Banyumas Raya

Bali – Masalah gangguan jiwa ternyata bukan saja dialami banyak orang yg tinggal di kota besar.
Pada daerah – daerah tertentu juga terdapat orang yg mengalami gangguan jiwa. Hal tersebut tergantung pada tingkat masalahnya.
Menurut Dr. dr. Fidiansjah, Sp.KJ, MPH Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa dan Napza, variasi dalam kehidupan timbul dari gejolak sosial. Keadaan di pedasaan dan di perkotaan memang jelas berbeda. Masing – masing memiliki tingkat persoalan atau kerumitan yg spesifik dan tak mampu disamakan.
“Rentang pedesaan dan perkotaan memang ada perbedaan, tetapi secara kemaknaan tidak. Ada perbedaan iya. tentu ada tantangannya, dan juga kehidupan yg membutuhkan penyesuaiannya,” kata Fidiansjah ketika ditemui di Rumah Berdaya, Denpasar, Bali, Rabu, (24/04/2019).
Dia menambahkan, ternyata pengaruh kemajuan teknologi juga menjadi salah sesuatu pendorong terjadinya gangguan jiwa. Mengapa? Karena, lewat adanya sosial media, banyak orang yg kerap saling mengejek sesuatu sama lain. Keadaan ini mulai menimbulkan rasa yg tak nyaman. Untuk itu, setiap orang harus dapat memanfaatkan kemajuan teknologi sesuai dengan usianya dan tepat porsinya.
“Ditambah lagi di era sekarang ada kemajuan IT. Tadi kalau kami lihat drama di SMKN 5 Denpasar, mereka (tampilkan drama soal bullying) saling ejek di media sosial misalnya, mengungkapkan ekspresi kemarahan saat bertemu, maka disebut dengan bagaimana teknologi itu tersebut ditempatkan proporsional atau tidak. Ini peran orangtua juga sangat utama buat mengatasi persoalan tersebut,” tambahnya.(tka)
Sumber: http://gayahidup.inilah.com
BanyumasRaya.com

