Teheran / Washington / Tel Aviv — Konflik besar antara Israel, Amerika Serikat, dan Iran terus mengalami eskalasi dramatis setelah operasi militer bersama pada 28 Februari 2026. Dalam joint strike yang melibatkan AS dan Israel, beberapa media dan pejabat pemerintah mengonfirmasi kematian Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Khamenei Tewas dalam Serangan U.S.–Israel
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyatakan terdapat “banyak tanda” bahwa Ayatollah Ali Khamenei sudah tidak hidup lagi setelah serangan (Operation Epic Fury). Dalam pernyataan video, Netanyahu menyebut bangunan komando yang menjadi tempat berkumpulnya Khamenei berhasil dihancurkan.
Tak lama kemudian, media pemerintah Iran dan berbagai laporan internasional juga mengonfirmasi wafatnya Khamenei pada usia 86 tahun setelah serangan tersebut. Teheran kemudian mengumumkan masa berkabung nasional selama 40 hari.
Serangan Udara dan Dampaknya
Operasi militer gabungan ini dirancang berdasarkan intelijen real-time, yang menurut sumber AS dan Israel, menargetkan Khamenei bersama sejumlah pejabat tinggi rezim termasuk komandan IRGC.
Selain target militer, serangan juga menyebabkan jatuhnya korban sipil, termasuk laporan tragedi di sebuah sekolah dasar di Minab, Iran, yang menewaskan lebih dari 100 orang — banyak di antaranya anak-anak perempuan — serta ratusan lainnya terluka di berbagai provinsi.
Iran Balas Serangan
Sebagai respons, Iran melancarkan serangan rudal dan drone ke wilayah Israel dan juga beberapa pangkalan AS di Timur Tengah, memperluas konflik menjadi pertempuran lintas negara di kawasan.
Dampak Global & Reaksi Dunia
Situasi ini telah memicu kekhawatiran global, dengan sekutu AS seperti Perancis menyerukan de-eskalasi, sementara Dewan Keamanan PBB menggelar pertemuan darurat. Gangguan terhadap penerbangan sipil dan kekhawatiran terhadap pasar minyak dunia juga dilaporkan menyusul konflik di kawasan Selat Hormuz.
Kekosongan Kekuasaan di Iran
Kematian Khamenei meninggalkan kekosongan politik besar di Republik Islam Iran. Belum ada pengganti resmi yang diumumkan, sementara berbagai pejabat senior dan struktur keamanan Iran menghadapi situasi kepemimpinan yang belum pasti.

