Banyumas Raya

JAKARTA, – Tragedi penyiraman air keras terhadap penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mulai genap beberapa tahun pada 11 April 2019 mendatang.
Ketua Wadah Pegawai (WP) KPK Yudi Purnomo Harahap memandang, penanganan masalah Novel tidak kunjung menemui titik terang.
“Tuntutan pegawai KPK tetap, merupakan meminta Presiden buat mau membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta ( TGPF) Independen dibawah beliau (Joko Widodo),” kata Yudi dalam informasi pers, Rabu (10/4/2019).
Baca juga: Tim Gabungan Kasus Novel Baswedan Periksa Saksi dan Cek 4 Lokasi di Bekasi
Menurut Yudi, melalui pembentukan TGPF, Presiden Jokowi dapat memperlihatkan komitmennya dalam memberantas korupsi di Indonesia. Ia melihat pembentukan TGPF yaitu solusi penting bagi menghentikan teror terhadap jajaran KPK.
“Sekaligus solusi bahwa satu-satunya cara menghentikan teror kepada KPK adalah menangkap pelaku terornya,” ungkap dia.
Baca juga: Teror Mata Novel Baswedan, Tim Gabungan Periksa Saksi dan 3 Tempat di Malang
Penyidik KPK Novel Baswedan (kiri) bersama Ketua Wadah Pegawai KPK Yudi Purnomo (kanan) memberikan informasi kepada wartawan di dekat kediamannya, di Kelapa Gading, Jakarta, Minggu (17/6/2018). Wadah Pegawai KPK mendesak Presiden Joko Widodo membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) bagi mengungkap pelaku penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan.Ia menyesalkan perkara ini tidak kunjung terselesaikan. Yudi menjelaskan, telah banyak upaya teror terhadap jajaran KPK, akan dari pimpinan hingga ke pegawai.
“Walaupun teror selalu melanda, pegawai KPK konsisten selalu menangkapi para koruptor tanpa peduli risiko yg dihadapi,” kata dia.
Besok, Kamis (11/4/2019), WP KPK mulai memperingati beberapa tahun masalah Novel. WP KPK juga mulai mengundang berbagai pihak bagi ikut dalam peringatan beberapa tahun masalah Novel.
Baca juga: 700 Hari Penyerangan Novel, 180.000 Orang Dukung Petisi Pembentukan Tim Independen
“Pegawai KPK berterima kasih bagi semua masyarakat Indonesia. Karena itu mulai semakin menyemangati kalian dalam memberantas korupsi yg yaitu kejahatan luar biasa di negeri ini. Sehingga KPK mulai dapat mewujudkan Indonesia yg bersih dari korupsi,” kata dia.
Pada 11 April 2017, seusai melaksanakan shalat subuh di masjid tidak jauh dari rumahnya, Novel tiba-tiba disiram air keras oleh beberapa pria tidak dikenal yg mengendarai sepeda motor.
Baca juga: Desakan Penuntasan Kasus Novel Baswedan Dinilai Tak Ada Kaitan dengan Pilpres
Cairan itu mengenai wajah Novel. Kejadian itu berlangsung begitu cepat sehingga Novel tidak sempat mengelak. Tak seorang pun yg menyaksikan peristiwa tersebut.
Sejak ketika itu, Novel menjalani serangkaian pengobatan buat penyembuhan matanya.
Ia selalu menanti penuntasan kasusnya. Sebab, hingga ketika ini, polisi belum mampu mengungkap siapa dalang penyerangan tersebut.
Sumber: http://nasional.kompas.com
BanyumasRaya.com

