Banyumas Raya

Jakarta – Orangtua dan guru utama mengenali potensi anak sejak dini agar mampu mengarahkan mereka bagi kesuksesan di masa mendatang.
Beberapa cara yg dapat dikerjakan buat mengetahui potensi yg dimiliki anak adalah dengan memperhatikan kebiasaan dan kesukaan mereka, ada juga yg mengajak anak bagi mengikuti tes IQ atau tes kecerdasan. Namun tak banyak orangtua yg mempunyai waktu setiap harinya dalam menolong anak belajar secara efektif, serta kesulitan dalam memahami hasil yg diperoleh dari tes IQ secara umum. Hasil tes AJT CogTest yg pasti dan gampang dipahami bisa memberikan gambaran lengkap terkait kemampuan setiap anak serta menolong cara belajar anak lebih efektif.
Orangtua mulai lebih gampang mengarahkan dan mengembangkan potensi setelah mengetahui profil kognitif anak agar mampu menolong dan memahami bagaimana mereka bisa belajar sebaik mungkin.
Hal ini yg menjadi dasar Melia Inggriany, ibu rumah tangga yg menekuni usaha pembuat roti dan dekorasi kue buat mengajak Dericho anaknya, menjalani tes AJT CogTest dua waktu dahulu di Jakarta. Dia menyampaikan dirinya menjadi lebih yakin diri dan percaya dengan potensi buah hatinya yg berumur 5 tahun itu.
AJT CogTest yaitu Tes Kognitif pertama yg dikembangkan berdasarkan norma Indonesia dengan proses pengembangan yg sistematis melibatkan lebih dari 250 psikolog Indonesia dan hampir 5.000 anak Indonesia sehingga menghasilkan produk tes yg berkelas dunia.
“Anak-anak memiliki keterampilan, minat, dan kekuatan serta kebutuhan belajar yg berbeda. Hasil laporan AJT CogTest yg pasti dan gampang dipahami, memungkinkan orang tua dan guru buat mengarahkan anak dengan keterangan yg komprehensif tentang kemampuan kognitif setiap anak, serta menolong memahami pembelajaran anak mereka,” kata Chief Executive Officer PT MCI, Ari Kunwidodo, Jakarta, seperti yg dikutip dari siaran pers, Jakarta, Sabtu, (27/04/2019).
Landasan teori psikologi yg dipakai yaitu teori paling mutakhir dan komprehensif di dunia ketika ini. AJT CogTest mengukur delapan bidang kemampuan kognitif anak usia 5 sampai dengan 18 tahun sehingga kekuatan serta kelemahan kemampuan berpikir anak dalam belajar bisa teridentifikasi secara lengkap dan jelas.(tka)
Sumber: http://gayahidup.inilah.com
BanyumasRaya.com

