikan kasus juga bersifat dinamis, bisa naik atau turun, tergantung kepada periode waktu yang dianalisis dan intervensi yang dilakukan untuk mempengaruhi laju kenaikan tersebut.

Secara teoretis, intervensi seperti pembatasan kumpul sosial, pengetesan massal, dan isolasi kasus positif, seharusnya memperlambat jumlah kemunculan kasus baru.

Empat fase pergerakan wabah: kasus Korea Selatan, Italia, dan Iran
Ketiadaan atau kelambanan intervensi untuk mengurangi laju kenaikan kasus di tahap-tahap awal akan menghasilkan bencana. Kasus infeksi yang tidak terdeteksi ikut memperburuk perluasan wabah.

Dalam konteks wabah untuk penyakit menular, secara umum, ada empat periode: fase penundaan, fase eksponensial, fase statis, dan fase penurunan.

Fase penundaan

4
Home Sains Fenomena
The
The Conversation
Wartawan dan akademisi
Bergabung sejak : 2 Maret 2018
Platform kolaborasi antara wartawan dan akademisi dalam menyebarluaskan analisis dan riset kepada khalayak luas.

Jika Tak Ada Intervensi, Kasus Corona di Indonesia Bisa Tembus 71.000 Akhir April
Jumat, 20 Maret 2020 | 12:02 WIB

Komentar (4)
Ilustrasi virus corona
Lihat Foto
Penulis: The Conversation | Editor: Sri Anindiati Nursastri
Fase penundaan sebenarnya merupakan fase awal ketika orang yang datang ke fasilitas kesehatan dengan keluhan belum banyak.

Masa inkubasi coronavirus adalah 1-24 hari. Lamanya waktu ketika orang terinfeksi sampai dengan kemunculan gejala memberikan kesempatan kepada virus untuk memperbanyak diri sekaligus menular dari satu orang ke orang lain.

Terlebih terdapat orang yang positif COVID-19 yang tidak menunjukkan gejala. Tanpa tes, mereka mungkin tidak menyadari dirinya adalah pembawa virus SARS-CoV-2.

Pada fase ini, kebanyakan otoritas kesehatan dan masyarakat cenderung abai bahkan mengingkari masalah dan tidak peduli terhadap tindakan pencegahan dan pengendalian.
Korea Selatan, misalnya, melaporkan kasus pertamanya pada 20 Januari 2020.

Empat pekan kemudian, jumlah kasusnya baru mencapai 30 kasus. Pada 18 Februari, seorang pasien terkonfirmasi positif COVID-19 yang beberapa hari sebelumnya diketahui menghadiri acara rutin keagamaan di sebuah gereja yang dihadiri banyak orang. Dua hari setelah itu jumlah kasus di sana meledak menjadi 346.

Ada fase penundaan selama 4 minggu, saat otoritas kesehatan masih menemukan kasus secara pasif, melacak kontak dengan kasus positif dan belum melakukan tindakan aktif yang drastis. Setelah itu, kita melihat kenaikan kasus yang mengikuti pertumbuhan eksponensial.

Sampai 18 Maret, hampir 4 pekan setelah fase eksponensial dimulai, Korea Selatan melaporkan 8.413 kasus dan 81 kematian.

Fase eksponensial

Penundaan yang berlarut-larut untuk mencari siapa saja yang terinfeksi biasanya diikuti dengan ledakan kasus.

Pada fase ini, ketika kasus sudah terjadi di mana-mana, otoritas kesehatan dan sebagian besar masyarakat baru sadar bahwa bahaya sudah di depan mata.

Mereka mulai bersikap panik dan segera berpikir serta bertindak untuk mencegah dan mengendalikan situasi.

Celakanya, petugas kesehatan mulai kewalahan, fasilitas kesehatan sudah tidak cukup untuk menampung serta masyarakat mulai bertanya seberapa parah lagi bencana ini terus terjadi.
Italia menyajikan contoh laju pertumbuhan eksponensial yang lebih parah.

Negara ini melaporkan kasus pertama pada akhir Januari 2020. Sejak itu mulai dilaporkan beberapa kasus positif dari warga Italia yang kembali dari Cina.

Namun tiba-tiba pada 20 Februari (tiga minggu setelah kasus pertama), seorang warga Italia yang dilaporkan tidak pernah bepergian ke Cina atau memiliki kontak dengan orang yang datang dari Asia, dinyatakan positif virus corona. Penularan di wilayah lokal terkonfirmasi.

Sejak saat itu ledakan jumlah kasus tidak tertahankan lagi dan mengikuti pola pertumbuhan eksponensial. Sekitar enam minggu setelah kasus pertama, per 18 Maret, virus SARS-CoV-2 di sana telah menginfeksi 31.506 orang dan menyebabkan lebih dari 2500 kematian.

Iran menjadi contoh yang menarik untuk laju pertumbuhan eksponensial yang lebih besar dibanding Italia dan dalam waktu yang lebih pendek. Kasus pertama Iran lebih lambat ditemukan dan dilaporkan dibandingkan dengan Italia dan Korea Selatan, yaitu 19 Februari 2020.

Pemilihan umum dan tekanan politik di sana menunda proses pemeriksaan pasien terinfeksi. Pemerintahan akan menghukum siapa pun yang menyebarkan rumor tentang wabah, seperti halnya pemerintah lokal Wuhan di awal Januari 2020.

Dalam waktu kurang dari dua minggu, Kementerian Kesehatan Iran melaporkan 593 kasus dan terus naik sampai dengan hari ini. Hanya satu bulan sejak kasus pertama, per 18 Maret di Iran ada hampir 16.200 kasus dan 988 kematian.

Fase statis

Serangan yang terus-menerus itu kemudian sampai pada situasi yang laju kenaikan kasus mulai menurun dan penambahan jumlah kasus baru tidak lagi secepat pada fase eksponensial. Walaupun jumlah kasus baru tetap muncul, tapi jumlahnya relatif stabil.

Fase ini masuk fase statis atau jumlah kasus baru sudah sangat rendah dibandingkan sebelumnya, seperti yang saat ini terjadi di Cina.

Penurunan laju kenaikan kasus mungkin saja disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, laju pertumbuhan kasus menurun karena tindakan menghadang atau membendung penularan.

Kedua, masyarakat sudah mengembangkan imunitas yang tahan terhadap infeksi tersebut. Ketiga, berkurangnya populasi yang masih rentan terhadap infeksi (atau dengan kata lain telah banyak jatuh korban jiwa).

Fase penurunan
Fase terakhir, adalah ketika laju kenaikan kasus menunjukkan tren negatif dan jumlah kasus baru menunjukkan tren penurunan (fase penurunan).

Seberapa lama periode waktu dari masing-masing fase itu sulit untuk diprediksi. Namun yang pasti fase eksponensial akan segera datang setelah fase penundaan, seperti yang terjadi di Korea Selatan, Italia, dan Iran. Sampai saat ini, di antara ketiganya, hanya Korea Selatan yang mulai masuk ke dalam fase penurunan.

Bagaimana waktu penggandaan di Indonesia?
Situs Our World in Data menghitung laju pertumbuhan kasus baru untuk berbagai negara. Untuk Korea Selatan, jumlah kasus baru meningkat dua kali lipat setiap 13 hari.

Iran dan Italia lebih parah, kasus baru meningkat dua kali lipat setiap 7 dan 5 hari. Cina dalam bulan Maret ini lebih baik dibandingkan pada Februari, lipat dua setiap 33 hari.

Dengan menggunakan data di Our World in Data, waktu penggandaan Indonesia sebesar 2 hari. Dengan kata lain, jumlah kasus Indonesia akan meningkat dua kali lipat setiap dua hari. Jika kita menggunakan angka ini sebagai acuan maka diperkirakan bahwa pada akhir Maret 2020, Indonesia akan melaporkan lebih dari 20.000 kasus.

Suatu angka yang sangat besar dan bisa melumpuhkan sistem kesehatan Indonesia.
Namun, mari kita asumsikan saja bahwa waktu penggandaan Indonesia itu sama dengan Iran (7 hari) atau Italia (5 hari), maka kita akan mendapatkan gambaran kasus akan menumpuk pada April 2020.

Dengan mengasumsikan pertumbuhan eksponensial seperti Iran dan Italia, maka pada akhir Maret, Indonesia akan melaporkan kasus antara 600-1000 kasus dan pada akhir April 2020 akan terdapat antara 11.000-71.000 kasus corona.

Perlu dipahami dalam konteks ini bahwa kasus yang dilaporkan saat ini hanya dari orang-orang yang datang ke fasilitas kesehatan atas kesadaran sendiri. Mereka yang datang sudah merasakan gejala menyerupai COVID-19 atau orang-orang yang terlacak dari hasil pencarian survei kontak dengan penderita positif sebelumnya.

Belum diketahui seberapa berapa besar penderita yang belum atau tidak mau datang ke layanan kesehatan karena tidak dilakukan tes massal sebagai deteksi awal seperti di Korea Selatan dan Italia.

Apa langkah mencegah pertumbuhan eksponensial?
Indonesia baru saja memasuki fase eksponensial. Tindakan segera memperlambat waktu penggandaan tersebut dapat dilakukan dengan:

1. Pemerintah dan petugas medis segera meningkatkan jumlah orang-orang berisiko yang diperiksa di daerah yang menjadi lokasi penderita ditemukan atau daerah yang memiliki indikasi penularan.

2. Pemerintah segera terbuka memberikan informasi tentang data lokasi penderita pada tingkat kecamatan sehingga masyarakat dapat ikut memeriksakan diri dan menghindari kontak dengan lokasi tersebut.

Pembukaan lokasi kasus pada tingkat yang lebih besar dari kecamatan (kota/kabupaten) akan terlalu kasar dan tidak cukup untuk membantu mengisolasi masalah. Pembukaan lokasi pada tingkat lebih kecil dari kecamatan memerlukan pertimbangan yang sangat matang.

3. Pemerintah segera meningkatkan kesadaran masyarakat dan mendorong tindakan mandiri masyarakat untuk meminimalkan kontak dengan orang lain. Lebih baik tinggal dan bekerja di rumah selama wabah.

Dengan pemanfaatan lebih intensif ilmu pengetahuan dan teknologi serta perbaikan kordinasi antarlembaga di dalam negeri maupun kerja sama antar organisasi di tingkat regional dan dan internasional, kami yakin pandemi ini bisa dikendalikan.

IQBAL ELYAZAR

Researcher in disease surveillance and biostatistics – Eijkman-Oxford Clinical Research Unit (EOCRU)

SUDIRMAN NASIR

Senior lecturer and researcher at The Faculty of Public Health – Universitas Hasanuddin

SUHARYO SUMOWIDAGDO

Physicist, Indonesian Institute of Sciences (LIPI)

Artikel ini tayang di Kompas.com berkat kerja sama dengan The Conversation Indonesia. Tulisan di atas diambil dari artikel asli berjudul “Penularan COVID-19 di Indonesia Bisa Tembus 11-71 Ribu Akhir April Jika Tak Ada Intervensi Cepat”. Isi di luar tanggung jawab Kompas.com.

Share
-Sponsored-
ads image

Hot Topic

EkonomiInternasional

Public Investment Fund (PIF): Mesin Investasi Raksasa Arab Saudi yang Mengubah Peta Ekonomi Global

Riyadh — Dalam beberapa tahun terakhir, nama Public Investment Fund (PIF) semakin sering muncul dalam berbagai berita ekonomi global. Dana investasi milik pemerintah...

EkonomiNasional

Danantara Kucurkan Rp20 Triliun, Proyek Hilirisasi Peternakan Ayam Nasional Resmi Dimulai

JAKARTA – Pemerintah melalui Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI) Danantara resmi memulai proyek hilirisasi peternakan ayam dengan nilai investasi mencapai Rp20...

EkonomiNasional

Menkop: 27 Ribu Kopdes Merah Putih Siap Beroperasi April 2026

JAKARTA – Menteri Koperasi dan UKM, Ferry Juliantono, menyatakan sebanyak 27 ribu Koperasi Desa/Kelurahan (Kopdes/Kel) Merah Putih ditargetkan siap beroperasi pada April 2026....

EkonomiNasional

Kolaborasi Kemenpar-Kemenkop Percepat Pendirian Kopdes Merah Putih di Desa Wisata

Jakarta – Kementerian Pariwisata (Kemenpar) resmi memperkuat kolaborasi strategis dengan Kementerian Koperasi (Kemenkop) guna mempercepat pendirian Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (Kopdes Merah Putih)...

EkonomiNasional

BUMDes vs Koperasi Desa Merah Putih: Ini Perbedaan, Fungsi, dan Manfaatnya bagi Warga Desa

Keberadaan Koperasi Desa Merah Putih (Kopdes Merah Putih) belakangan menjadi perbincangan hangat di tengah masyarakat desa. Ribuan koperasi jenis baru ini mulai berdiri...

EkonomiNasional

Pemerintah Siapkan Enam Proyek Strategis Bernilai Rp101,5 Triliun Mulai Dibangun Februari 2026

Hilirisasi 2.0: Prabowo Bidik Groundbreaking 6 Proyek Strategis USD 6 Miliar pada Februari 2026 Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto resmi "tancap gas" dalam mengakselerasi...

EkonomiNasional

Kaleidoskop APBN 2025: Ekonomi Indonesia Tetap Ekspansif di Tengah Gejolak Global

Tahun 2025 resmi berakhir dengan capaian positif bagi perekonomian nasional. Di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi, fundamental ekonomi Indonesia terbukti tetap resilien...

EkonomiNasional

Purbaya Tegaskan Sebagian Dana Desa Ditahan untuk Pembiayaan Kopdes Merah Putih

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa sebagian Dana Desa Tahap II Tahun 2025 ditahan pemerintah pusat untuk mendukung pembiayaan program Koperasi Desa/Kelurahan...

EkonomiNasional

Dana Desa 2026 Fokus Untuk BLT & Kopdes Merah Putih

Pemerintah resmi menetapkan arah kebijakan penggunaan anggaran Transfer ke Daerah (TKD) atau Dana Desa untuk tahun anggaran 2026. Ketentuan tersebut tertuang dalam Peraturan...

EkonomiNasional

Menkop Ferry Luncurkan 10 Gerai Obat Kopdes Merah Putih Lewat Kemitraan BUMN dan Swasta

Menteri Koperasi dan UKM, Ferry Juliantono, meresmikan 10 titik percontohan Gerai Obat Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (Kopdeskel) sebagai langkah awal penguatan peran koperasi...

-Sponsored-
ads image
BencanaNasional

Aceh Perpanjang Status Tanggap Darurat hingga 22 Januari 2026, Gubernur Mualem: Masih Ada Wilayah Terisolasi

BANDA ACEH – Pemerintah Aceh kembali memperpanjang status tanggap darurat bencana hidrometeorologi untuk ketiga kalinya. Perpanjangan ini berlaku selama 14 hari, terhitung mulai...

NasionalOtomotif

Investasi Awal Rp 4,8 Triliun, VinFast Resmikan Operasi Pabrik EV di Subang, Perkuat Ambisi Indonesia Jadi Pusat Industri Kendaraan Listrik Global

JAKARTA – Produsen kendaraan listrik asal Vietnam, VinFast, resmi mengoperasikan pabrik kendaraan listrik (electric vehicle/EV) di Subang, Jawa Barat, Jumat (9/1/2026). Beroperasinya pabrik...

KriminalNasional

Konten kreator dan aktivis pengkritik penanganan bencana diteror, pemerintah tepis dugaan batasi kritik publik

Sejumlah kreator konten dan aktivis mengaku mengalami teror dan ancaman pembungkaman dalam waktu yang hampir bersamaan. Organisasi masyarakat sipil menilai fenomena ini sebagai...

BencanaNasional

1.112 Orang Tewas Akibat Bencana Sumatera, Terbanyak di Aceh

Jumlah korban meninggal dunia akibat rangkaian bencana banjir dan longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat terus bertambah. Hingga Selasa (23/12/2025),...

InternasionalPalestina

PBB: 1,6 Juta Warga Palestina Alami Kelaparan Akut

Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) memperingatkan bahwa krisis kelaparan di Jalur Gaza masih berada pada tingkat kritis, meskipun gencatan senjata telah diberlakukan...

InternasionalPalestina

Pakar militer: Pemboman harian Israel atas Gaza bersifat sistematis

Pakar militer dan strategi, Kolonel (Purn) Hatem Karim Al-Falahi, menegaskan bahwa Israel terus melakukan apa yang ia sebut sebagai “arogansi militer” di Jalur...

Bencana

Banjir di Wisata Air Panas Guci Tegal, Pancuran 13 Lenyap

Pemandangan memilukan terjadi di kawasan wisata andalan Kabupaten Tegal, Pemandian Air Panas Pancuran 13 Guci. Destinasi yang biasanya ramai oleh wisatawan itu mendadak...

NasionalProperti

Prabowo Tambah Anggaran Perumahan Rp 10 Triliun, Targetkan Bedah Rumah 400 Ribu Unit

Presiden RI Prabowo Subianto menunjukkan komitmennya untuk memberikan akses perumahan kepada seluruh elemen masyarakat. Salah satu upaya yang dilakukan adalah menaikkan anggaran sektor...

Related Articles
KesehatanNasional

Pegawai Kopdes Merah Putih Wajib Terdaftar sebagai Peserta BPJS Kesehatan

Direktur Utama BPJS Kesehatan, Ali Ghufron Mukti, menegaskan bahwa seluruh pegawai Koperasi...

KesehatanTeknologi

China Buka Rumah Sakit dengan 14 Dokter AI Pertama di Dunia

China Buka Rumah Sakit dengan 14 Dokter AI Pertama di Dunia China...

KesehatanNasional

Bahaya Anggur Shine Muscat Lagi Diselidiki, BPOM RI Sarankan Batasi Konsumsinya

Jakarta - Heboh temuan Thailand terkait kemungkinan residu kimia berbahaya yang berisiko...

KesehatanNasional

Thailand Temukan Residu Kimia Berbahaya Anggur Muscat China, RI Aman?

Jakarta - Kepala Badan Pangan Nasional/National Food Agency (NFA) Arief Prasetyo Adi buka suara...