Banyumas Raya

Jakarta – Kanker yaitu penyakit kronis yg menjadi salah sesuatu penyebab kematian jutaan penduduk di dunia.
Pada tahun 2018 terdapat 18,1 juta perkara baru kanker di dunia dengan angka kematian
sebesar 9,6 juta. Di Indonesia, kanker yaitu penyebab kematian ke-2 penyakit tak menular.
Berdasarkan data Riskesdas, prevalensi tumor atau kanker di Indonesia memamerkan adanya peningkatan dari 1,4 per 1000 penduduk di tahun 2013 menjadi 1,8 per 1000 penduduk pada tahun 2018.
Pada sisi lain, pengobatan kanker berkembang pesat dalam dua dekade terakhir, termasuk ditemukannya imunoterapi kanker yg sudah menolong pasien di segala dunia buat meningkatkan harapan hidupnya.
Di Indonesia, pemahaman dan akses pasien terhadap imunoterapi kanker masih yaitu tantangan yg harus dipecahkan bersama-sama oleh seluruh pemangku kepentingan.
Siapkah Indonesia buat menyediakan akses pasien terhadap imunoterapi kanker bagi hasil pengobatan yg optimal?
DR. dr. Ikhwan Rinaldi, SpPD-KHOM, M.Epid, FINASIM, FACP, RSUPN DR. Cipto Mangunkusumo menyampaikan imunoterapi kanker yaitu suatu revolusi yg akan
memainkan peranan utama dalam pengobatan kanker untuk pasien di Indonesia, seperti yg dikutip dari siaran pers, Sabtu, (27/07/2019).
Atezolizumab adalah pilihan terapi baru buat menolong pasien hidup lebih lama dibandingkan kemoterapi.
“Untuk memperoleh terapi atezolimab, pasien tak perlu melakukan tes tambahan dan biopsi ulang sehingga memberikan kenyamanan lebih,” paparnya.
Profil keamanan atezolizumab yg baik memberikan kesempatan untuk pasien buat menjalani kehidupan yg lebih berkualitas bersama keluarga dan orang-orang terdekat.
“Selain bagi pasien kanker paru NSCLC dan UC stadium lanjut yg ketika ini telah mendapat persetujuan dari BPOM, semoga obat ini bisa juga digunakan oleh pasien
kanker macam lainnya,” ujarnya. (tka)
Sumber: http://gayahidup.inilah.com
BanyumasRaya.com

