Banyumas Raya

JAKARTA, – Meski regulasi mengenai kendaraan listrik di Tanah Air belum juga putus, namun Toyota telah menyatakan bersiap buat mengarah ke sana. Namun sebagai langkah awal dukungannya, raksasa industri otomotif yang berasal Jepang ini memilih bagi fokus pada kendaraan hibrida dan Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV).
Menurut Executive General Manager PT Toyota Astra Motor (TAM) Fransiscus Soerjopranoto, keputusan bagi menuju ke teknologi yg lebih maju, seperti kendaraan Fuel Cell Electric Vehicle ( FCEV) atau sepenuhnya berbasis baterai menjadi konsentrasi Toyota pada tahap selanjutnya.
“Sekarang hybrid, baru selanjutnya kami lanjutkan ke PHEV, ini jadi konsentrasi kita fase pertama. Untuk mendukung rencana 2025, kami mulai lihat di mana kebutuhannya, apakah itu nanti arahnya ke baterai EV atau FCEV, ini jadi fokus kita di fase kedua,” kata Soerjo kepada , akhir minggu lalu.
Baca juga: Tawaran Insentif dalam Pepres Mobil Listrik di Indonesia
Toyota Prius PHEV Gazoo Racing di GIIAS 2019Menurut Soerjo, bila ada pertanyaan kenapa sampai ketika ini Toyota belum bertolak segera menuju ke kendaraan yg sepenuhnya memakai baterai, keadaan tersebut lebih dikarenakan penyesuaian keadaan nyata ketika ini dan juga soal persoalan regulasi.
Infrastruktur yg ketika ini masih belum siap, menurut Soerjo tak mulai cocok menunjang kebutuhan kendaraan bertenaga baterai. Beda dengan mobil hybird atau PHEV, yg mana tenaga utamanya bukan cuma mengandalkan baterai saja tetapi juga masih dapat ditunjang dengan mesin konvensional.
Mobil-mobil hybrid dan PHEV juga dinilai cukup baik sebagai sebuah jembatan sebelum akhirnya menuju ke era kendaraan yg benar-benar memakai sumber tenaga terbarukan. Selain menunggu fasilitas infrastrukur, hal ini berguna juga bagi tahapan sosialisasi.
Baca juga: Keniscayaan Era Elektrifikasi di Indonesia
Konsep teknologi mobil hidrogen Toyota“Sekali lagi ini persoalan regulasinya bagaimana, bagi sekarang buat kita mobil hibrida dan PHEV yg paling pas buat solusi elektrifikasi di Indonesia sebagai tahap awal. Kami tak ingin ada pertentangan soal kendaraan dan infrastrukturnya,” ujar Soerjo.
“Bila nanti infrastruktur dan fasilitasnya telah banyak, mulai kami tinjau dan lihat lagi bagaimana, apakah kami ikuti ke baterai atau justru segera lompat ke fuel cell, ini jadi pilihan di fase kedua,” kata dia.
Sumber: http://otomotif.kompas.com
BanyumasRaya.com

