Banyumas Raya

Catatan Damar Juniarto yg selama 21 hari mengikuti Visitor Leadership Program (IVLP) 2018 bertema Cyber Policy and Online Freedom of Expression di Amerika Serikat.
DARI terbongkarnya cara kerja Cambridge Analytica dan penggunaan peretas dari Rusia, publik akhirnya paham bahwa penguasaan data pengguna online adalah hal yg terpenting dalam memenangkan perang politik di Amerika.
Di tangan Cambridge Analytica, data dari 270.000 pengisi survei di thisisyourdigitallife apps didulang sehingga dapat mendapatkan data dari 87 juta orang yang lain yg terhubung dengan responden survei.
Data tersebut kemudian diklasifikasikan berdasarkan profil psikologis dan preferensi politik sehingga bisa digunakan sebagai pertimbangan dalam menyusun strategi kampanye pemenangan di pemilu AS 2016.
Mereka pendukung Trump, pro-Hillary, swing voters, warga miskin kulit putih, warga Afro-American, komunitas warga Hispanik, dan setiap kluster psikologis, dikirimi iklan-iklan politik yg berbeda, seringkali berisi fake news, agar pada akhirnya menggiring mereka buat memilih Donald Trump.
Sejak perang siber politik ini mencuat, aku selalu mengikuti perkembangan bagaimana kekuatan politik memersenjatai media sosial demi kemenangan politik.
Itulah sebabnya, ketika aku sampai di kota berangin Chicago beberapa minggu lalu, aku langsung mencari buku baru yg sedang ramai diperbincangkan terkait perang siber dan keterlibatan peretas Rusia.
Buku berjudul Cyberwar: How Russian Hackers and Trolls Helped Elect a President—What We Don’t, Can’t, and Do Know karya Kathleen Hall Jamieson membeberkan analisis forensik dari bukti-bukti yg ada di media sosial Amerika Serikat dan menyimpulkan bahwa Rusia sangat mungkin berkontribusi buat kemenangan Donald Trump.
Kathleen Hall Jamieson adalah akademisi politik terkemuka dan profesor komunikasi di University of Pennsylvania. Selama 40 tahun terakhir, ia sudah memelajari komunikasi politik: debat, iklan, dan pidato.
Sebagai buntut dari pemilihan presiden 2016, dia mempelajari efek yg diperdebatkan antara Donald Trump dan Hillary Clinton terhadap pemilih.
Itu membuat Jamieson menyusuri jalan yg membawanya ke sebuah kesimpulan yg berani: Rusia memang sengaja memenangkan Trump demi kepentingan negaranya.
Sumber: http://tekno.kompas.com
BanyumasRaya.com

