Banyumas Raya

Tingkat kepercayaan diri anak di Indonesia tergolong rendah. Sekitar 56 persen anak–didominasi anak perempuan–mengalami krisis kepercayaan diri.
Data tersebut yaitu hasil kajian yg pernah didapat oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA). Menurut Asisten Deputi Pemenuhan Hak Anak atas Pendidikan, Kreativitas, dan Budaya KPPPA, Elvi Hendrani, ada banyak hal yg membuat mereka jadi tak yakin diri.
“Budaya di Indonesia yg masih melihat anak perempuan sebagai sosok yg tak boleh banyak melakukan aktivitas di luar rumah,” kata dia kepada Health Liputan6.com.
Belum lagi, sistem pendidikan di Indonesia yg masih banyak memakai cara kekerasan dalam mendisiplinkan murid-muridnya. Hal yg paling mengkhawatirkan dan harus langsung diputus mata rantainya ada di daerah Timur Indonesia.
“Di sana masih menerapkan sistem kekerasan, sehingga kekerasan menjadi suatu hal yg harus diputus mata rantainya, karena sangat menurunkan tingkat diri anak-anak.”
Lingkungan ramah anak
Saat menjadi pembicara pada sebuah diskusi di sekolah tersebut, Elvi menitipkan pesan kepada pihak sekolah, agar SMA Negeri 74 Jakarta menjadi sekolah ramah anak. Tidak pernah pakai kekerasan, apalagi dengan dalih agar murid menjadi lebih disiplin.
“Murid-murid ini harus menjadi generasi emas Indonesia. Bahkan 20 sampai 30 tahun mendatang, mereka mulai menggantikan pemimpin-pemimpin bangsa Indonesia. Kepercayaan diri anak-anak ini harus ditingkatkan. Mereka harus mampu yakin diri di tingkat internasional,” ujarnya.
Menurut Elvi, kepercayaan diri yaitu modal penting seorang anak bagi meraih kesuksesan.
Sekolah sejatinya menjadi pintu gerbang buat mereka meningkatkan kepercayaan diri. Maka itu, putus langsung mata rantai kekerasan dengan meniadakan hukuman di sekolah, lebih disiplin dan positif, dan dibina.
“Anak salah jangan dihukum, tetapi dibenarkan.”
Misalkan ada murid yg tak mengerjakan pekerjaan rumah (PR), seharusnya tak dihukum di depan kelas atau hormat ke tiang bendera, tetapi minta dia buat mengerjakan PR tersebut.
“Begitu juga saat anak buang sampah sembarangan. Suruh dia pungut sampah yg dibuangnya itu, buat kemudian dibuang ke tempat yg semestinya,” kata Elvi.
Reporter: Aditya Eka Prawira
Sumber: Liputan6.com [ita]
Sumber: http://www.merdeka.com
BanyumasRaya.com

