CILACAP – Wilayah Kabupaten Cilacap, Banyumas, dan sekitarnya mulai memasuki masa peralihan menuju musim kemarau. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kekeringan, kekurangan air bersih, hingga ancaman gelombang tinggi di perairan selatan Jawa.
Ketua Tim Kerja Pelayanan Data dan Diseminasi Informasi BMKG Cilacap, Teguh Wardoyo, mengatakan tanda-tanda awal musim kemarau kini mulai dirasakan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
“Ciri-ciri musim kemarau sudah mulai terlihat. Suhu udara pada pagi hari terasa lebih dingin dari biasanya, sementara pada siang hari sinar matahari sangat menyengat karena tutupan awan yang minim. Selain itu, arah angin kini sudah dominan dari arah timuran,” ujar Teguh, Jumat (12/6/2026).
Menurutnya, perubahan arah angin tersebut menjadi salah satu indikator penting bahwa wilayah Cilacap dan sekitarnya sedang memasuki fase transisi dari musim hujan menuju musim kemarau.
Curah Hujan Terus Menurun
Berdasarkan hasil analisis BMKG, curah hujan selama Mei 2026 masih cukup tinggi di sejumlah wilayah. Beberapa daerah di Cilacap Barat seperti Dayeuhluhur, Wanareja, Majenang, dan Cimanggu, serta wilayah Kota Cilacap, masih mencatat curah hujan di atas 150 milimeter per bulan sehingga masih tergolong musim hujan.
Namun kondisi berbeda terjadi di sejumlah wilayah lain yang mulai mengalami penurunan curah hujan secara signifikan. Titik dengan curah hujan terendah tercatat berada di Kecamatan Binangun dengan angka sekitar 53 milimeter per bulan.
Memasuki Juni 2026, intensitas hujan semakin berkurang. Hingga Dasarian I Juni, BMKG hanya mencatat satu kali kejadian hujan dengan intensitas ringan hingga sedang yang terjadi pada 4 Juni lalu.
“Untuk Juni, prakiraan curah hujan di Cilacap berada pada kisaran 51 hingga 200 milimeter. Kategori menengah atau 101 sampai 200 milimeter terkonsentrasi di wilayah Kota Cilacap, sedangkan wilayah lainnya sudah masuk kategori rendah, yakni 51 sampai 100 milimeter,” jelas Teguh.
Ia menambahkan, tren penurunan curah hujan diperkirakan masih akan berlangsung hingga Juli 2026 dengan kategori rendah, yakni berkisar antara 21 hingga 100 milimeter per bulan.
Sementara itu, puncak musim kemarau diprakirakan terjadi pada Agustus 2026. Pada periode tersebut, curah hujan diperkirakan sangat minim, bahkan hanya berkisar antara 0 hingga 50 milimeter per bulan.
Potensi Kekeringan Perlu Diantisipasi
BMKG mengingatkan bahwa kondisi musim kemarau tahun ini diprakirakan berada di bawah normal sehingga potensi kekeringan perlu diantisipasi sejak dini.
Wilayah yang selama ini kerap mengalami kesulitan air bersih di musim kemarau diminta mulai menyiapkan langkah-langkah mitigasi, baik oleh pemerintah daerah maupun masyarakat.
“Kami mengimbau pemerintah dan masyarakat untuk melakukan antisipasi dini terhadap dampak kekeringan, seperti kekurangan air bersih maupun potensi kebakaran lahan,” kata Teguh.
Selain itu, masyarakat juga diminta lebih bijak dalam penggunaan air dan menjaga lingkungan agar dampak musim kemarau dapat diminimalkan.
Gelombang Laut Bisa Capai Lebih dari 3 Meter
Selain ancaman kekeringan, BMKG juga menyoroti potensi peningkatan tinggi gelombang di perairan selatan Jawa.
Konsistensi angin timuran yang mulai menguat diperkirakan akan memengaruhi kondisi laut, khususnya di perairan Cilacap dan sekitarnya.
Saat puncak angin timur berlangsung, tinggi gelombang di laut selatan berpotensi mencapai lebih dari tiga meter.
Kondisi tersebut dinilai cukup berbahaya bagi aktivitas pelayaran maupun nelayan yang beroperasi di laut lepas.
“Kami meminta pengguna jasa laut untuk selalu waspada terhadap perkembangan cuaca dan tinggi gelombang, terutama saat angin timuran mulai menguat,” ujarnya.
BMKG juga mengimbau masyarakat untuk terus memantau informasi cuaca dan peringatan dini yang dikeluarkan secara resmi agar dapat mengambil langkah antisipasi yang tepat.
Dengan memasuki masa peralihan musim ini, kewaspadaan terhadap perubahan cuaca menjadi hal penting agar masyarakat dapat beraktivitas dengan aman dan terhindar dari berbagai risiko yang mungkin terjadi selama musim kemarau berlangsung.

