Banyumas Raya
JAKARTA, – Rancangan Peraturan Presiden (Perpres) Percepatan Program Kendaraan Bermotor Lisrik difokuskan pada kendaraan berbasis baterai atau listrik penuh. Harapannya agar Indonesia benar-beanr memiliki industri otomotif nasional sendiri, khususnya bagi kendaraan listrik berbasis baterai.
Dalam Perpres yg dijadwalkan bersiap bagi disahkan pada Februari 2019 tersebut, pemerintah juga telah membuat rancangan kemudahan melalui beragam insentif yg bersiap diberikan. Termasuk soal percepatan infrastruktur sebagai sarana pendukung.
Menurut Penasihat Khusus Menteri Kordinator Bidang Kemaritiman (Menko Maritim) Satriyo S Brodjonegoro, persiapan buat menuju industri kendaraan listrik nasional telah dikerjakan sejak 2012 melalui penelitan yg dikerjakan lima perguruang tinggi. Namun bagi memasuki tahap produksi, dibutuhkan perusahaan yg benar-benar siap.
Baca juga: Perpres Kendaraan Listrik Tak Berlaku bagi Hybrid
“Ada lima perguruan tinggi yg telah melakukan penelitian, tetapi mereka ini bukan pabrik dan pebisnis, jadi tugas selanjutnya bagi produksi itu ke industri. Ditargetkan mampu produski massal (kendaraan listrik nasional) pada 2020,” ujar Satryo di Tangerang, Rabu (30/1/2019).
Lima perguruan tinggi yg dimaksud adalah Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, Universitas Gajah Mada, Universitas Sebelas Maret, dan ITS. Selain itu, penelitian juga telah dikerjakan oleh dua pihak, seperti Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).
BLITS, mobil listrik Indonesia bagi ikut Reli DakarDengan kucuran dana dari pemerintah bagi pengembangan sebesar Rp 10 juta dollar Amerika Serikat, serta kolaborasi industri seperti Pertamina, PLN, Pindad, serta lainnya, ketika ini telah ada dua model yg dilahirkan. Namun model-model kendaraan listrik tersebut masih dalam bentuk prototipe serta uji coba.
Baca juga: Rencana Insentif Kendaraan Listrik, Bebas Biaya Parkir
Langkah percepatan produksi kendaraan bermotor listrik berbasis baterai, telah diawali dengan pembangunan pabrik material baterai di Morowali pada 11 Januari 2018 lalu, Langkah selanjutnya dikerjakan dengan mengundang investor pabrik baterai buat membangun pabrik di Tanah Air.
“Kita undang para investor yg mau buka pabrik di Indonesia, baik motor atau mobil listrik berbasis baterai. Untuk motor listrik nilai investasi buat kapasitas produksi 120.000 unit per tahun sebesar Rp 750 miliar sampai Rp 1 triliun, sementara buat mobil dalam membangun pabrik di Indonesia nilai investasi buat kapasitas produksi 60.000 unit per tahun mencapai Rp 5 triliun,” ucap Satryo.
Sumber: http://otomotif.kompas.com
BanyumasRaya.com

