Banyumas Raya

JAKARTA, – Entah apa saja tombol yg ditekan Kapten TNI Yanuar dari kemudinya. Namun, helikopter Bell 412 punya Pusat Penerbangan TNI Angkatan Darat Timika itu perlahan turun dari ketingian, hingga akhirnya mulus mendarat di tanah yg sedikit basah.
Selamat tiba di Kabupaten Asmat…
berkesempatan menginjakkan kaki di kabupaten yg terletak di selatan bumi Papua itu pada 12 April 2018 lalu. Kami hendak meliput kunjungan kerja Presiden Joko Widodo beserta Ibu Negara Iriana yg datang pada siang harinya.
Perjalanan ke Asmat berawal dari Kota Timika. Pukul 06.00 Waktu Indonesia Timur, pesawat Garuda Indonesia yg kalian tumpangi mendarat di Bandar Udara Mozes Kilangin di Timika.
(Baca juga: Tiba di Agats, Jokowi Presiden Pertama yg Injak Tanah Asmat)
Dari sana, minibus punya bandara mengantar kita ke Markas Puspenerbad. Jaraknya sekitar 1 kilometer.
“Selamat tiba di Markas Puspenerbad. Kapan-kapan kalau ke Timika, silahkan ya main-main ke sini,” sapa pilot helikopter, Kapten TNI Yanuar.
Kami menumpang helikopter TNI AD menuju ke kabupaten seluas 29.658 kilometer persegi tersebut.
Usai briefing singkat mengenai seluk beluk penerbangan dari Timika menuju Asmat, kalian menaiki helikopter berkapasitas 8 orang itu sesuatu per satu. Sabuk pengaman sudah terpasang melintangi dada. Mesin heli kian meraung kencang, helikopter perlahan membawa kita ke udara.
Masih Terisolasi
Hingga ketika ini, memang belum ada jalan darat menuju Asmat. Hanya tersedia jalur udara yg cukup menguras kocek dan sungai yg tentunya menguras waktu.
Pesawat menuju Asmat tersedia setiap hari. Ada yg dari Timika, ada pula yg dari Merauke. Pesawat yg digunakan rata-rata berkapasitas maksimal 17 orang.
(Baca juga: Wajah Asmat di Agats)
Harga tiket pesawat lebih murah seandainya terbang dari Merauke. Hanya sekitar Rp 300.000. Sebab, pemerintah setempat mensubsidinya. Sementara dari Timika, harga tiket pesawat mampu mencapai Rp 1,7 juta hingga lebih dari Rp 2 juta.
Pesawat pun tak mampu mendarat di Agats, Ibu Kota Kabupaten Asmat. Pesawat itu cuma mendarat di Distrik Ewer dan harus melanjutkannya dengan mengarungi jalur sungai selama sekitar 20 menit memakai speed boat yg per orangnya dikenakan biaya Rp 100.000.
Selain jalur udara, jalur sungai juga mampu ditempuh dari Timika. Tiga kapal besar, di antaranya Sirimau dan Leuser, berlabuh di Pelabuhan Agats sekali dalam beberapa pekan. Harga tiket cukup terjangkau, yakni cuma Rp 120.ooo per orang. Hanya saja, waktu tempuh yg dibutuhkan mencapai 6 jam.
Selain itu, ada speed boat yg dapat digunakan selama hari masih terang. Tapi, meskipun waktu tempuhnya cuma sekitar 4 jam, harga tiket per orangnya cukup mahal, yakni Rp 1,5 juta.
(Baca juga: Jokowi Beberkan Infrastruktur yg Akan Dibangun di Asmat)
Warga setempat jarang ada yg menumpang pesawat terbang. Mereka kebanyakan memanfaatkan jalur sungai buat mobilitas.
Jaringan Telekomunikasi Buruk
Tepat pukul 08.30 WIT, helikopter kalian mendarat di Bandara Ewer. Beruntung, kita tak perlu merogoh kocek dalam-dalam atau menempuh waktu berjam-jam buat dapat sampai ke Asmat. Helikopter yg kalian tumpangi cuma membutuhkan waktu sekitar 50 menit sampai mendarat di Distrik Ewer.
Sebenarnya kalian dapat mendarat di Pelabuhan Agats. Namun, karena personel TNI dan Polri sedang melakukan gelar pasukan di lapangan pelabuhan sebagai persiapan kedatangan rombongan presiden, maka Kapten TNI Yanuar membawa kalian ke Ewer bagi melanjutkan perjalanan dengan speed boat.
Usai sekitar 15 menit terombang-ambing di Sungai Asewetsj, speed boat berkapasitas 4 orang bersandar di pelabuhan kecil di Agats.
(Baca juga: Jokowi: Saya Pesan Pak Bupati Asmat, Gizi Anak Betul-betul Diperhatikan)
Presiden Joko Widodo (tengah) didampingi Ibu Negara Iriana Joko Widodo berbincang dengan ibu dengan balita ketika penyerahan gizi makanan tambahan di Distrik Agats, Kabupaten Asmat, Papua, Kamis (12/4). Kunjungan kerja Presiden ke Asmat diantaranya buat pemberian gizi makanan tambahan untuk ibu hamil dan anak-anak, memeriksa pembangunan tampungan air hujan serta pembangunan rumah untuk warga Asmat.
Kami menemui masalah baru. Ponsel pintar yg kita bawa tak mendapatkan jaringan sehingga kesulitan menghubungi rekan yg telah terlebih lalu tiba ke Agats.
“Di sini handphone bagus enggak bisa, Mas. Bisanya handphone kayu (ponsel GSM),” celetuk seorang pemuda berparas suku Jawa di gubuk, tepi pelabuhan.
Salah seorang rekannya yg berparas orang Papua nyeletuk, “di sini memang sulit sinyal. Kadang muncul, tidak jarang ‘trada’ (tidak ada).”
Saya membalas dengan senyum sambil mengangguk. Dalam hati, aku bergumam, “kalau di Ibu Kota Kabupaten ini saja sulit sinyal, bagaimana dengan 23 distrik yang lain di Asmat?”
Benar saja, dari Fabio, jurnalis yg aku temui kemudian mengungkapkan bagaimana buruknya jaringan telekomunikasi di Asmat, bahkan berdampak pada kematian warga ketika kejadian luar biasa wabah penyakit campak dan gizi buruk di sana.
“Seringkali ada pasien wabah penyakit, dia telah sakit parah ya, akhirnya meninggal karena mau hubungi orang di kota panggil ambulans bagaimana? Sinyal tak ada,” kata Fabio.
(Baca juga: Jokowi Janji Perbaiki Jaringan Telekomunikasi di Asmat)
Media lokal Papua, Maret 2018, sempat memberitakan Pemerintah Kabupaten Asmat berupaya meningkatkan pelayanan jaringan telekomunikasi agar keterangan persoalan di daerah itu langsung diketahui dan dicarikan solusinya. Namun pengalaman kita di sana tak selaras dengan berita itu.
Sinyal 4G sempat kita bisa pada sore hari. Saat itu kalian manfaatkan betul buat mengirimkan materi berita berupa teks, foto dan video. Namun sekitar 15 menit berselang, entah mengapa sinyal kembali hilang bak ditelan bumi.
Tidak cuma jaringan telekomunikasi yg memperparah keadaan luar biasa wabah penyakit menahun di Asmat. Jumlah puskesmas beserta tenaga medis juga menjadi penyebabnya. Bayangkan, dari 23 distrik se-kabupaten, cuma ada 14 puskesmas yg jumlah tenaga medisnya terbatas.
Sumber: http://nasional.kompas.com
BanyumasRaya.com

