Mandiri Energi dari Desa Banyumas: Kala Sang Surya Ikut Mengairi Sawah Petani

oleh -1195 Dilihat

BANYUMAS  – Akhir Juni, hamparan sawah di Desa Kaliurip, Kecamatan Purwojati, Kabupaten Banyumas, hampir menguning. Masa panen sebentar lagi tiba.

Hamparan sawah itu mengapit aliran Kali Tajum yang berkelok dengan alirannya yang deras. Letak sawah dan ladang milik para petani lebih tinggi dari permukaan Kali Tajum.

Saat musim penghujan, suplai air melimpah ruah dan para petani tidak dipusingkan kebutuhan pengairan dari saluran irigasi untuk membasahi tanah garapannya. Ketika musim kemarau tiba, beda cerita.

 

Suplai air dari saluran irigasi tak lagi mampu mencukupi kebutuhan sawah dan ladang mereka kala musim kemarau. Aliran air di Kali Tajum menjadi jawaban bagi tanaman garapan petani agar tetap bisa dipanen.

Tetapi, perbedaan ketinggian antara permukaan Kali Tajum dengan sawah menjadi problem selanjutnya. Para petani perlu menaikkan air dari Kali Tajum dengan pompa air berbahan bakar minyak. Dan metode ini menjadi andalan mereka selama bertahun-tahun lamanya.

Lama kelamaan, menyedot air dengan pompa berbahan bakar minyak menjadi kian mahal. Kepala Desa Kaliurip Kitam Sumardi mengatakan, saat ini biaya yang dibutuhkan untuk mengairi sawah seluas 700 meter persegi adalah Rp 25.000 per jam.

“Untuk sawah seluas 700 meter persegi, minimal empat jam pengairan. Jadi sekitar Rp 100.000 untuk menyedot air selama empat jam. Untuk berapa harinya tergantung kebutuhan dan berapa luasnya tinggal dikalikan,” kata Kitam kepada wartawan rombongan Jelajah Energi Jawa Tengah, Rabu (29/6/2022).

Para petani pun mencoba mencari solusi lain agar air dari Kali Tajum tetap bisa dialirkan ke sawah dan ladang saat musim kemarau, tetapi dengan biaya yang murah.

Atas inisiasi salah satu warga, mereka sempat bergotong-royong membangun kincir angin guna mengalirkan air ke sawah. Belum sempat berfungsi, kincir air buatan warga hanyut terseret derasnya aliran sungai.

 

Kitam memaparkan, setelah melalui berbagai upaya dan perjuangan, mereka akhirnya mendapat pendanaan untuk pembangunan instalasi pompa air bertenaga listrik dari pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dari Dinas Pertanian Kabupaten Banyumas dengan dana yang bersumber dari APBD pada 2018.

Selain itu, Pemerintah Desa Kaliurip juga menganggarkan dana hampir Rp 60 juta untuk membuatkan saluran intake di Kali Tajum serta pipa untuk mengalirkan air ke sistem irigasi.

Kapasitas terpasang PLTS tersebut sebesar 44 kilowatt peak (kWp) yang terdiri atas 144 panel surya berkapasitas masing-masing 310 watt peak (Wp). PLTS tersebut dibangun di atas lahan hibah dari tiga kelompok masyarakat setempat.

Sedangkan pompanya ditempatkan terpisah, terletak di pinggir Kali Tajum agar dapat langsung menyedot air dari sungai tersebut.

Saluran pipa untuk menyalurkan air dari Kali Tajum ke sawah di Desa Kaliurip, Kecamatan Purwojati, Kabupaten Banyumas, Rabu (29/6/2022). Air dari Kali Tajum dialirkan ke atas melalui pipa ini dengan pompa air bertenaga pembangkit listrik tenaga surya (PLTS).INSTITUTE FOR ESSENTIAL SERVICES REFORM (IESR) Saluran pipa untuk menyalurkan air dari Kali Tajum ke sawah di Desa Kaliurip, Kecamatan Purwojati, Kabupaten Banyumas, Rabu (29/6/2022). Air dari Kali Tajum dialirkan ke atas melalui pipa ini dengan pompa air bertenaga pembangkit listrik tenaga surya (PLTS).

Pompa air bertenaga listrik dari PLTS dapat mengairi sawah hingga 20 hektare dengan waktu pengairan mulai pukul 07.00 WIB hingga pukul 15.00 WIB. Kehadiran pompa air bertenaga listrik dari PLTS menggeser pompa air berbahan bakar minyak yang diandalkan sebagian petani.

Para petani yang lahannya mendapat jatah air dari pompa air bertenaga listrik dari PLTS hanya dibebankan 10 kilogram gabah untuk setiap 700 meter persegi jika sudah panen.

 

Jika diperbandingkan, misalnya harga gabah Rp 4.000 per kilogram, maka petani yang memiliki luas lahan 700 meter persegi, hanya dibebankan setara uang tunai Rp 40.000 setiap panen.

Salah satu petani, Warjo, menuturkan bahwa sebelum ada pompa air bertenaga PLTS, dia harus menyedot air dengan pompa berbahan bakar minyak sebanyak lima sampai tujuh kali dari mulai masa penggarapan hingga panen, kala musim kemarau.

Kini, Warjo mengaku kebutuhan air untuk sawahnya seluas 3.000 meter persegi saat musim kemarau sudah tercukupi dengan adanya pompa air bertenaga listrik dari PLTS.

“Saya hanya satu kali menggunakan pompa berbahan bakar minyak (setelah memanfaatkan pompa air bertenaga listrik dari PLTS). Itu pun hanya untuk memulai masa penggarapan yang membutuhkan banyak air,” ujar Warjo.

Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jawa Tengah Sujarwanto Dwiatmoko mengatakan, kapasitas terpasang PLTS tersebut sangat besar.

“Kalau hanya untuk menggerakkan pompa air, lebih dari cukup. Sisa daya yang belum termanfaatkan masih besar,” ujar Sujarwanto.

Sujarwanto menuturkan, energi listrik yang dihasilkan PLTS untuk pompa air sangat melimpah sehingga perlu dioptimalisasi supaya pemanfaatannya dapat maksimal. Strategi optimalisasinya adalah dengan menambah pompa serta membangun bak penampung untuk mengumpulkan air.

Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jawa Tengah Sujarwanto Dwiatmoko (paling kanan) berbicara dengan jajaran Pemerintah Desa Kaliurip, Kecamatan Purwojati, Kabupaten Banyumas di dekat bangunan yang terdapat pompa yang digerakkan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS).INSTITUTE FOR ESSENTIAL SERVICES REFORM (IESR) Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jawa Tengah Sujarwanto Dwiatmoko (paling kanan) berbicara dengan jajaran Pemerintah Desa Kaliurip, Kecamatan Purwojati, Kabupaten Banyumas di dekat bangunan yang terdapat pompa yang digerakkan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS).

“Bahkan kalau sekarang bisa mengaliri 20 hektare lahan, (dengan optimalisasi) bisa meningkat hingga dua kali lipat,” tutur Sujarwanto.

Sujarwanto menambahkan, pemanfaatan PLTS untuk pompa air menjadi salah satu bagian untuk mewujudkan desa mandiri energi.

Pompa air bertenaga listrik dari PLTS ini juga bisa menjadi daya tarik lain untuk dikembangkan menjadi kawasan wisata karena Desa Kaliurip telah memiliki modal keindahan pemandangannya.

Program Manager Akses Energi Berkelanjutan Institute for Essential Services Reform (IESR) Marlistya Citraningrum menuturkan, pemanfaatan PLTS untuk pompa air di Desa Kaliurip memberikan contoh masyarakat yang berdaya dan mau bergotong royong, bekerja sama dengan pemerintah untuk menyediakan air.

“Energi surya bisa dimanfaatkan untuk sektor sektor produktif termasuk sektor pertanian. Pemanfaatan pompa air tenaga surya ini mudah direplikasi di daerah daerah pertanian yang membutuhkan air dan bisa dikolaborasikan dengan berbagai pihak,” kata Citra.

No More Posts Available.

No more pages to load.