Menkominfo: Facebook Harus Aktif Lakukan Audit Aplikasi Selain Cambridge Analytica

oleh -208 Dilihat

Banyumas Raya

Vice President (VP) Public Policy Facebook Asia Pacific, Simon Milner baru saja bertemu dengan Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara. Dalam meeting tersebut, Simon mengatakan, lebih banyak membahas terkait dengan kelanjutan dan upaya Facebook mengenai masalah penyalahgunaan data pengguna Facebook oleh Cambridge Analytica (CA).

BERITA TERKAIT
  • Menkominfo nilai Facebook tidak kooperatif soal laporan konten negatif
  • Menteri Rudiantara beberkan manfaat teknologi blockchain di bidang perpajakan RI
  • Pemerintah dorong operator seluler konsolidasi sebelum merger

“Kami berbicara tentang masalah CA dan investigasi internal yg sedang kalian lakukan. Kami juga membicarakan apa langkah yg kalian lakukan buat memberikan keamanan data pengguna Facebook di Indonesia,” katanya di Gedung Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo), Jakarta, Senin (7/5).

Dalam penyampaiannya itu, Menkominfo juga turut mengutarakan pendapatnya terkait meeting tersebut. Menteri yg akrab disapa Chief RA ini mengatakan, bagi ketika ini pihak Facebook belum mampu melakukan investigasi secara mendalam. Hal itu dikarenakan CA sendiri tengah diaudit oleh otoritas Inggris. Atas hal itu, maka Facebook belum diperbolehkan buat mengaudit CA.

“Tadi disampaikan, bahwa CA lagi diaudit bahkan bukan oleh Facebook sendiri, tapi oleh otoritas di Inggris. Jadi bagi ketika ini, Facebook harus menunggu hasil audit otoritas Inggris selesai,” ungkap Rudiantara.

Meski begitu, Kemkominfo meminta agar Facebook tidak cuma bersikap pasif tanpa melakukan sesuatu. Sebab, banyak kemungkinan yg tidak cuma CA saja yg dicurigai melakukan ‘penambangan’ data pengguna Facebook saja.

Berdasarkan dari hasil penelusuran Kemkominfo, menemukan aplikasi serupa CA yakni CubeYou dan AgregateIQ. Kedua aplikasi itu, Facebook diminta buat lakukan tindakan tegas.

“Tapi tadi aku sampaikan juga ke Facebook, tak boleh cuma nunggu otoritas Inggris selesai, tapi harus cari upaya lain. Karena kemungkinan lainnya gak cuma CA belakangan ada banyak. Dalam hal ini FB harus lakukan pararel,” jelasnya.

Sebagaimana diketahui, Facebook mengakui bahwa terdapat 87 juta data yg dimungkinkan disalahgunakan oleh CA. Dari 87 juta data yg kebobolan, sebagian besar adalah pengguna Facebook dari Amerika Serikat atau sekitar 81,6 persen data disalahgunakan. Selain Amerika Serikat, ada dua negara termasuk Indonesia.

Indonesia masuk urutan ketiga data yg disalahgunakan. Sekitar 1,3 persen dari 87 juta. Di atas Indonesia, ada Filipina yg kemungkinan besar penyalahgunaan data pengguna dari negeri itu sekitar 1,4 persen. Selain ketiga negara itu di antaranya Inggris, Mexico, Kanada, India, Brazil, Vietnam, dan Australia. [fik]

Sumber: http://www.merdeka.com
BanyumasRaya.com

No More Posts Available.

No more pages to load.