Ketika Diplomasi Digital Jadi Tools Lindungi WNI Di Luar Negeri

oleh -605 Dilihat

Banyumas Raya

Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Republik Indonesia menggiatkan berbagai kegiatan diplomasi melalui platform digital (Digital Diplomacy). Hal ini tak saja dikerjakan buat mendukung kegiatan bidang ekonomi dan politik, tetapi juga sebagai sarana buat menjalin komunikasi dengan WNI di luar negeri.

BERITA TERKAIT
  • Menteri Retno ingin Indonesia terus ada di hati peserta beasiswa budaya Kemlu
  • Indonesia dan Belanda perkuat kerja sama bidang keamanan siber
  • Indonesia desak Dewan HAM PBB langsung selidiki pelanggaran Israel di Palestina

Achmad Ramadhan, Direktorat Informasi dan Media Kemenlu, menyampaikan belakangan ini praktik diplomasi digital tengah digencarkan. Paling anyar, pada pertengahan April lalu, Kemenlu memanfaatkan digital guna melindungi warga negara Indonesia yg berada di luar negeri, yakni dengan launching platform aplikasi Safe Travel yg berbasis multi-platform. Pemanfaatan digital dikerjakan sebelumnya melalui website dan media sosial, seperti Facebook, Instagram, dan Youtube.

Dia menjelaskan, tak cuma dalam keadaan darurat, aplikasi tersebut dirancang dengan konsep aman dan menyenangkan, berisikan keterangan praktis yg diperlukan WNI. Dalam aplikasi yg bisa diunduh gratis ini, WNI mulai mendapatkan keterangan lengkap mengenai berbagai negara di dunia, keterangan kontak rerwakilan RI, hukum dan tata aturan yg berlaku di masing-masing negara, mata uang setempat, tempat ibadah, lokasi wisata, maupun keterangan kuliner.

Fitur utama lainnya adalah tombol darurat (panic button). Dalam kondisi darurat, WNI yg berada di luar negeri bisa memakai fitur tombol darurat buat mengirim foto, merekam video, menghubungi perwakilan RI terdekat, dan mengirim lokasi kejadian, ujar Achmad di Jakarta, JUmat (13/7).

Dari sisi ekonomi, lanjut dia, Indonesia juga mampu mensosialisasikan berbagai kegiatan seperti pameran di Luar Negeri. Komitmen Kemenlu dalam menggiatkan diplomasi digital kembali ditunjukkan lewat kegiatan edukatif berupa seminar bertajuk Diplomasi Digital yg digelar kemarin (12/7) di Gedung Kemenlu Jakarta. Pada seminar internasional itu, Kemenlu menggandeng Pulse Lab Jakarta dan DIPLOFoundation. Seminar dihadiri korps diplomatik, perwakilan Kementerian dan Lembaga, organisasi masyarakat sipil, dan organisasi swasta.

Dibuka oleh Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Marsudi, dituturkan Project Manager-Asia DIPLOFoundation Shita Laksmi, seminar internasional ini juga menghadirkan sejumlah praktisi diplomasi sebagai pembicara. Di antaranya, Allaster Cox, Wakil Duta Besar Kedutaan Australia; Rasmus Abildgaard Kristensen, Duta Besar Kedutaan Denmark; Profesor Jovan Kurbalija, Direktur dan Pendiri DiploFoundation; dan Derval Usher, Kepala Pulse Lab Jakarta.

Seminar membahas pengalaman-pengalaman keberhasilan dan tantangan diplomasi digital, hingga pengaruh diplomasi digital pada kegiatan diplomatik. Termasuk, sejumlah diskusi contoh interaksi sehari-hari dan tantangan ke depan yg dihadapi diplomasi digital, papar Shita.

Pada kesempatan itu, Jovan Kurbalija, Direktur DiploFoundation, berbicara luas tentang berbagai pengalaman diplomasi digital yg memanfaatkan situs jejaring sosial. Di era digital, penggunaan media sosial bagi diplomasi sudah menjadi kebutuhan. Hampir seluruh pemimpin global ketika ini memiliki akun Facebook dan Twitter dan menggunakannya sebagai saluran diplomasi, katanya. [sya]

Sumber: http://www.merdeka.com
BanyumasRaya.com

No More Posts Available.

No more pages to load.