Banyumas Raya

Jakarta – Penularan Hepatitis dari Ibu ke anak atau secara vertikal memiliki kemungkinan sekitar 90 persen hingga 95 persen. Hal itu mendasari Kemenkes memprioritaskan deteksi dini hepatitis B pada Ibu hamil.
Deteksi dini hepatitis B pada ibu hamil akan dikerjakan di Indonesia pada 2013, dimulai dari DKI Jakarta dan selalu berkembang ke provinsi yang lain di tahun-tahun berikutnya. Sejak 2016, pemeriksaan hepatitis dikerjakan dengan Rapid Diagnostic Test (RDT) Hepatitis B surface Antigen (HBsAg).
Berdasarkan Sistem Informasi Hepatitis dan Penyakit Infeksi Saluran Pencernaan (SIHEPI) 2018-2019 jumlah ibu hamil yg diperiksa hepatitis B sebanyak 1. 643.204 di 34 provinsi. Hasilnya, sebanyak 30.965 ibu hamil reaktif (terinfeksi virus hepatitis B), dan 15.747 bayi baru lahir dari ibu rekatif hepatitis B sudah diberikan Imunoglobulin Hepatitis B (HBIg).
Pemberian HBIg dikerjakan bagi meningkatkan upaya perlindungan pada bayi agar terhindar dari hepatitis B yg ditularkan dari ibunya. Tahun 2019 hingga Juni, ibu hamil yg sudah diperiksa sebanyak 490.588 orang dengan 9.509 reaktif HBsAg. Dari pemeriksaan itu diketahui 4.559 bayi sudah diberi HBIg kurang dari 24 jam serta imunisasi rutin dan sudah terlindung penularan virus hepatitis B dari ibunya.
Pencegahan penularan hepatitis B dari Ibu ke bayi dikerjakan dengan vaksinasi HB0 setelah bayi lahir kurang dari 24 jam. Sementara pada bayi lahir dari Ibu hepatitis B langsung beri Imunoglobulin Hepatitis B (HBIg) kurang dari 24 jam.
Peradangan hati atau hepatitis disebabkan oleh virus hepatitis, perlemakan, parasite (malaria, ameba), alkohol, obat-obatan, dan virus yang lain (dengue, herpes).
Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung, dr. Wiendra Waworuntu, M.Kes menyampaikan cara penularannya bagi hepatitis A dan hepatitis E melalui kotoran atau mulut.
“Cara penularan hepatitis A melalui kotoran, kalau ada orang membuang tinja sembarang, kemudian tak cuci tangan pakai sabun dan menyentuh makanan dia mampu terinfeksi hepatitis akut, dia dapat menjadi carier sampai selesai masa inkubasi sekitar 50 hari,” katanya di gedung Kemenkes, Jakarta, baru – baru ini.
Sementara hepatitis B, C, dan D melalui kontak cairan tubuh (Ibu ke anak, anak ke anak atau dari dewasa ke anak, transfusi darah dan organ yg tak diskrining, penggunaan jarum yg tak aman, hubungan seksual, serta kontak dengan darah).(tka)
Sumber: http://gayahidup.inilah.com
BanyumasRaya.com

