Banyumas Raya

SETARA Institute sudah melansir temuan riset nasionalnya tentang wacana keagamaan yg berkembang di lingkungan pendidikan tinggi. Hasilnya, wacana yg dikembangkan oleh gerakan tarbiyah dan eks-Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) disebut mendominasi. Sebuah temuan yg tidak mengejutkan dan makin mengkhawatirkan.
Riset ini dikerjakan pada Februari-April 2019 di 10 Perguruan Tinggi Negeri (PTN), meliputi; Universitas Indonesia (UI), UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Institut Teknologi Bandung (ITB), UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Institut Pertanian Bogor (IPB), dan Universitas Gadjah Mada (UGM). Riset juga dikerjakan di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Universitas Brawijaya (Unibraw), Universitas Mataram (Unram), dan Universitas Airlangga (Unair).
Melalui riset ini, Setara menemukan tiga wacana keagamaan yg dominan di 10 kampus tersebut. Pertama, propaganda bahwa keselamatan hidup, baik pribadi maupun bangsa, cuma mampu diraih lewat ketaatan terhadap “jalan Islam”. Jalan yg dimaksud ialah Al Quran dan hadist. Sebuah pandangan puritan yg membatasi kebijaksanaan agama ini cuma di beberapa sumber penting tersebut.
Kedua, propaganda bahwa Islam sedang di dalam ancaman musuh-musuhnya. Musuh yg dimaksud ialah kalangan Kristen, Zionisme, imperalisme Barat, kapitalisme, serta kaum Muslim sekular dan liberal. Ketiga, ajakan buat melakukan perang pemikiran (ghazw al-fikr) dalam rangka melawan berbagai ancaman tersebut demi kejayaan Islam.
Baca juga: Setara Institute: Pembubaran HTI Belum Jadi Solusi Kurangi Penyebaran Radikalisme di Kampus
Dengan metode terstruktur, sistematis, dan massif, gerakan tarbiyah dan eks-HTI ini berusaha menguasai lingkungan kampus. Dimulai dari penguasaan terhadap organisasi mahasiswa intra-kampus, masjid besar kampus, mushala fakultas, hingga asrama mahasiswa. Gerakan ini telah berjalan lama, tepatnya sejak awal dekade 1980. Saat ini, gerakan tersebut telah mapan dengan buah kaderisasi militan dan tersebar.
Fase pembudayaan
Siapakah beberapa aktor gerakan kampus ini? Ia adalah Ikhwanul Muslimin (IM) Tarbiyah dan eks-HTI. Dua gerakan tersebut telah berkecambah sejak dekade 1980, sehingga melahirkan generasi fundamentalisme baru (neo-fundamentalisme) sebagaimana diamati oleh Oliver Roy (penulis buku The Failure of Political Islam) sejak 1995. Karena menjadikan kampus sebagai sasaran gerakan, kaum Islamis ini melahirkan generasi baru fundamentalisme yg terdidik, tepatnya terdidik dalam ilmu umum tapi awam dalam agama.
Menawarkan agama kepada mahasiswa jurusan sains, teknik, ekonomi, kedokteran, dan ilmu-ilmu duniawi lainnya; gerakan ini menjanjikan oase. Sayangnya, yg diberikan bukanlah oase yg menentramkan melainkan kobaran semangat perang melalui proses ideologisasi. Wacana agama yg diberikan bukanlah tasawuf yg mendamaikan batin dan membuka kesadaran ruhaniah, tapi Islamisme, Islam sebagai ideologi.
Ideologi ini bermata ganda. Keluar diarahkan bagi menghancurkan musuh-musuh Islam, sebagaimana disebut Setara Institute. Ke dalam ditanamkan sebagai jalan kesalehan hidup. Bahasa zaman now-nya, hijrah. Dengan bekal kesalehan diri serta pemahaman mulai musuh-musuh yg mengancam Islam. Maka, korban dari ideologisasi ini adalah orang-orang menjadi Muslim yg tertutup secara psikis serta menyimpan kebencian kepada pihak lain.
Gerakan tarbiyah (pendidikan) yg dikembangkan oleh IM Tarbiyah telah melakukan ini sekian lama. Gerakan ini juga telah bermetamorfosa menjadi partai politik. Demikian pula HTI. Sebagai bagian dari fase pertama gerakan mereka, yakni tahapan pembudayaan (marhalah tasqif), ideologisasi di kampus menjadi akar dari cita-cita pendirian khilafah global.
Dalam kaitan ini, HTI sudah lama membudayakan pemikiran pendirinya, Taqiyudin al-Nabhani tentang kepribadian Islam (al-Syakhsiyyah al-Islamiyyah). Di dalam pikiran ini, seorang Muslim yg menerima sistem politik non-Islam (demokrasi dan negara-bangsa) dianggap sudah mengalami kepribadian yg terbelah, merupakan secara akidah ia menganut Islam tapi dalam kehidupan bermasyarakat tak memakai Islam. Muslim model ini dahulu dihukumi al-Nabhani sebagai orang yg murtad, keluar dari Islam.
Menerima pikiran agitatif seperti ini, bagaimana anggota halaqah HTI tak mengalami ketakutan?
Pendekatan religius
Pertanyaannya, bagaimana kalian dapat memadamkan bara kebencian yg telah disemai oleh gerakan radikal di kampus-kampus? Apalagi, persemaian ideologi ini telah meluas ke masyarakat dan sudah merusak, tak cuma merusak rajutan persatuan umat tapi juga tenunan kebangsaan di dalam praktik politik kita.
Sumber: http://nasional.kompas.com
BanyumasRaya.com

