Banyumas Raya

Jakarta – Pasien yg melakukaan operasi penggantian katup jantung, 7-10 persen berusia dibawah 50 tahun.
Sekitar 2/3 nya disebabkan karena bicuspid valve, 1/3 nya disebabkan oleh unicuspid valve, 40 persen berusia 50-70 tahun, 2/3 nya mempunyai bicuspid valve, dan 1/3 nya tricuspid valve yg menua lebih cepat karena perkapuran daun katup (aortic sclerosis).
Sekitar 50 persen berusia diatas 70 tahun, 60 persen mempunyai perkapuran tricuspid valve dan cuma 40 persen mempunyai bicuspid valve.
Pasien yg telah terdiagnosis memiliki stenosis aorta derajat sedang, penyempitan mulai menjadi semakin berat seiring dengan berjalannya waktu.
Data menunjukan bahwa kemungkinan terjadinya keluhan seperti sesak napas bahkan sampai meninggal pada pasien dengan stenosis aorta derajat berat adalah 7 persen, 38 persen dan 74 persen sesudah 1 tahun, 3 tahun dan 5 tahun.
Saat pasien terdiagnosis stenosis aorta derajat berat, sekitar 60 -80 persen pasien mulai mengalami keluhan sesak napas bahkan meninggal dalam 2 tahun.
“Sampai ketika ini, obat – obatan cuma bisa meringankan gejala kelainan katup jantung tapi tak bisa membereskan kelainan katup. Seiring dengan semakin memberatnya kelainan katup jantung, obat-obatan tak lagi mampu lagi meringankan kerja jantung yg semakin memberat,” kata dr. Antono Sutandar, Sp.JP-K selaku wakil ketua Siloam Heart Institute, Jakarta, Jumat, (01/03/2019).
Operasi katup jantung mulai menjadi pilihan penting bagi mengatasi persoalan ini.
“Seiring dengan perkembangan ilmu kedokteran dan peralatan medis, penggantian katup jantung bisa dikerjakan melalui kateter atau biasanya disebut Transcatheter Aorta Valve Implantation (TAVI)”, jelas dr. Antono Sutandar, SpJP-K.
TAVI yaitu terobosan terbaru buat menangani kelainan katup jantung, khususnya katup aorta. Metode ini memungkinkan implantasi katup aorta tanpa dikerjakan pembedahan tapi cuma memakai kateter yg dimasukan melalui pembuluh darah besar di area pangkal paha.
Metode minimal invasif ini juga menjadi solusi pada orang-orang yg dianggap berisiko menengah sampai tinggi (khususnya pasien diatas 80 tahun) buat dikerjakan operasi penggantian katup secara konvensional.
Tindakan TAVI juga memiliki risiko tindakan yg lebih rendah serta proses pemulihan lebih cepat dibandingan operasi penggantian katup konvensional.
“Tindakan ini dikerjakan oleh tim jantung yg melibatkan dokter jantung intervensi, dokter jantung bagi Trans-Esophageal Echocardiography (TEE) assessment, cardiac anesthesist, dan dokter bedah jantung” tutup dr. Antono Sutandar, SpJP-K.(tka)
Sumber: http://gayahidup.inilah.com
BanyumasRaya.com

