Banyumas Raya

Cianjur – Maraknya peredaran dan penyalahgunaan narkoba di tengah masyarakat Indonesia, memunculkan berbagai gerakan perang terhadap narkoba dari berbagai komponen bangsa.
Tak terkecuali dari para petugas kesehatan Indonesia. Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Bidang Kesehatan Tahun 2019, hari ini (29/3) mendeklarasikan gerakan anti narkoba. Deklarasi ini dilaksanakan di sela-sela aktivitas mereka mengikuti pelatihan kompetensi di Balai Besar Pelatihan Kesehatan (BBPK) Ciloto, Jawa Barat.
Deklarasi ditandai dengan pembubuhan tanda tangan oleh 303 orang peserta pelatihan PPIH bidang kesehatan 2019, perwakilan Pusat Kesehatan Haji, jajaran BBPK Ciloto, unsur Rumah Sakit Ketergantungan Obat (RSKO) Jakarta, perwakilan Batalion Kesehatan Marinir dan juga pengurus Dewan Pengurus Pusat Gerakan Indonesia Anti Narkoba (DPP GIAN).
Kepala Pusat Kesehatan Haji, Dr. dr. Eka Jusup Singka, MSc menyampaikan gerakan anti narkoba telah selayaknya tak cuma sebuah slogan tapi juga harus diimplementasikan secara konkrit. Deklarasi ini memperlihatkan komitmen yg kuat dari insan kesehatan melawan peredaran dan penyalahgunaan narkoba di Indonesia.
Tidak cuma itu, komitmen Kementerian Kesehatan juga ditunjukkan dalam proses rekrutmen petugas kesehatan haji Indonesia.
Semua yg melamar sebagai PPIH bidang kesehatan maupun Tim Kesehatan Haji Indonesia (TKHI) harus lulus tes napza (Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif).
“Sekitar 1.800 orang petugas kesehatan haji seluruhnya diperiksa Napza. Bagi yg dinyatakan positif mulai ditunda keberangkatannya,” jelas Eka, seperti yg dikutip dari siaran pers, Senin, (01/04/2019).
Kapuskeshaji juga meyakinkan bahwa komitmen dan gerakan ini murni bersifat kemanusiaan, demi kepentingan bangsa dan negara tanpa kepentingan kelompok tertentu atau politik sesaat.
Keseriusan komitmen melawan narkoba juga ditunjukkan oleh BBPK Ciloto sebagai penyelenggara pelatihan kompetensi PPIH bidang kesehatan.
Kedepan, sebagaimana harapan dari Kapuskeshaji, materi anti narkoba bisa dimasukkan ke dalam segala pelatihan kesehatan.
“Dulu kita sebagai pusat pelatihan napza dan HIV/AIDS. Sekarang perlu dibangkitkan lagi dengan metodologi yg baru,” kata dr. Tri Nugroho, MQIH, Kepala BBPK Ciloto.
“Saya anggap PPIH sebagai agent of change, perubahan bagi memberantas napza. Kami bersedia dan support gerakan ini,” imbuhnya.
Deklarasi ini diinisiasi oleh Kementerian Kesehatan dengan melibatkan Badan Narkotika Nasional (BNN) dan DPP GIAN.
Menurut Ketua Umum DPP GIAN, Guntur Eko Widodo, kehadiran mereka buat melengkapi elemen bangsa sebagai kontrol sosial.
“Kami bersinergi secara positif dan bermitra secara strategis dengan segala komponen bangsa. Mari kalian sama-sama menyampaikan tak pada narkoba,” pungkasnya.
“Ini adalah contoh konkrit aplikasi GERMAS oleh Pusat Kesehatan Haji Kemenkes yg sudah mengajak unsur masyarakat buat hidup sehat tanpa Narkoba,” tambahnya.
Kegiatan ini juga diisi dengan sosialisasi program anti narkoba dengan metode edutainment. Brigadir Jenderal Polisi dr. Victor, Sp.B, Direktur Narkotika BNN, mengajak tenaga kesehatan bagi tak memandang remeh penyalahgunaan narkoba.
“Orang kesehatan juga mampu kena narkoba. Tapi orang kesehatan tak kena narkoba itu hebat, karena godaannya besar,” ujarnya.(tka)
Sumber: http://gayahidup.inilah.com
BanyumasRaya.com

