Mohon tunggu, konten utama Anda akan muncul dalam 5 detik...
JAKARTA – Pemerintah mengungkap penyebab meninggalnya lima calon manajer Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih yang mengikuti pelatihan dasar militer (Latsarmil) dalam program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI). Menyusul insiden tersebut, Kementerian Pertahanan memutuskan menghapus pelatihan militer dan menggantinya dengan pendidikan Bela Negara.
Penjelasan tersebut disampaikan Wakil Menteri Pertahanan (Wamenhan) Marsekal TNI Donny Ermawan Taufanto dalam rapat bersama Komisi I DPR RI.
Lima peserta yang meninggal dunia adalah:
- Yonanda Muhammad Taufiq
- Anisa Muyassaroh
- Novia Rahmadhani Sihotang
- Muhammad Rifki Renaldi Gunawan
- Nola Dya Sari
Penyebab Kematian Berbeda-beda
Donny menjelaskan bahwa hasil evaluasi sementara menunjukkan kelima peserta meninggal karena penyebab yang berbeda.
Menurutnya, salah satu faktor yang memengaruhi adalah kelelahan akibat perubahan pola hidup secara drastis, dari kehidupan sipil menuju lingkungan pendidikan berdisiplin tinggi di barak militer.
“Sebagian mengalami kelelahan dan harus beradaptasi dengan pola hidup yang sangat berbeda dari kehidupan sebelumnya,” ujarnya.
Penyakit Jantung dan Gangguan Paru-paru
Selain faktor adaptasi, pemerintah mengungkap sebagian peserta memiliki penyakit bawaan yang kemudian memburuk selama mengikuti pendidikan.
Dari lima korban meninggal:
- Tiga orang meninggal akibat gangguan jantung.
- Dua orang meninggal akibat penyakit paru-paru.
Kasus gangguan paru-paru seluruhnya terjadi di pusat pendidikan Halim, Jakarta. Sementara kasus penyakit jantung terjadi di lokasi pendidikan Baturaja, Balikpapan, dan Singkawang.
Menurut Donny, saat proses seleksi kesehatan memang ditemukan beberapa peserta memiliki riwayat penyakit, namun masih dinilai memenuhi syarat mengikuti pendidikan.
Faktor Cuaca Ikut Berpengaruh
Wamenhan juga menyebut kondisi cuaca menjadi salah satu faktor yang memperburuk kondisi kesehatan sebagian peserta.
Menurutnya, kombinasi antara kondisi fisik yang terbatas, aktivitas pendidikan, dan faktor lingkungan diduga menyebabkan kondisi kesehatan peserta menurun hingga berujung meninggal dunia.
Pemerintah Bentuk Tim Investigasi
Untuk memastikan penyebab kematian secara menyeluruh, Kementerian Pertahanan bersama Kementerian Kesehatan telah membentuk tim investigasi gabungan.
Tim tersebut akan menelusuri seluruh aspek penyelenggaraan pelatihan, termasuk prosedur pemeriksaan kesehatan, pelaksanaan pendidikan, hingga penanganan medis terhadap peserta.
Pemerintah menyatakan hasil investigasi akan menjadi dasar evaluasi terhadap program pelatihan berikutnya.
Latihan Militer Dihapus
Sebagai tindak lanjut atas evaluasi tersebut, Kementerian Pertahanan memutuskan mengubah konsep pelatihan calon manajer Kopdes.
Pelatihan dasar militer dihapus dan diganti menjadi pendidikan Bela Negara.
Dengan perubahan itu, para peserta tidak lagi dipersiapkan menjadi Komponen Cadangan (Komcad).
Mereka juga tidak akan menerima materi latihan militer seperti penggunaan senjata maupun taktik kemiliteran.
Selain perubahan materi, durasi pendidikan juga dipersingkat.
Jika sebelumnya pelatihan berlangsung selama satu bulan, kini pendidikan Bela Negara hanya dilaksanakan selama dua minggu.
Keluarga Korban Terima Santunan
Pemerintah juga menyiapkan santunan bagi keluarga peserta yang meninggal dunia.
Kementerian Pertahanan memberikan santunan sebesar Rp50 juta kepada masing-masing keluarga korban.
Selain itu, keluarga juga akan memperoleh santunan dari BPJS Ketenagakerjaan, dengan nilai yang masih dalam proses penetapan sesuai ketentuan dan penyebab kematian masing-masing peserta.
Pemerintah menyatakan seluruh hak peserta akan dipenuhi sembari menunggu hasil akhir investigasi terkait insiden tersebut.


