Jumlah kunjungan wisatawan ke Kabupaten Wonosobo selama masa libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025–2026 tercatat mengalami penurunan dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Penurunan tersebut diperkirakan berada di kisaran 20 persen.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Wonosobo, Fahmi Hidayat, menyampaikan bahwa tren penurunan kunjungan tidak hanya terjadi di daerahnya, tetapi juga selaras dengan kondisi pariwisata secara nasional.
“Secara nasional memang terjadi penurunan. Untuk Wonosobo, perkiraannya sekitar 20 persen,” ujar Fahmi, Jumat (2/1/2026).
Berdasarkan data sementara Disparbud Wonosobo, jumlah kunjungan wisatawan pada periode 20 Desember 2025 hingga 1 Januari 2026 mencapai 117.857 orang. Jumlah tersebut terdiri atas 204 wisatawan mancanegara dan 117.653 wisatawan nusantara.
Fahmi menjelaskan bahwa data tersebut masih bersifat sementara karena belum seluruh pengelola daya tarik wisata (DTW), khususnya yang dikelola swasta, menyampaikan laporan kunjungan secara lengkap.
“Ini masih data sementara. Masih ada DTW yang belum menyerahkan laporan kunjungan,” jelasnya.
Menurut Fahmi, penurunan jumlah wisatawan dipengaruhi oleh sejumlah faktor. Selain kondisi ekonomi nasional yang sedang melambat, kebijakan efisiensi anggaran di awal pemerintahan Presiden Prabowo Subianto turut berdampak pada mobilitas dan aktivitas perjalanan masyarakat.
Faktor cuaca juga dinilai berperan cukup signifikan. Cuaca ekstrem yang terjadi menjelang akhir tahun, ditambah berkurangnya kunjungan wisata rombongan sekolah dari Jawa Barat akibat adanya edaran dari KDM, turut menekan angka kunjungan.
“Wisata rombongan sekolah dari Jawa Barat ke Wonosobo dan Dieng memang berkurang cukup signifikan. Namun secara umum, kawasan Dieng dan Wonosobo masih tergolong ramai,” ujarnya.
Selain itu, Fahmi juga menyinggung pengaruh pemberitaan dan konten media sosial yang menyoroti kejadian luapan drainase dan banjir lokal di beberapa titik di Kecamatan Garung. Konten tersebut sempat memengaruhi persepsi calon wisatawan, meskipun kejadian tersebut bersifat terbatas dan tidak meluas.
“Konten yang mengejar viral soal banjir lokal sempat berdampak pada minat kunjungan, padahal kondisinya tidak terjadi secara luas,” katanya.
Meski demikian, Fahmi menegaskan bahwa Kabupaten Wonosobo tetap aman untuk dikunjungi. Ia mengingatkan wisatawan agar tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap kondisi cuaca dan memanfaatkan informasi resmi yang tersedia.
“Pada prinsipnya Wonosobo aman untuk dikunjungi. Namun wisatawan tetap perlu waspada, memantau informasi BMKG, serta memanfaatkan CCTV publik yang dapat diakses,” pesannya.
Ia juga mengimbau para pengelola objek wisata agar terus memberikan pelayanan terbaik sesuai dengan arahan dan surat edaran dari Kementerian Pariwisata, Gubernur Jawa Tengah, serta Bupati Wonosobo.
Sebagai tambahan daya tarik, Fahmi menyebutkan bahwa akses Jalan Lingkar Sumbing (Jalingsum) segmen Wonosobo kini sudah dapat dilalui dari wilayah Reco menuju Bowongso, Kumbaran, hingga Kalikajar. Keberadaan jalur tersebut diharapkan dapat mendukung kelancaran pergerakan wisatawan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi lokal.
“Silakan menikmati potensi wisata, budaya, dan ekonomi kreatif Wonosobo yang terus berkembang,” pungkasnya.


