Banyumas Raya

Jakarta – Ada banyak mitos seputar susu yg masih dipercaya masyarakat, padahal belum tentu benar. Apa saja?
Setidaknya, ada lima mitos paling populer tentang susu, yg dipaparkan dalam FFI MilkVersation: Kupas Tuntas Kebaikan Susu buat Tunjang Kesehatan Tubuh, Membahas Mitos Vs Fakta Tentang Susu.
Mitos pertama: susu cuma buat anak-anak; orang dewasa tak butuh susu karena telah tak milik lagi enzim bagi mencerna susu.
Faktanya, anak-anak memang membutuhkan kalsium dari susu buat pertumbuhan tulang dan gigi. Namun, orang dewasa pun tetap membutuhkan kalsium.
Berdasarkan angka kecukupan gizi (AKG) yg dikeluarkan oleh Permenkes RI No. 75/2013, usia dewasa membutuhkan asupan kalsium 1.000-1.200 mg/hari. Memang, kalsium dapat digantikan dari sumber-sumber yang lain seperti ikan teri, brokoli, dan sayuran hijau gelap lainnya.
“Namun menurut penelitian pada responden dewasa, bila produk susu digantikan dengan sumber kalsium lain, ternyata asupan nutrisi harian lainnya jadi berkurang,” ujar Spesialis Gizi Klinis dr. Diana F. Suganda, M.Kes, Sp.GK, ketika ditemui di acara frisian flag, Jakarta, baru – baru ini.
Asupan nutrisi jadi kurang protein, kalium, magnesium, fosfor riboflavin, vitamin A, dan vitamin B12.
“Kalsiumnya sih terganti, tetapi nutrisi yg yang lain tak dapat,” imbuhnya.
Mitos kedua: susu cuma baik bagi kesehatan tulang. Susu memang sumber kalsium yg sangat baik. Namun kandungan nutrisi dalam susu bukan cuma kalsium, sehingga manfaat susu pun tidak sebatas kesehatan tulang.
“Penelitian yg dipublikasi di Journal of American College of Nutrition (2009) menyebutkan, konsumsi susu yg disertai dengan diet rendah garam mampu menolong menurunkan tekanan darah pada penderita hipertensi,” ungkap dr. Diana.
Ini karena susu mengandung kalium dan magnesium, yg menolong mengontrol tekanan darah. Hipertensi sendiri yaitu faktor risiko bagi terjadinya penyakit kardiovaskular seperti serangan jantung dan stroke.
Penelitian yang lain dari Journal of Clinical Nutrition (2015) dikerjakan pada orang lanjut usia (65 tahun ke atas).
“Ternyata, mereka yg rutin minum susu memiliki antioksidan glutathione yg lebih tinggi pada otak,” ucap dr. Diana.
Glutathione adalah antioksidan yg berperan utama melindungi otak dari ROS (reactive oxygen species) dan radikal bebas yg mampu merusak sel-sel otak dan menyebabkan stres oksidatif. ROS dan radikal bebas yg menumpuk di otak berhubungan dengan penyakit yg memengaruhi fungsi otak seperti Parkinson, Alzheimer, dan dimensia karena sebab lain.
Mitos ketiga: susu bikin gemuk.
“Yang bikin gemuk itu total asupan harian yg melebihi kebutuhan,” tegas dr. Diana.
Susu memang mengandung lemak, tetapi berdasarkan penelitian di International Journal of Obesity (2004), kandungan kalsium dan protein dalam susu justru bisa menolong penurunan berat badan pada orang dewasa yg obes.
Pada penelitian tersebut, responden dibagi menjadi beberapa kelompok. Keduanya sama-sama mendapat diet rendah kalori. Namun sesuatu kelompok mendapat diet rendah kalsium (400-500 mg/hari), sedangkan kelompok yang lain mendapat asupan tinggi kalsium (1.000-1.200 mg/hari).
“Kelompok yg mendapat tinggi kalsium kehilangan berat badan, lemak tubuh, dan lemak abdominal secara signifikan dibanding kelompok rendah kalsium,” paparnya.
Mitos keempat: susu menyebabkan diare.
Sebuah metaanalisis dari 21 penelitian (dipublikasi di Journal of Nutrition – 2006) membandingkan efek susu dengan placebo pada individu tanpa gangguan pencernaan. Ternyata ditemukan bahwa laktosa bukan penyebab masalah/gejala saluran cerna seperti diare. Ada banyak penyebab diare, misalnya karena infeksi atau iritasi.
“Produk susu yg difermentasi justru dapat digunakan bagi terapi diare,” ucap dr. Diana.
Susu dapat menyebabkan diare cuma pada mereka dengan intoleransi laktosa. Pada orang dengan keadaan ini, minum susu dengan seluruh rasa maupun produk susu lainnya (keciali yogurt) mampu menimbulkan diare.
Mitos kelima: cuma macam susu tertentu yg baik buat tubuh.
Banyak yg menghindari susu full cream dan lebih memiliki susu skim atau susu rendah lemak.
“Justru dari penelitian Skandinavian Journal of Primary Health 2013, susu full cream membuat kami lebih kenyang sehingga asupan yg yang lain berkurang,” tutur dr. Diana.
Jadi, jangan takut minum susu full cream. Asalkan sesuaikan dengan asupan total harian.
Dr. diana menegaskan, jangan gampang yakin mitos tanpa bukti ilmiah. Dengan seluruh mitos yg beredar, susu justru sangat kaya nutrisi dan bermanfaat untuk kesehatan.
Segelas susu (250 ml) mengandung energi sebesar 146 kkal, dan kaya mulai makronutrisi: karbohidrat 12,8 gr (4 persen dari kebutuhan harian); protein 7,9 gr (16 persen); lemak total 7,9 gr (12 persen).
Susu juga kaya mulai mikronutrisi seperti vitamin A, vitamin D, riboflavin, asam folat, kalsium, magnesium, fosfor, dan kalium.
“Selain itu juga asam lemak esensial seperti omega-3 dan omega-6 yangpenting bagi metabolisme tubuh,” tandasnya. (tka)
Sumber: http://gayahidup.inilah.com
BanyumasRaya.com

