Banyumas Raya

Melalui proses pitching deck dan penilaian dewan juri, tiga startup peserta The NextDev Talent Scouting Denpasar, Bali, berhasil ke babak final pitching deck di Jakarta pada Oktober mendatang. Ketiga startup yg lolos di kompetisi early stage startup terbesar di Tanah Air ini adalah Diffago, FishGo, dan DietBuddy.
- Sering diremehkan, catatan pengeluaran ternyata poin utama startup sukses
- Kendaraan Militer Tentara Amerika Serikat Bisa Berubah Bentuk Dalam Dua Detik Saja
- Huawei P20 Pro resmi rilis di Indonesia, ini harganya
Kompetisi entry stage startup dari Telkomsel ini diikuti oleh 20 peserta pitching deck Denpasar. Namun, cuma tiga startup yg berhasil mencuri hati para dewan juri, seperti Dennis Adhiswara (Founder dan CEO Layaria Network), Yoris Sebastian (Founder dan Creative Thinker of OMG Consulting), M Alfatih Timur (Co-Founder dan CEO KitaBisa.com), David Soukhasing (Head of ANGIN), Alamanda Shantika (Founder Binar Academy), dan Denny Abidin (GM External Corcomm Telkomsel).
Namun, dewan juri masih menyimpan wild car yg mulai diberikan kepada startup yg tak lolos pada The NextDev Denpasar, seperti pada The NextDev Semarang, Mei lalu. Syaratnya, 17 startup yg tak lolos ini mulai dipantau perkembangannya oleh dewan juri dalam dua bulan ke depan.
“Yang tak lolos, jangan kecil hati. Tetap semangat dengan startup-nya, karena kalian mulai pantau perkembangannya. Startup yg memiliki perkembangan baik mulai mendapat wild card ke Jakarta seperti tiga finalis,” ujar Yoris Sebastian, ketika mengumumkan nama finalis The NextDev Denpasar di Kembali Innovation Hub, Kamis (28/6) sore.
Yoris menjelaskan alasan dewan juri memilih Diffago, FishGo, dan DietBuddy sebagai finalis kompetisi early stage startup dari Denpasar, Bali. Pertama, ketiganya memiliki konsep social impact kuat, yg sesuai dengan tema penting kompetisi tahun ini, yakni “Passion + Purpose = Social Impact!”. Kedua, minat atau passion para pelopor yg tampak ketika mereka mempresentasikan konsepnya kepada dewan juri. Dan ketiga, seperti tema kompetisi ini, passion sang founder harus memiliki purpose atau tujuan supaya menawarkan solusi terhadap persoalan secara tepat, alias memiliki social impact.
“Dari peserta The NextDev Denpasar, passion founder masih kurang ditampilkan, padahal ini penting. Sementara bila social impact-nya kurang kuat, sebenarnya kalian masih mampu pahami, karena nanti kan ada mentoring. Yang utama adalah passion dan purpose itu, bagi mampu menawarkan dampak sosial tepat seperti tema penting kompetisi early stage startup ini,” pungkas Yoris.
Dewan juri lainnya, Denny Abidin, menambahkan, Bali terus spesial buat kompetisi early stage startup terbesar di Tanah Air. Maka itu, ketika menetapkan tiga finalis tadi juga tidaklah mudah.
“Setiap ke Bali, terus sulit keputusannya yg dibumbui dengan voting. Namun, buat yg tak lolos sebagai finalis, jangan kecil hari mungkin karena aplikasinya belum relevan ketika ini. Tapi aku percaya startup Bali milik potensi bagus sehingga mampu bikin keren Indonesia suatu hari seperti tujuan Telkomsel bagi kompetisi ini,” ucap Denny.
Profil tiga finalis
Untuk diketahui, Diffago yg berasal dari kata ‘difabel’ dan ‘go’ adalah aplikasi yg menawarkan solusi total terhadap isu disabilitas/penyandang cacat di Indonesia. Dikembangkan sejak Februari dulu di Bali, Diffago ketika ini fokus dengan konsep CSR platform. Artinya, aplikasi ini menolong para penyandang cacat mendapatkan solusi terhadap persoalan mereka, seperti mobilitas, pendidikan, dan pekerjaan. Untuk persoalan mobilitas misalnya, Diffago mulai menolong para penyadang cacat mendapatkan kaki atau tangan palsu supaya dapat memiliki mobilitas normal kembali.
Setelah itu, menolong melanjutkan sekolah atau kuliah mereka, sehingga milik kesempatan bekerja. Saat ini Diffago telah memiliki enam proyek, tetapi baru beberapa proyek telah didanai. Masih dalam tahap Bootstraping, Diffago selain ada di Bali, juga hadir di Jakarta dan Bandung.
Sedangkan startup FishGo yaitu aplikasi teknologi berbasis Google Maps yg memberikan panduan kepada nelayan di Badung, Bali, lokasi ikan yg berkumpul di laut. Dampak sosial yg ditawarkan dari aplikasinya adalah meningkatkan jumlah tangkapan nelayan. Hasil tangkapan ikan nelayan ini juga dibantu oleh FishGo dengan memberikan panduan harga jual di tempat pelelangan ikan sehingga nelayan mendapat harga yg pantas dan tak dibohongi.
Yang terakhir, DietBuddy menawarkan platform kesehatan dengan memberikan keterangan untuk masyarakat yg ingin melakukan diet dan mengetahui jumlah kalori/nutrisi dari setiap makanan yg dikonsumsi, serta memberikan kosultasi yg benar dan tepat agar memiliki kesehatan lebih baik. DietBuddy ingin menjadi ‘teman terbaik’ buat siapa saja yg ingin membuat program diet. Dengan aplikasi ini, kamu seakan milik ‘satpam’ yg menolong dalam menjaga pola makan demi terwujudnya badan yg lebih fit. Menarik ya! [sya]
Sumber: http://www.merdeka.com
BanyumasRaya.com

