Jakarta — Krisis energi global kian meluas setelah penutupan Selat Hormuz sejak Sabtu (28/2/2026) mengganggu jalur distribusi minyak dunia. Kondisi ini memicu lonjakan harga minyak mentah global, bahkan sempat mendorong harga Brent menembus USD 110 per barel, seiring meningkatnya tensi konflik di kawasan Timur Tengah.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak harian dunia. Gangguan di jalur ini langsung berdampak pada negara-negara yang bergantung pada impor energi, khususnya di kawasan Asia.
Sebagai respons, berbagai negara mulai menerapkan langkah mitigasi cepat, mulai dari work from home (WFH), pembatasan konsumsi BBM, hingga kebijakan darurat energi.
Asia Jadi Kawasan Paling Terdampak
Negara-negara Asia menjadi pihak yang paling terdampak krisis ini karena ketergantungan tinggi terhadap impor energi. Lonjakan harga minyak dan terganggunya pasokan membuat pemerintah di kawasan ini harus bergerak cepat untuk menjaga stabilitas ekonomi dan energi domestik.
Tak hanya Asia, negara-negara seperti Australia hingga Inggris juga mulai mengambil langkah darurat untuk mengantisipasi dampak lanjutan dari konflik global yang masih berlangsung.
Filipina Tetapkan Status Darurat Energi
Filipina menjadi salah satu negara yang paling agresif dalam merespons krisis. Presiden Ferdinand Marcos Jr. menetapkan status darurat energi nasional pada 24 Maret 2026.
Langkah-langkah yang diambil meliputi:
- Penghentian operasional pesawat tertentu
- Peralihan pembangkit listrik dari gas ke batu bara
- Rencana impor minyak dari Rusia
Filipina juga berencana meningkatkan impor batu bara dari Indonesia. Pada tahun sebelumnya, negara tersebut tercatat mengimpor sekitar 38 juta ton batu bara dari Indonesia.
Myanmar Batasi Pembelian BBM
Pemerintah Myanmar mengambil langkah drastis dengan menerapkan sistem barcode dan QR code untuk pembelian BBM. Sistem ini akan mengatur jumlah bahan bakar yang dapat dibeli oleh masyarakat.
Kebijakan tersebut bertujuan untuk mengendalikan distribusi dan mencegah kelangkaan BBM di tengah tekanan pasokan global.
Singapura Siap Hadapi Kenaikan Tarif Listrik
Singapura memperkirakan tarif listrik akan naik hingga 11% dalam beberapa bulan mendatang. Pemerintah setempat mendorong masyarakat dan pelaku usaha untuk menghemat energi.
Sebagai kompensasi, pemerintah juga menyiapkan insentif tambahan bagi rumah tangga yang memenuhi syarat, dengan nilai hingga 1,5 kali lipat dari bantuan reguler.
Malaysia Kaji WFH dan Tambah Subsidi
Malaysia mulai mengkaji penerapan WFH untuk sektor publik sebagai langkah penghematan energi. Selain itu, pemerintah juga meningkatkan subsidi BBM, khususnya untuk RON95 dan diesel.
Perdana Menteri Anwar Ibrahim mengungkapkan subsidi BBM melonjak drastis dari RM700 juta menjadi RM3,2 miliar dalam waktu singkat.
Harga energi di Malaysia juga mengalami lonjakan:
- RON97 naik menjadi 4,55 ringgit per liter
- Diesel mencapai 4,72 ringgit per liter
Malaysia juga mulai mencari alternatif pasokan energi melalui kerja sama dengan negara Asia-Pasifik.
Thailand Dorong WFA dan Efisiensi Energi
Thailand mendorong pegawai pemerintah untuk menerapkan work from anywhere (WFA) serta mengatur suhu AC kantor pada 26 derajat Celsius untuk menghemat energi.
Selain itu, pemerintah juga mempertimbangkan penurunan pajak bahan bakar guna menjaga daya beli masyarakat.
Vietnam Percepat Transisi Energi
Vietnam mengambil langkah strategis dengan mempercepat penggunaan bahan bakar nabati E10. Pemerintah menargetkan pengurangan konsumsi bensin fosil hingga 10%.
Selain itu, perusahaan didorong menerapkan WFH dan masyarakat diimbau:
- Mengurangi penggunaan kendaraan pribadi
- Beralih ke transportasi umum
- Menggunakan sistem carpooling
Kamboja Hadapi Krisis Pasokan
Kamboja mengalami dampak langsung berupa penutupan sekitar sepertiga stasiun BBM akibat kekurangan pasokan.
Untuk mengatasinya, pemerintah meningkatkan impor bahan bakar dari Singapura dan Malaysia.
Indonesia Siapkan WFH Nasional
Indonesia juga mulai bersiap menghadapi dampak krisis energi. Pemerintah memastikan kebijakan WFH satu hari dalam sepekan akan segera diumumkan.
Langkah ini diharapkan dapat mengurangi konsumsi BBM, terutama dari sektor transportasi perkotaan.
Laos Pangkas Hari Sekolah
Laos mengambil langkah unik dengan mengurangi hari sekolah menjadi tiga hari dalam seminggu untuk menghemat konsumsi bahan bakar.
Kebijakan ini berlaku untuk seluruh institusi pendidikan, baik negeri maupun swasta.
China dan Jepang Tahan Ekspor Energi
China dan Jepang memilih langkah protektif dengan:
- Menangguhkan ekspor bahan bakar (China)
- Membatalkan ekspor solar, bensin, dan bahan bakar jet (Jepang)
Langkah ini bertujuan untuk menjaga pasokan energi dalam negeri.
Korea Selatan Maksimalkan Energi Alternatif
Korea Selatan meningkatkan penggunaan:
- Pembangkit listrik tenaga batu bara
- Pembangkit listrik tenaga nuklir hingga 80% kapasitas
Pemerintah juga mempertimbangkan bantuan energi tambahan bagi masyarakat rentan.
Australia dan Inggris Siapkan Kebijakan Darurat
Australia menurunkan standar kualitas solar untuk meningkatkan pasokan domestik. Sementara Inggris menyiapkan berbagai opsi darurat, mulai dari:
- Penurunan batas kecepatan jalan tol
- Pembatasan pembelian BBM
Uni Eropa Dorong Intervensi Harga Energi
Uni Eropa mengusulkan langkah jangka pendek seperti:
- Pemotongan pajak listrik
- Penurunan tarif jaringan energi
- Bantuan langsung pemerintah
Langkah ini diambil untuk meredam dampak lonjakan harga energi terhadap masyarakat.
WFH dan Pembatasan BBM: Solusi Sementara
Meski berbagai negara telah mengambil langkah cepat, sejumlah pengamat menilai kebijakan seperti WFH dan pembatasan BBM hanya bersifat jangka pendek.
Konsumsi energi global masih didominasi oleh sektor industri dan logistik, sehingga diperlukan kebijakan yang lebih struktural seperti:
- Diversifikasi sumber energi
- Percepatan energi terbarukan
- Reformasi subsidi energi
Krisis Energi Jadi Alarm Global
Krisis ini menjadi pengingat kuat bahwa ketergantungan terhadap energi fosil masih menjadi kerentanan utama bagi banyak negara.
Di tengah ketidakpastian geopolitik, kemampuan negara dalam mengelola pasokan energi dan menjaga stabilitas ekonomi akan menjadi faktor kunci dalam menghadapi tekanan global.
Krisis energi global akibat konflik Timur Tengah telah memaksa negara-negara di Asia dan dunia mengambil langkah cepat, mulai dari WFH hingga pembatasan BBM. Namun, solusi jangka panjang tetap membutuhkan transformasi besar dalam sistem energi global agar ketahanan ekonomi dapat terjaga di masa depan.

