Banyumas Raya

Konten-konten di dunia internet yg mengandung unsur radikalisme kian berkurang. Per 30 Mei lalu, lebih dari 4.078 konten radikalisme baik dari situs maupun akun media sosial sudah diblokir.
- Teknik ini digunakan anggota teroris sebarkan paham radikal
- 7 Kampus negeri ternama terpapar radikalisme, UI dan Undip termasuk
- ASN terpapar paham radikal, BNPT ajak Kementerian PAN-RB perketat rekrutmen
“Sekarang trennya telah akan menurun,” kata Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara ketika acara buka puasa bersama dengan para pemangku kepentingan di Gedung Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo), Jakarta, Kamis (31/5).
Lebih lanjut, pria yg akrab disapa Chief RA ini mengatakan, berdasarkan data yg dimilikinya setengah dari jumlah itu, berasal dari platform Facebook dan Instagram.
“Puncaknya terjadi pada tanggal 21 Mei kemarin. Tapi kalian selalu menyisir dan melakukan verifikasi lagi. Kami pantau terus,” ungkapnya.
Terjadinya penurunan konten-konten radikalisme ini, diakuinya besar kemungkinan terkait adanya penegakan hukum yg dikerjakan oleh pihak kepolisian. Maka itu, konten-konten yg berkaitan dengan radikalisme kelihatan adanya penurunan.
Sebelumnya, pada pertengahan Mei lalu, pihak Kemkominfo gencar melakukan patroli di media sosial terkait dengan konten radikalisme. Komposisi jumlah akun yg sudah terblokir berdasarkan masing-masing platform media sosial tersebut bervariasi.
Seperti Telegram, sebanyak 280 lebih akun pengunanya sudah diblokir. Facebook dan Instagram, diidentifikasi sebanyak 450 akun yg menyebarkan paham radikalisme.
“300 dari 450 akun itu, telah ditake down,” ungkap Menkominfo.
Sementara, bagi akun di Youtube teridentifikasi 250 lebih, namun sekitar 40-70 persen selesai ditake down. Juga Twitter ada 60-70 akun yg sudah teridentifikasi, setengah dari jumlah tersebut, telah dikerjakan pemblokiran.
“Sisanya masih dalam proses pemantauan Kepolisian,” terangnya. [ian]
Sumber: http://www.merdeka.com
BanyumasRaya.com

