Banyumas Raya

Jakarta – Aktor Jefri Nichol ditangkap Polisi karena kedapatan memakai ganja. Hal ini sontak tidak mengurangi nama deretan aktris dan aktor Indonesia yg tersangkut masalah narkoba.
Mariyuana atau ganja adalah obat-obatan herbal yg terdiri dari daun, bunga, dan tunas tanaman Cannabis sativa. Ganja tidak jarang kali diisap seperti rokok pipa atau rokok lintingan. Namun, ganja juga mampu dijadikan bahan makanan atau diseduh menjadi teh.
Beberapa daerah di Indonesia terkenal memakai sedikit ganja sebagai bumbu tambahan pada masakan tradisional mereka.
Banyak orang memakai ganja buat membuat mereka merasa santai atau sangat bahagia (high). Tetapi seandainya dikonsumsi terus-menerus, dalam jangka waktu lama dengan dosis berlebihan, efek ganja mulai berakibat tak baik buat kesehatan.
Lantas, apa efek dari ganja buat tubuh Anda? Ganja termasuk ke dalam herba, karena dapat digunakan bagi mengatasi keadaan tertentu selama mengikuti supervisi medis.
Meski demikian, pemakaian ganja sebagai obat masih belum dilegalkan secara hukum oleh pemerintah. Penggunaan tanaman ganja tanpa didasari oleh indikasi medis dan tak di bawah pengawasan dokter, dalam hal ini sebatas buat kesenangan, mulai memberikan dampak negatif pada berbagai organ dan juga pada kesehatan penggunanya secara umum.
Mengutip artikel yg diterima dari siaran pers ALODOKTER yg ditinjau dari dr. Kevin Adrian , ada dua efek ganja buat tubuh adalah sebagai berikut:
1. Paru-paru
Menurut dua penelitian, kandungan tar pada ganja hampir tiga kali lipat lebih tinggi dari tar tembakau.
Selain itu, asap ganja juga diduga memiliki kandungan zat penyebab kanker 70 persen lebih banyak dari asap rokok tembakau.
Karena itu, risiko Anda terkena kanker paru-paru pun semakin tinggi, terutama seandainya pemakaian ganja dalam waktu lama, meskipun hal ini masih membutuhkan penelitian lebih lanjut. Dan seandainya Anda merokok dengan campuran ganja dan tembakau, risiko penyakit paru-paru mulai lebih tinggi.
2. Otak
Terlalu lama memakai ganja bisa menyebabkan gangguan pada kemampuan berpikir, kehilangan memori, dan menghambat fungsi otak. Penelitian dengan memanfaatkan pemindaian MRI otak memperlihatkan adanya perubahan struktur di bagian tertentu pada otak pengguna ganja dalam jangka panjang. Perubahan ini juga memengaruhi kinerja otak.
3. Kesehatan mental
Biasa mengisap ganja diduga memperburuk atau meningkatkan risiko kambuhnya gejala psikotik (psikosis) pada penderita skizofrenia.
Selain itu, efek ganja juga mampu menimbulkan halusinasi (melihat hal-hal yg tak benar-benar ada), delusi (percaya dan meyakini hal-hal yg tak benar), rasa cemas, dan serangan panik. Penggunaan ganja dalam jangka panjang juga memungkinkan seseorang buat terkena gejala putus obat, yg meliputi insomnia, perubahan mood, dan penurunan nafsu makan.
Risiko ketergantungan ganja juga dapat terjadi. Risiko terkena psikosis mulai lebih tinggi seandainya Anda akan memakai ganja di usia remaja, atau memiliki riwayat penyakit mental dalam keluarga
4. Sistem peredaran darah
Beberapa ketika setelah mengisap ganja, detak jantung Anda mulai bertambah 20-50 denyut per menit. Efek ganja ini berlangsung sampai tiga jam.
Bagi penderita penyakit jantung, detak jantung yg lebih cepat ini mampu meningkatkan risiko serangan jantung. Selain itu, ganja juga mampu menyebabkan naiknya tekanan darah dalam jangka pendek, risiko perdarahan, dan membuat mata menjadi merah karena pembuluh darah diperlebar.
5. Sistem pencernaan
Mengisap ganja mampu menyebabkan rasa menyengat atau sensasi terbakar (rasa perih) di mulut dan tenggorokan. Untuk ganja yg dikonsumsi secara ditelan (oral) makan mampu menimbulkan mual dan muntah. Namun pada pasien kanker yg menjalani kemoterapi, efek ganja justru kelihatan bisa mengobati gejala mual dan muntah.
6. Sistem kekebalan tubuh
Efek ganja mampu membuat sistem kekebalan tubuh melemah. Penelitian juga memperlihatkan adanya kaitan antara penggunaan ganja dengan meningkatknya risiko terkena penyakit yg mampu melemahkan kekebalan tubuh, seperti HIV/AIDS. Akibatnya, tubuh menjadi semakin sulit melawan infeksi.
7. Kehamilan dan menyusui
Mengisap ganja selama kehamilan mampu memengaruhi perkembangan otak janin, memperlambat pertumbuhan janin, menyebabkan kecacatan dan gangguan pada janin, serta leukemia. Selain itu, mencampur ganja dan tembakau juga diduga meningkatkan risiko bayi terlahir prematur atau terlahir dengan berat badan rendah. Ibu yg mengonsumsi ganja saat menyusui bisa membuat zat kimia dalam mariyuana yg disebut tetrahydrocannabinol (THC) masuk ke dalam ASI. Akibatnya, pertumbuhan bayi mulai terhambat.
Efek ganja selain tak baik buat kesehatan juga dapat membuat seseorang terjerat hukum.
Di Indonesia, dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, ganja termasuk dalam narkotika golongan I, yg seandainya ditanam, dipelihara, dimiliki, atau disimpan, mampu dikenai sanksi pidana penjara paling lama 12 (dua belas) tahun dan denda paling banyak Rp 8.000.000.000,00 (delapan miliar Rupiah).
Jika memiliki gangguan kesehatan terkait narkoba, termasuk akibat efek ganja, jangan ragu buat berkonsultasi ke dokter.(tka)
Sumber: http://gayahidup.inilah.com
BanyumasRaya.com

