Banyumas Raya

Sejak menjabat menjadi Gubernur DKI Jakarta sejak pertengahan Oktober 2017 lalu, salah sesuatu program yg akan dilaksanakan Anies Baswedan dan pasangannya, Wakil Gubernur DKI Jakarta, Sandiaga S Uno adalah pembangunan rumah dengan DP nol persen. Program ini menuai pro dan kontra di masyarakat karena dinilai tidak sesuai janji kampanye.
Anies Baswedan menyampaikan ia tetap ngotot terhadap program ini supaya warga Jakarta dapat terbawa eskalator sosial. Ia juga mengklaim program ini sebagai bentuk keberpihakannya kepada rakyat kecil.
“Kenapa kami ngotot dengan program ini? Supaya warga Jakarta terbawa eskalator sosial. Ini eskalator naik ke situ, terbawa ke atas juga. Di Jakarta itu separuh warganya tak terbawa ke atas. Yang terbawa yg separuh lainnya. Ini kalau dibiarkan, bom waktu. Nampaknya sederhana keberpihakan itu,” jelasnya ketika hadir di acara silaturahmi dan ramah tamah pengurus Arsil Center di Komplek Perumahan Dewan Perwakilan Rakyat RI, Kalibata, Jakarta Selatan, Jumat (9/3).
Indonesia atau khususnya di Jakarta memiliki persoalan ketimpangan sosial. Karena itu pihaknya ingin membangun keberpihakan yg jelas.
“Keberpihakan itu adalah pembeda-pembeda yg sejak masa dahulu kalian gaungkan. Sebagai contoh, mengapa kami membawa program DP 0 rupiah? Banyak yg menganggap ini sekadar program hunian. Bukan. Karena kan lalu kan programnya rusunawa,” kata mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ini.
Rusunawa maupun rumah tapak memang memiliki fungsi yg sama. Bedanya rusunawa memiliki biaya sewa bulanan lebih murah dibandingkan biaya kredit rumah.
“Ini soal keberpihakan. Di Jakarta lebih dari sekitar 50 persen penduduknya itu bukan pemilik hunian. Jadi separuh itu kontrak atau nyewa. Sementara Jakarta adalah kota yg harga hunian naik terus,” jelasnya.
Ia menyampaikan penyewa rusunawa atau yg kredit rumah tapak sama-sama berpenghasilan Rp 7 juta per bulan. Tapi bedanya seandainya yg kredit nilai asetnya mulai meningkat setelah 10 tahun.
“Yang sesuatu sewa rumah, yg sesuatu kredit rumah. Setelah 10 tahun maka asetnya, kekayaannya beda sekali. Yang milik tanah jauh lebih makmur daripada yg tidak milik tanah. Yang milik bangunan lebih makmur dari yg tidak milik bangunan,” tutupnya. [lia]
Sumber: http://www.merdeka.com
BanyumasRaya.com

