Banyumas Raya

Di minggu kedua Ramadan, penyakit diare menjadi penyakit umum yg diderita pasien. Apa penyebabnya?
- Ini alasan tol Becakayu beri diskon hingga 28 persen selama mudik Lebaran
- Ini jadwal dan ruas tol yg berlakukan diskon tarif selama mudik Lebaran 2018
- Cerita Masjid Suciati Saliman, dibangun dengan modal cuma lima ekor ayam
Rupanya, keadaan ini berkaitan dengan makanan yg dikonsumsi ketika berbuka puasa.
Dalam acara “Kalbe Edukasi Kesehatan, Manfaat Lain di Balik Puasa” Konsultan Gastroenterologi Hepatologi Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam, Ari Fahrial Syam, mengungkapkan, pasien yg ia tangani di pertengahan puasa ini lebih banyak mengalami diare.
“Pasien aku minggu-minggu ini lebih banyak yg mencret-mencret (diare). Penyebabnya, makanan berbuka puasa yg dijual di pinggir jalan,” kata Ari ditemui di Jakarta, ditulis Kamis (31/5/2018).
Mayoritas orang berbuka puasa masih dalam perjalanan menuju rumah. Tak ayal, makanan takjil bagi berbuka puasa yg berada di pinggir jalan jadi sasaran konsumen.
Zat berbahaya
Takjil yg dijual di pinggir jalan, lanjut Ari, terkandung 10 persen zat berbahaya. Zat berbahaya ini menyebabkan gangguan pencernaan, yg membuat seseorang terkena diare.
“Banyak juga kan warung takjil yg buka mendadak. Survei dari BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan) juga telah membuktikan, sebanyak 10 persen makanan takjil mengandung zat berbahaya,” Ari melanjutkan.
Sakit diare akibat mengonsumsi takjil yg tidak sehat dan kurang higienis di pinggir jalan pun meningkat. [ita]
Sumber: http://www.merdeka.com
BanyumasRaya.com

