Kasus dugaan keracunan makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Tegalombo, Kabupaten Pacitan, terus meluas. Tidak hanya siswa, dua guru di SMPN 1 Tegalombo juga dilaporkan mengalami gejala serupa.
Berdasarkan data sekolah, sedikitnya 17 siswa dan dua guru mengalami keluhan kesehatan setelah mengonsumsi makanan dari program tersebut. Beberapa di antaranya bahkan harus menjalani perawatan medis.
Gejala Seragam Usai Konsumsi Makanan
Gejala yang dialami korban relatif sama, meliputi:
- Mual
- Muntah
- Pusing
- Diare
Salah satu siswa sempat mendapatkan penanganan di Unit Gawat Darurat (UGD) RSUD Pacitan.
Perwakilan sekolah, Bambang Setyo Utomo, menyebut dugaan awal mengarah pada menu MBG yang dikonsumsi pada Selasa (7/4/2026).
“Itu kemungkinan menu MBG Selasa, karena setelah itu siswa tidak mengambil makanan,” ujarnya, Sabtu (11/4/2026).
Menu yang disajikan saat itu terdiri dari telur ayam, cah pokcoy, dan oseng tempe.
Guru Ikut Jadi Korban
Kasus ini semakin serius setelah dua guru juga mengalami gejala serupa. Salah satu guru dirawat di Ngawi, sementara lainnya menjalani perawatan di rumah sakit swasta di Pacitan.
Keterlibatan tenaga pendidik memperkuat dugaan bahwa sumber masalah berasal dari makanan yang dikonsumsi bersama.
Kasus Meluas hingga SD dan TK
Dugaan keracunan tidak hanya terjadi di tingkat SMP. Kasus serupa juga dilaporkan pada siswa TK dan SD di sejumlah desa di Kecamatan Tegalombo, seperti:
- Kebondalem
- Gedangan
- Ngreco
- Kemuning
- Tegalombo
Sejak 9–10 April 2026, belasan siswa dilaporkan mengalami gejala serupa dan harus menjalani perawatan.
Dugaan Gastroenteritis Akut
Kepala Dinas Kesehatan Pacitan, Daru Mustikoaji, mengatakan diagnosis awal mengarah pada gastroenteritis akut, yakni infeksi pada saluran pencernaan.
“Dugaan sementara keracunan, namun masih dalam pendalaman,” ujarnya.
Hasil Uji Lab Masih Ditunggu
Untuk memastikan penyebab pasti, Dinas Kesehatan telah mengirim sampel makanan ke Laboratorium Kesehatan Masyarakat di Surabaya.
Hasil uji laboratorium diperkirakan keluar dalam waktu 4–5 hari, sementara investigasi lapangan juga terus dilakukan, termasuk:
- Pengambilan sampel dari dapur penyedia MBG (SPPG)
- Pemeriksaan korban
- Kunjungan ke lingkungan tempat tinggal
Keluhan Muncul di Media Sosial
Kasus ini juga ramai diperbincangkan di media sosial. Sejumlah wali murid mengeluhkan kualitas makanan MBG yang diduga tidak layak konsumsi.
Salah satu unggahan bahkan menyebut makanan berbau tidak sedap dan menyebabkan siswa dipulangkan lebih awal hingga harus dirawat.
Kesaksian Wali Murid
Salah satu korban, Viki Alzanando Prastiyan (11), siswa SDN 1 Gedangan, masih menjalani perawatan di RSU Medical Mandiri Pacitan.
Keluarga korban menyebut gejala muncul beberapa jam setelah makan.
“Ada yang bilang makanannya bau kecut, seperti hampir basi,” kata Elvina Citra Sari, kerabat korban.
Diminta Evaluasi Menyeluruh
Keluarga korban tidak menuntut ganti rugi, namun meminta adanya evaluasi menyeluruh terhadap pengelolaan program MBG, khususnya pada dapur penyedia makanan.
Hingga saat ini, pihak pengelola dapur MBG dari SPPG Sejahtera Kebondalem belum memberikan keterangan resmi.
Kasus dugaan keracunan MBG di Pacitan kini berkembang menjadi kejadian berskala wilayah, melibatkan siswa hingga guru. Pemerintah daerah masih menunggu hasil uji laboratorium untuk memastikan penyebab pasti, sementara desakan evaluasi terhadap sistem distribusi dan kualitas makanan semakin menguat.

