Banyumas Raya

Jakarta – Dalam rangka memperingati Hari Penglihatan Sedunia 2018, Kementerian Kesehatan RI, memperkenalkan Sistem Informasi Penanggulangan Gangguan Penglihatan Nasional (Sigalih).
Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, dr. Anung Sugihantono, M.Kes, menjelaskan Sigalih adalah aplikasi yg mampu mencatat seluruh jenis yg hal yg berkaitan dengan kesehatan mata.
“Aplikasi berbasis web atau android ini mampu mengenali gangguan penglihatan warga negara Indonesia melalui deteksi dini di Posbindu,” kata Anung ketika ditemui di Kemenkes RI, Jakarta, Rabu, (03/10/2018).
Berdasarkan berbagai penelitian memperlihatkan bahwa gangguan penglihatan dan kebutaan memiliki implikasi yg multidimensional. Antara lain, yakni dampak fisik bisa menyebabkan menurunnya kualitas hidup (quality of live), bahkan sampai pada berkurangnya produktifitas seseorang dalam melakukan pekerjaan ataupun aktivitas harian (acitivites of daily living).
Kemudian, dampak sosial yg mulai timbul adalah rentan terhadap persoalan kesehatan, risiko jatuh, depresi dan ketergantungan pada individu yang lain dalam hal ini yg terdekat adalah keluarga. Selanjutnya adalah dampak psikologis terkait kepuasan dalam hidup maupun status emosional.
Berdasarkan data WHO, ada lebih dari 285 juta penduduk dunia mengalami gangguan penglihatan dan 39 juta diantaranya mengalami kebutaan, 124 juta dengan low vision serta 153 juta mengalami gangguan penglihatan karena kelainan refraksi yg tak terkoreksi.
Sekitar 90 persen para penyandang gangguan penglihatan dan kebutaan ini hidup di negara dengan pendapatan rendah, yg seandainya dibiarkan begitu saja tanpa ada tindakan apapun, maka jumlah penderita gangguan penglihatan dan kebutaan ini mulai membengkak menjadi beberapa kali lipat pada tahun 2020. (tka)
Sumber: http://gayahidup.inilah.com
BanyumasRaya.com

