Jakarta — Lonjakan harga plastik akibat gejolak geopolitik global mulai berdampak pada pelaku usaha, khususnya sektor UMKM makanan dan minuman. Pemerintah pun menyiapkan strategi komprehensif untuk menjaga stabilitas pasokan sekaligus mendorong transformasi industri ke arah yang lebih berkelanjutan.
Menteri UMKM Maman Abdurrahman mengatakan ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan baku plastik masih cukup tinggi, yakni mencapai 55 persen. Dari jumlah tersebut, sekitar 70 persen distribusi nafta—bahan utama plastik—melewati jalur Selat Hormuz yang saat ini terdampak konflik geopolitik.
“Kondisi ini mendorong kenaikan harga plastik secara signifikan dan berdampak langsung ke pelaku usaha,” ujar Maman dalam keterangannya, Jumat (10/4/2026).
Diversifikasi Pasokan Jadi Langkah Cepat
Untuk mengantisipasi gangguan pasokan, pemerintah menyiapkan langkah jangka pendek dengan membuka alternatif sumber bahan baku dari kawasan yang lebih stabil, seperti:
- Afrika
- India
- Amerika
Proses administrasi impor dari wilayah tersebut saat ini tengah dipercepat agar distribusi bahan baku dapat segera berjalan normal.
Kurangi Ketergantungan Impor
Selain langkah jangka pendek, pemerintah juga mendorong strategi jangka panjang berupa diversifikasi sumber bahan baku guna mengurangi ketergantungan terhadap wilayah berisiko tinggi.
Langkah ini dinilai penting untuk memperkuat ketahanan industri nasional di tengah ketidakpastian global.
Bioplastik Jadi Solusi Alternatif
Di sisi lain, pemerintah mulai mendorong penggunaan bahan baku alternatif berbasis sumber daya lokal untuk menggantikan plastik berbahan nafta.
Beberapa bahan yang dinilai potensial antara lain:
- Bambu
- Rumput laut
- Singkong
Bahan-bahan tersebut dapat diolah menjadi bioplastik, yang lebih ramah lingkungan sekaligus mendukung industri hijau.
“Ini bukan hanya solusi atas krisis pasokan, tetapi juga peluang membangun industri berbasis potensi lokal,” kata Maman.
Potensi Besar, Tantangan Masih Ada
Maman menyebut pemanfaatan rumput laut dan singkong sebagai bahan bioplastik sebenarnya sudah mulai dilakukan oleh pelaku usaha, bahkan sebagian telah menembus pasar ekspor.
Namun, keterbatasan pasar membuat biaya produksi masih relatif tinggi.
Dengan meningkatnya permintaan melalui dukungan kebijakan, pemerintah berharap:
- Skala produksi meningkat
- Biaya produksi turun
- Industri bioplastik menjadi lebih kompetitif
Dukungan Kebijakan Disiapkan
Pemerintah juga tengah mengkaji sejumlah kebijakan pendukung, antara lain:
- Subsidi penggunaan bioplastik
- Penguatan rumah kemasan bersama
- Edukasi pengurangan penggunaan plastik
- Pelatihan dan pendampingan UMKM
Langkah ini diharapkan mampu mempercepat transisi menuju penggunaan kemasan ramah lingkungan.
Peran Masyarakat Diperlukan
Selain dari sisi industri, pemerintah juga mengimbau masyarakat untuk turut berperan aktif dengan:
- Mengurangi penggunaan plastik sekali pakai
- Meningkatkan praktik daur ulang
Kenaikan harga plastik akibat konflik geopolitik menjadi momentum bagi Indonesia untuk memperkuat ketahanan industri sekaligus beralih ke bahan baku yang lebih berkelanjutan. Diversifikasi pasokan dan pengembangan bioplastik dinilai menjadi langkah strategis untuk menghadapi tantangan global ke depan.

