Banyumas Raya

FRANKFURT, – Masa peralihan dari kendaraan konvensional ke electric vehicle ( EV) diproyeksi dapat mengancam pemutusan hubungan kerja (PHK) massal, terhadap 75.000 pekerja industri mobil di Jerman.
Kesimpulan ini yaitu hasil studi yg diinisiasi oleh German Trade Unions and Auto Industry.
Industri otomotif Jerman setidaknya memiliki 840.000 pekerjaan, di mana 210.000-nya menopang produksi powertrain (sistem penggerak), menurut Teknik Industri di Institut Fraunhofer, yg melakukan penelitian.
Peluncuran kendaraan bebas emisi menciptakan dua pekerjaan baru, di bidang elektronik dan baterai. Namun, EV mulai menghasilkan lebih sedikit pekerjaan di sektor assembly, berdasarkan pendapat Serikat Perdagangan Jerman IG Metall.
“Pada tahun 2030 setiap pekerjaan di sektor powertrain mobil penumpang, mulai terkena dampak segera atau tak segera oleh electromobility,” ujar Joerg Hofmann, Kepala IG Metall berdasarkan data Daimler, BMW, Volkswagen Group dan pemasok Bosch, ZF, Schaeffler.
Baca juga: 55 Persen Pasar Global Adalah Mobil Listrik di 2040
BMW Group Indonesia memperkenalkan prototipe garasi khusus bagi mobil listrik di International Motor Show (IIMS) 2018, di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Jumat (20/4/2018). Garasi ini bisa menghasilkan listrik dari sinar matahari dan memiliki panel surya di bagian atapnya.“Pemerintah dan pelaku industri, ketika ini perlu mengembangkan strategi buat mengelola transformasi ini,” kata Hofmann dari Autonews.com, Kamis (7/6/2018).
Perusahaan perlu memulai skema pelatihan ulang, agar pekerja dapat memenuhi syarat bagi teknologi baru. Sementara pemerintah perlu menghadirkan kebijakan industri dan pekerjaan yg komprehensif.
Angka 75.000 pekerjaan yg terancam, berangkat dari asumsi bahwa 25 persen dari seluruh mobil mulai menjadi listrik penuh pada tahun 2030, 15 persen plug-in hybrid, dan 60 persen varian bensin dan diesel.
Hofmann mengatakan, jadi saat penerapan kendaraan EV lebih cepat, bahkan bisa mengancam 100.000 pekerjaan.
Bernd Osterloh Perwakilan Tenaga Kerja Utama VW mengatakan, powertrain EV cuma memiliki seperenam komponen, seandainya dibandingkan dengan varian mesin konvensional, yg berarti EV bisa dirakit lebih cepat.
EV membutuhkan waktu 30 persen lebih sedikit buat dirakit, daripada kendaraan penumpang ketika ini. Namun tidak kemudian itu menghentikan kemajuan teknologi, cuma saja butuh persiapan matang dari berbagai pihak.
Sumber: http://otomotif.kompas.com
BanyumasRaya.com

