Mohon tunggu, konten utama Anda akan muncul dalam 5 detik...
JAKARTA – Erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda membuat sebaran material vulkanik meluas ke sejumlah wilayah Pulau Jawa dan Sumatra. Selain abu vulkanik, pemantauan atmosfer juga menunjukkan adanya sebaran sulfur dioksida (SO₂) yang bergerak mengikuti kondisi angin.
Pada Senin (7/9/2026), Badan Geologi memastikan aktivitas Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III atau Siaga. Pemantauan terbaru menunjukkan gunung api tersebut masih mengalami erupsi Strombolian.
Abu Vulkanik Menyebar ke Sejumlah Wilayah
Berdasarkan pemantauan BMKG, abu vulkanik dari Anak Krakatau pada lapisan permukaan hingga ketinggian sekitar 15.000 kaki (4,57 kilometer) bergerak ke arah barat daya hingga barat laut.
Sebarannya mencakup sebagian wilayah:
- Banten
- Jawa Barat bagian barat dan selatan
- Lampung
- Bengkulu
- Perairan di sekitar wilayah tersebut
Pada lapisan atmosfer yang lebih tinggi, hingga sekitar 50.000 kaki (15,24 kilometer), sebaran abu terpantau meluas ke Samudra Hindia di sebelah barat hingga barat daya Bengkulu, Lampung, dan Banten.
Kondisi tersebut juga berdampak langsung terhadap penerbangan. BMKG melaporkan delapan bandara di Jawa dan Sumatra sempat ditutup sementara akibat keberadaan abu vulkanik di udara.
SO₂ Terdeteksi hingga Jawa Tengah
Selain abu, perhatian juga tertuju pada sulfur dioksida (SO₂) yang dilepaskan selama aktivitas vulkanik.
Pemantauan citra atmosfer menunjukkan sebaran SO₂ dari Anak Krakatau bergerak mengikuti pola angin dan terdeteksi hingga wilayah Jawa Tengah.
Namun, keberadaan SO₂ pada citra atmosfer tidak otomatis berarti masyarakat di seluruh wilayah yang berada di bawah jalur sebaran mengalami paparan berbahaya di permukaan.
Tingkat paparan sangat bergantung pada konsentrasi gas, ketinggian sebaran, arah serta kecepatan angin, dan kondisi atmosfer setempat.
Apa Bahaya Gas SO₂?
Sulfur dioksida merupakan salah satu gas vulkanik yang dapat mengiritasi mata dan saluran pernapasan.
Paparan dalam konsentrasi tertentu dapat menimbulkan gejala seperti batuk, iritasi tenggorokan, serta gangguan pernapasan. Kelompok yang memiliki penyakit pernapasan juga dapat lebih rentan terhadap paparan gas tersebut.
Karena itu, masyarakat di wilayah yang terdampak material erupsi disarankan mengikuti informasi kualitas udara dan perkembangan sebaran abu dari instansi resmi.
Anak Krakatau Masih Berstatus Siaga
Badan Geologi pada evaluasi 7 September 2026 mencatat aktivitas vulkanik Anak Krakatau masih berlangsung.
Dalam periode 6–7 September, tercatat 3 gempa erupsi, 9 gempa hembusan, 93 gempa low frequency, 98 gempa hybrid/fase banyak, 4 tremor menerus, dan 1 gempa vulkanik dangkal. Energi aktivitas yang tercermin dari RSAM sempat meningkat pada 5 September, kemudian menurun pada 6 September.
Badan Geologi juga menyatakan episode erupsi menerus yang berlangsung sekitar 25 jam telah berakhir pada 6 September. Setelah itu, aktivitas kembali terpantau dalam bentuk erupsi Strombolian.
Status Gunung Anak Krakatau tetap Level III (Siaga).
Warga Diminta Menjauhi Radius 3 Kilometer
Badan Geologi melarang masyarakat, wisatawan, maupun pendaki melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Masyarakat juga diminta mewaspadai potensi lontaran batu pijar, lava, awan panas, serta hujan abu lebat. Bagi warga yang terdampak abu vulkanik, penggunaan masker dan pengurangan aktivitas di luar rumah dianjurkan untuk mengurangi paparan.
Sementara itu, masyarakat di pesisir Banten dan Lampung diminta tetap tenang dan tidak mempercayai informasi yang tidak berasal dari sumber resmi mengenai potensi tsunami.
Tidak Terdeteksi Anomali Tsunami
BMKG sebelumnya menyatakan pemantauan multi-sensor InaTEWS di sekitar Selat Sunda tidak mendeteksi anomali muka laut yang mengindikasikan tsunami terkait rangkaian erupsi Anak Krakatau.
BMKG juga terus memantau kondisi laut dan atmosfer di sekitar Selat Sunda untuk mengantisipasi perubahan situasi.
Masyarakat Diminta Tidak Panik
Masyarakat yang berada di wilayah terdampak abu vulkanik diimbau tetap tenang, tetapi meningkatkan kewaspadaan.
Jika harus beraktivitas di luar ruangan saat terjadi paparan abu, masyarakat dianjurkan menggunakan masker dan pelindung mata, serta mengurangi paparan langsung.
Informasi mengenai aktivitas Gunung Anak Krakatau sebaiknya diperoleh melalui kanal resmi PVMBG/Badan Geologi, BMKG, BNPB, dan pemerintah daerah, karena arah serta luas sebaran abu maupun gas vulkanik dapat berubah mengikuti kondisi atmosfer.


