Banyumas Raya

Jakarta -Hasil sembilan studi pasien (Diabetes Melitus Tipe 2) DMT2 berpuasa Ramadhan, kelas terapi DPP4i terbukti lebih baik menurunkan risiko hipoglikemia dibandingkan Sulfonilurea dengan tingkat keampuhan.
Kelas terapi DPP4i juga tak membutuhkan penyesuaian dosis dan waktu pemberian selama bulan Ramadhan sehingga membuat pasien DMT2 lebih nyaman menjalankan ibadah puasa.
Studi yang lain memamerkan perbedaan hasil penggunaan terapi DPP4i dibandingkan dengan sulfonilurea. Aravind SR pada tahun 2011 dengan metode observasional memamerkan 20 persen dari 1.378 pasien DMT2 mengalami hipoglikemia selama mengonsumsi sulfonilurea pada bulan puasa.
Studi tersebut kemudian dilanjutkan pada tahun 2012, di mana Aravind melakukan perbandingan konsumsi kelas terapi DPP4i dengan sulfonilurea. Hasil studi memamerkan penggunaan kelas terapi DPP4i pada pasien DMT2 terbukti menurunkan risiko hipoglikemia sampai dengan 50 persen dibandingkan dengan sulfonilurea.
“Saat berpuasa, tak hanyaterjadi perubahan waktu makan dan macam makanan, tetapi pasien DMT2 juga mulai tak mendapatkan asupan makanan dan minuman dalam waktu yg cukup lama. Karena itu umumnya diperlukan dua perubahan dalam terapi diabetes yg diberikan sehingga kadar gula dalam tubuh tak turun terlalu rendah(hipoglikemia), maupun naik terlalu tinggi (hiperglikemia),” kata Perwakilan PB PERKENI, dr. Dicky Levenus Tahapary, SpPD, Ph.D seperti yg dikutip dari siaran pers MDS Inventing For Life, Jakarta, Selasa, (30/04/2019).
Hipoglikemia ketika puasa yaitu hal yg tidak jarang ditemui seandainya pasien diabetes tak diberikan pengarahan yg memadai mengenai manajemen diabetes yg tepat selama puasa.
“Karena itu, idealnya, tiap pasien DMT2 sebaiknya berkonsultasi dengan dokter 2-3 bulan sebelum bulan Ramadhan buat mendapatkan persiapan sebelum puasa yg memadai dan mendapatkan rekomendasi manajemen diabetes yg tepat selama bulan puasa dan ketika Hari Raya Lebaran,” tambahnya. (tka)
Sumber: http://gayahidup.inilah.com
BanyumasRaya.com

