BANJARNEGARA – Kondisi Bendungan Panglima Besar Jenderal Soedirman atau yang lebih dikenal sebagai Waduk Mrica disebut semakin mengkhawatirkan akibat tingginya sedimentasi yang terus menumpuk dari tahun ke tahun.
Situasi tersebut memunculkan kekhawatiran terhadap keamanan bendungan, terutama bagi wilayah-wilayah hilir yang dilalui aliran Sungai Serayu seperti Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas hingga Cilacap.
Bendungan yang diresmikan Presiden ke-2 RI Soeharto pada 1989 itu selama ini memiliki fungsi vital sebagai pembangkit listrik tenaga air (PLTA), pengendali banjir, serta penyedia irigasi bagi kawasan Jawa Tengah bagian selatan.
Sedimentasi Disebut Sudah Kritis
Kepala Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Banjarnegara, Junaedi, menyebut kondisi sedimentasi di waduk saat ini sudah berada pada titik yang cukup serius.
Penumpukan lumpur dan material sedimentasi disebut terus mengurangi kapasitas tampung air bendungan secara signifikan.
Akibatnya, usia efektif waduk diperkirakan lebih pendek dibanding perencanaan awal.
“Jika tanggul terbesar di Asia Tenggara ini jebol, air bah diperkirakan akan menyapu area di sepanjang Sungai Serayu mulai Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas hingga Cilacap,” ujar Junaedi.
Ancaman untuk Wilayah Banyumas Raya
Jika skenario terburuk terjadi, banjir bandang berpotensi melanda sejumlah wilayah di kawasan Banyumas Raya yang berada di jalur aliran Sungai Serayu.
Air bah diperkirakan dapat menerjang kawasan permukiman padat penduduk di sekitar bantaran sungai.
Meski demikian, hingga saat ini belum ada pernyataan resmi bahwa bendungan berada dalam kondisi darurat jebol. Kekhawatiran yang muncul lebih mengarah pada pentingnya percepatan mitigasi agar risiko tidak berkembang menjadi ancaman serius di masa depan.
Pemkab Usulkan Teknologi Penyedotan Lumpur
Sebagai langkah mitigasi, BPBD Kabupaten Banjarnegara mengusulkan penggunaan metode mud section pump kepada pemerintah pusat.
Teknologi tersebut menggunakan sistem penyedotan lumpur melalui pipa besar menuju area pembuangan yang telah disiapkan.
Metode ini dinilai lebih efektif dibanding pengerukan konvensional menggunakan ribuan truk karena dinilai lebih cepat dan minim polusi.
Pemerintah juga menyiapkan area dumping seluas sekitar 154 hektare untuk mendukung proses pengurangan sedimentasi.
Butuh Dukungan Nasional
Karena skala sedimentasi Waduk Mrica sangat besar, penanganannya disebut membutuhkan anggaran tinggi dan koordinasi lintas daerah.
BPBD Banjarnegara mengaku telah berkomunikasi dengan Kantor Staf Kepresidenan agar program mitigasi sedimentasi Waduk Mrica masuk prioritas nasional.
“Kami sudah menjalin komunikasi dengan Kantor Staf Kepresidenan agar proposal mitigasi ini menjadi perhatian nasional,” kata Junaedi.
Waduk Strategis untuk Jawa Tengah Selatan
Waduk Mrica selama ini menjadi salah satu infrastruktur penting di Jawa Tengah bagian selatan.
Selain mendukung pasokan listrik melalui PLTA, bendungan ini juga memiliki fungsi strategis untuk:
- pengendalian banjir,
- penyediaan air irigasi,
- hingga menjaga stabilitas aliran Sungai Serayu.
Karena itu, kondisi sedimentasi yang terus meningkat kini menjadi perhatian serius berbagai pihak agar tidak berkembang menjadi ancaman ekologis dan kemanusiaan yang lebih besar di masa mendatang.
Please wait while you are redirected...or Click Here if you do not want to wait.

