Pemerintah Kabupaten Purbalingga, saat ini tengah menyiapkan tiga titik strategis baru untuk menampung para pedagang kaki lima (PKL) di kawasan Alun-alun Purbalingga.
Selain sebagai lokasi baru bagi para PKL yang lebih tertata dan rapi, langkah tersebut juga dilakukan untuk menegakkan Peraturan Bupati Nomor 94 Tahun 2019, agar kawasan Alun-alun dan Jalan Tandean tetapi steril dari PKL.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Dinperindag) Kabupaten Purbalingga, Agung Widiarto mengatakan, tiga titik strategis yang tengah disiapkan tersebut ialah Taman Kota Usman Janatin, eks Ayam Bakar Nony (depan Eka Surya) dan kawasan Jalan Onje (depan Kantor DPRD Purbalingga).
Ketiganya merupakan lokasi yang dipilih langsung sebagai bagian dari rencana penataan wajah kota.
“Nanti beberapa pedagang akan kami tempatkan di situ, tetapi tidak semuanya. Akan kami kurasi,” katanya.
Agung mengatakan, untuk membuat ketiga spot tersebut hidup, pihaknya akan melakukan kurasi terhadap penempatan PKL yang cocok dengan karakteristik lokasi atau sesuai dengan tema lokasi.
Sehingga, nantinya tidak akan ada terlalu banyak PKL yang menumpuk di salah satu spot, dan diharapkan titik-titik keramaian juga bisa tersebar di beberapa spot tersebut.
“Di Usman Janatin misalnya, supaya tempatnya tetap hidup, akan kami kurasi dari awal.”
“Kira-kira pedagang apa si yang cocok dengan karakteristik di situ, selain itu variasi makanan juga harus beragam. Jadi bukan hanya sekedar ramai, tetapi juga tetap menarik,” katanya.
Rencana Car Free Night di Usman Janatin
Selain rencana kurasi tersebut, pihaknya juga mengatakan Bupati memiliki rencana untuk membuka progam car free night di Taman Kota Usman Janatin.
Jalan akan ditutup sementara, untuk menciptakan ruang publik sekaligus lokasi kuliner malam yang nyaman.
“Di Usman Janatin, Bupati juga punya rencana untuk progam car free night, jalan akan ditutup terus akan disulap menjadi tempat nongkrong.”
“Tidak setiap malam, malam minggu saja misalnya,” terangnya.
Spot Kuliner Praktis di Jalan Onje
Selain Usman Janatin, Agung juga mengatakan PKL di kawasan Jalan Onje yang berada di lingkungan kantor pemerintahan nantinya akan disesuaikan dengan dagangan yang praktis dan tidak menimbulkan banyak sampah.
“Karena di dekat kantor, kami harapkan pedagang menyajikan kuliner yang siap saji dan tidak memerlukan proses memasak yang panjang.”
“Tujuannya agar lokasi tersebut tetap bersih dan tidak menggangu lingkungan kantor,” ujarnya.
Agung juga mengatakan, selain kurasi, pihaknya juga akan menyiapkan pedoman dan tata tertib di setiap spot terkait jam buka dan tutup, kebersihan dan total kapasitas pedagang yang boleh menepati.
PKL PFC Jadi Prioritas
Adapun, meski ketiga spot tersebut tengah disiapkan Agung menambahkan pihaknya belum melakukan pendataan terhadap siapa saja PKL yang akan menempati tiap titik tersebut.
“Kita masih tunggu sampai prosesnya selesai. Namun nantinya ketiga spot tersebut akan tetap kami prioritaskan kepada PKL PFC,” katanya.
Sementara itu, meski ketiga spot tersebut tengah dipersiapkan, lokasi PFC menurutnya tetap akan digunakan dan tidak akan ditinggalkan.
“PFC tetap ada,” ucapnya.
Pihaknya mengatakan, para PKL PFC telah menjalin komunikasi dengan Anggota DPR RI Rofik Hananto untuk membahas terkait pengembangan PFC.
“Kemarin, beliau Pak Rofik sudah bertemu dengan pedagang PFC untuk sharing terkait pengembangan PFC atau penataan ulang agar lokasi tersebut tetap dapat digunakan, dan akan dibuat jadi lebih menarik,” jelasnya.
Setelah ketiga spot tersebut dan PFC dapat kembali digunakan, ia mengatakan Alun-alun tetap akan steril sesuai dengan peraturan yang ada.
“Saya berharap setelah dipindah PKL dapat menaati aturan, karena kami telah memberikan solusi,” pungkasnya. (*)


