Mohon tunggu, konten utama Anda akan muncul dalam 5 detik...
JAKARTA, BanyumasRaya.com – Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) hingga menembus level Rp18.100 pada perdagangan Senin (26/10/2026). Arus keluar modal asing dari pasar keuangan domestik menjadi salah satu faktor yang disoroti di tengah meningkatnya ketidakpastian global dan kekhawatiran investor terhadap kondisi pasar modal Indonesia.
Berdasarkan data Bank Indonesia, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) pada 26 Oktober 2026 berada di level Rp18.116 per dolar AS, melemah dibandingkan posisi Rp18.069 pada Jumat (23/10/2026). Sementara itu, data pasar spot yang dikutip sejumlah media menunjukkan rupiah sempat bergerak hingga kisaran Rp18.130 per dolar AS pada perdagangan hari yang sama. <Cite refs={[“turn907576search0″,”turn557887search5″,”turn557887search6”]}/>
Tenaga Ahli Utama Badan Komunikasi Pemerintah, Fithra Faisal, menyebut derasnya arus modal asing yang keluar sebagai salah satu pemicu tekanan terhadap rupiah. Kondisi tersebut mencerminkan perubahan sikap investor di tengah sejumlah perkembangan ekonomi global dan domestik.
Sejumlah Faktor Menekan Rupiah
Pelemahan rupiah dipengaruhi kombinasi faktor eksternal dan domestik. Salah satunya adalah kenaikan imbal hasil surat utang pemerintah Amerika Serikat yang dapat meningkatkan daya tarik aset berbasis dolar AS bagi investor global.
Ketika imbal hasil aset di Amerika Serikat meningkat, sebagian investor dapat mengalihkan dana dari pasar negara berkembang menuju instrumen yang dinilai lebih menarik atau memiliki risiko lebih rendah. Perpindahan modal tersebut berpotensi meningkatkan permintaan dolar AS sekaligus menambah tekanan terhadap mata uang negara asal dana yang keluar.
Selain itu, arus keluar modal asing dari pasar saham Indonesia turut menjadi perhatian. Penjualan saham oleh investor asing dapat memengaruhi sentimen pasar dan meningkatkan kebutuhan konversi rupiah ke mata uang asing, meskipun dampak akhirnya bergantung pada transaksi dan kondisi pasar secara keseluruhan.
Faktor lain yang menjadi sorotan adalah pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengenai usulan perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia dari emerging market menjadi standalone market.
Usulan MSCI Tambah Ketidakpastian Pasar
Pada 15 Oktober 2026, MSCI mengumumkan konsultasi mengenai usulan reklasifikasi indeks saham Indonesia. Lembaga penyedia indeks global tersebut menyoroti persoalan transparansi struktur kepemilikan saham, dugaan praktik perdagangan terkoordinasi, serta kebutuhan bukti bahwa reformasi tata kelola pasar modal telah memberikan dampak yang nyata. <Cite refs={[“turn907576search4″,”turn907576search5”]}/>
Usulan tersebut belum menjadi keputusan final. MSCI menyatakan akan menerima masukan dari pelaku pasar hingga 30 April 2027 dan mengumumkan keputusan paling lambat 30 Juni 2027.
Meski demikian, rencana perubahan klasifikasi itu telah menambah ketidakpastian bagi investor yang menjadikan indeks MSCI sebagai salah satu acuan dalam menyusun portofolio investasi. Apabila reklasifikasi akhirnya diterapkan, alokasi investasi dari sebagian pengelola dana global berpotensi berubah.
Situasi tersebut membuat pelaku pasar mencermati langkah pemerintah dan otoritas pasar modal untuk memperbaiki transparansi, tata kelola, serta kualitas informasi mengenai kepemilikan saham.
Pemerintah dan Bank Indonesia Pantau Pergerakan Rupiah
Pemerintah menyatakan koordinasi dengan otoritas moneter terus dilakukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Bank Indonesia juga menegaskan akan tetap berada di pasar guna memantau dinamika transaksi dan pergerakan rupiah.
Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, menyampaikan bahwa pergerakan nilai tukar turut ditentukan oleh dinamika permintaan dan penawaran di pasar keuangan. Pernyataan tersebut disampaikan ketika rupiah berada di bawah tekanan pada perdagangan Senin (26/10/2026). <Cite refs={[“turn557887search7”]}/>
Koordinasi kebijakan menjadi penting karena pergerakan rupiah tidak hanya ditentukan oleh kondisi domestik. Arah kebijakan moneter Amerika Serikat, penguatan dolar, perkembangan geopolitik, harga minyak dunia, dan arus modal internasional turut memengaruhi pergerakan nilai tukar.
Bank Indonesia perlu menjaga stabilitas rupiah dengan mempertimbangkan kondisi pasar, inflasi, likuiditas, serta kebutuhan menjaga kestabilan ekonomi secara keseluruhan.
Fithra Faisal Menilai Tekanan Berpotensi Sementara
Fithra Faisal meyakini tekanan terhadap rupiah berpotensi bersifat sementara. Namun, perkembangan selanjutnya tetap bergantung pada kondisi pasar global, respons investor terhadap reformasi pasar modal Indonesia, dan efektivitas koordinasi kebijakan pemerintah bersama otoritas moneter.
Pandangan tersebut perlu dipahami sebagai penilaian, bukan kepastian bahwa rupiah akan segera menguat. Selama arus keluar modal asing dan ketidakpastian pasar masih berlangsung, pergerakan rupiah berpotensi tetap fluktuatif.
Investor juga akan mencermati perkembangan kebijakan suku bunga Amerika Serikat serta langkah konkret untuk memperkuat kepercayaan terhadap pasar modal domestik.
Dampak Pelemahan Rupiah bagi Masyarakat
Pelemahan rupiah dapat memengaruhi perekonomian melalui sejumlah jalur. Biaya impor barang, bahan baku industri, energi, dan komponen produksi yang dibayar dalam dolar AS berpotensi meningkat apabila kurs bertahan pada level yang lebih lemah.
Kenaikan biaya tersebut dapat diteruskan ke harga barang dan jasa, bergantung pada besarnya komponen impor, kemampuan perusahaan menyerap biaya, serta kondisi permintaan konsumen. Perusahaan yang memiliki kewajiban utang dalam dolar AS juga dapat menghadapi beban pembayaran yang lebih besar jika pendapatannya terutama dalam rupiah dan tidak memiliki perlindungan nilai tukar yang memadai.
Di sisi lain, eksportir yang menerima pendapatan dalam dolar AS dapat memperoleh nilai konversi rupiah lebih besar. Namun, manfaat tersebut bergantung pada struktur biaya, kebutuhan bahan baku impor, dan kondisi perdagangan masing-masing perusahaan.
Karena itu, pelemahan nilai tukar tidak memberikan dampak yang sama bagi seluruh sektor ekonomi.
Pasar Menanti Perkembangan Berikutnya
Rupiah yang menembus Rp18.100 per dolar AS menunjukkan besarnya tekanan yang sedang dihadapi pasar keuangan Indonesia. Arus modal asing, arah kebijakan moneter Amerika Serikat, perkembangan geopolitik, dan ketidakpastian terkait klasifikasi MSCI menjadi sejumlah faktor yang perlu dipantau.
Pemerintah dan Bank Indonesia terus menghadapi tantangan untuk menjaga stabilitas nilai tukar sekaligus mempertahankan kepercayaan investor. Sementara itu, perkembangan reformasi pasar modal Indonesia akan menjadi salah satu perhatian pelaku pasar dalam beberapa bulan mendatang.
Arah rupiah berikutnya akan bergantung pada perkembangan faktor eksternal dan domestik tersebut. Dengan demikian, keyakinan bahwa tekanan hanya bersifat sementara tetap perlu diuji oleh data pasar dan perkembangan ekonomi selanjutnya.


