Mohon tunggu, konten utama Anda akan muncul dalam 5 detik...
BANJARNEGARA – Kawasan eks Terminal Banjarnegara yang sempat sepi pengunjung kini mulai bergeliat kembali. Pemerintah Kabupaten Banjarnegara melalui Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM (Indagkop UKM) bersama Paguyuban Kuliner Taman Kota (Tamkot) melakukan penataan ulang kawasan tersebut agar kembali menjadi pusat kuliner yang ramai dan diminati masyarakat.
Perubahan wajah kawasan itu resmi dimulai pada Minggu (21/6/2026). Sejak hari pertama dibuka kembali, seluruh lapak yang tersedia telah terisi penuh oleh para pedagang yang menawarkan beragam jenis makanan dan minuman, mulai dari kuliner tradisional hingga hidangan kekinian.
Penataan ulang dilakukan setelah kawasan tersebut mengalami penurunan jumlah pengunjung dalam beberapa tahun terakhir. Padahal sebelumnya, kawasan eks terminal tersebut sempat menjadi salah satu destinasi kuliner favorit masyarakat Banjarnegara maupun pengunjung dari luar daerah.
Namun, seiring berjalannya waktu, aktivitas perdagangan mulai menurun sehingga banyak pedagang memilih berpindah lokasi usaha ke tempat lain yang dianggap lebih ramai.
Diawali Tasyakuran dan Hiburan
Peresmian pusat kuliner Tamkot ditandai dengan kegiatan tasyakuran yang dihadiri puluhan pelaku usaha, pecinta kuliner, serta sejumlah pejabat daerah.
Suasana peresmian berlangsung meriah dengan berbagai hiburan musik dangdut dan pop yang disuguhkan untuk menghibur para pengunjung.
Kepala Dinas Indagkop UKM Kabupaten Banjarnegara, Adi Cahyono, mengaku bersyukur karena upaya penyegaran kawasan Tamkot mendapat sambutan positif dari para pelaku usaha.
Menurutnya, gagasan untuk menjadikan kawasan tersebut lebih tertata dan nyaman akhirnya membuahkan hasil dengan terisinya seluruh lapak dan kios yang tersedia.
“Saya bersyukur setelah ide untuk melakukan penyegaran Tamkot agar lebih elegan mendapat dukungan. Kini lapak dan kios sudah terisi maksimal,” ujarnya.
Adi berharap seluruh pedagang dapat menjaga kebersamaan dan menghindari persaingan yang tidak sehat demi kemajuan kawasan kuliner tersebut.
“Saya mengingatkan bahwa rezeki setiap orang sudah tertakar dan tidak akan tertukar. Yang terpenting adalah konsistensi dalam berikhtiar dan kesabaran menjalani proses menuju kesuksesan,” katanya.
Pedagang Diminta Jaga Kebersihan dan Ketertiban
Selain menjaga kekompakan, para pedagang juga diminta untuk berkomitmen menjaga keamanan, ketertiban, serta kebersihan lingkungan.
Menurut Adi, kenyamanan pengunjung menjadi faktor penting agar pusat kuliner Tamkot dapat berkembang dan menjadi destinasi favorit masyarakat.
Kawasan yang bersih, tertata, dan aman diyakini akan memberikan pengalaman yang menyenangkan bagi pengunjung sehingga mereka terdorong untuk datang kembali.
Kolaborasi Jadi Kunci Keberhasilan
Sementara itu, Pembina Kuliner Tamkot, H Haris Fatah Yasin, mengatakan keberhasilan pengelolaan kawasan eks terminal tersebut tidak dapat dilepaskan dari kerja sama berbagai pihak.
Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah daerah, pelaku usaha, dan seluruh pemangku kepentingan menjadi modal utama dalam menghidupkan kembali kawasan yang sempat kehilangan daya tariknya.
“Kunci utama keberhasilan pengelolaan aset daerah seperti ini adalah kolaborasi yang kuat antara pemerintah, swasta, dan seluruh stakeholder,” ujarnya.
Ia menambahkan, pengembangan kawasan kuliner Tamkot juga sejalan dengan rencana strategis Pemerintah Kabupaten Banjarnegara dalam mendorong pertumbuhan ekonomi produktif serta menciptakan lebih banyak peluang usaha bagi masyarakat.
Diharapkan Jadi Destinasi Baru
Haris berharap para pedagang dapat terus menjaga komitmen dan berinovasi dalam mengembangkan usahanya.
Dengan semakin banyak pilihan kuliner dan suasana yang lebih nyaman, pusat kuliner Tamkot diharapkan mampu menarik lebih banyak pengunjung, baik warga Banjarnegara maupun wisatawan dari luar daerah.
“Pedagang harus konsisten dan terus berinovasi agar Kuliner Tamkot menjadi destinasi yang menarik dan ramai dikunjungi masyarakat,” katanya.
Melalui penataan ulang ini, kawasan eks Terminal Banjarnegara diharapkan tidak lagi dikenal sebagai lokasi yang sepi, melainkan tumbuh menjadi pusat kuliner baru yang mampu menggerakkan perekonomian lokal sekaligus menjadi ruang berkumpul masyarakat di tengah kota.


