Banyumas Raya

– Pekan pertama Februari lalu, Go-Jek mengumumkan finalisasi putaran pendanaan Seri F yg diperoleh dari dua investor, yakni Google, Tencent, dan JD.com.
Tak cuma mengumumkan dana segar yg baru diperoleh, perusahaan ride-hailing ini juga mengklaim sebagai layanan mobile on-demand dan platform pembayaran terbesar di Asia Tenggara.
Dilihat dari total nilai transaksi bruto (GTV) tahunan di segala pasar yg mencapai 9 miliar dollar AS (sekitar Rp 126,7 triliun), sebagian besar memang disumpang oleh layanan pembayaran Go-Pay.
Dari total GTV, transaksi ekosistem Go-Pay menyumbang 6,3 miliar dollar AS atau sekitar Rp 88,7 triliun. Sementara layanan pesan antar makanan, Go-Food meyumbang angka 2 miliar dollar AS atau sekitar Rp 28,1 triliun.
Nilai transaksi yg diperoleh Go-Food menjadikannya layanan pesan-antar makanan terbesar di Asia Tenggara.
Baca juga: Saingi Go-Pay, Ovo Bakal Bisa Dipakai Transaksi di Warung
“Go-Food sudah menjadi layanan pesan antar makanan terbesar di regional (Asia Tenggara),” ujar CEO Go-Jek, Nadiem Makarim, dilansir Tekno dari informasi resmi Go-Jek, Selasa (12/2/2019).
“Sementara Go-Pay sudah digunakan bagi memproses tiga perempat dari pembayaran mobile di Indonesia,” imbuh Nadiem.
Menurut riset dari Financial Times Confidential Research akhir 2018 lalu, Go-Pay menjadi platform pembayaran digital terpopuler di Indonesia. Saat ini, Go-Jek mengaku memiliki hampir 300.000 merchant online maupun offline di Indonesia.
Go-Pay sudah bekerja sama dengan 28 lembaga keuangan buat memberikan akses ke jutaan keluarga Indonesia. Saat ini, Go-Jek sudah memperluas jaringan bisnis ride-hailing di Singapura, Vietnam, dan Thailand.
Nadiem menyampaikan masih ingin tidak mengurangi negara-negara baru bagi memperluas jangkauan Go-Jek.
“Kami sangat ingin memperluas visi kalian ke lebih banyak negara dan di ketika yg bersamaan menempatkan Indonesia pada peta sebagai pusat inovasi teknologi regional,” kata Nadiem.
Baca juga: Go-Jek Akuisisi Start-up Fintech Filipina bagi Perkuat Go-Pay
Bersama afiliasinya, Nadiem menyebut bahwa Go-Jek sudah beroperasi di lima negara dan 204 kota serta wilayah di segala Asia Tenggara. Ia menyampaikan sudah memiliki 2 juta mitra kemudi dan 400.000 merchant.
Dari putaran pendanaan Seri F, Go-Jek dikabarkan mendapatkan suntikan dana sebesar 920 juta dollar AS (sekitar Rp 13 triliun). Apabila angka ini benar, maka valuasi Go-Jek ditaksir mencapai 9,5 miliar dollar AS (sekitar Rp 132 triliun).
Jika nantinya valuasi dapat menembus angka 10 miliar dollar AS, maka Go-Jek mulai menjadi startup “Decacorn” pertama dari Indonesia. Istilah “Decacorn” digunakan buat perusahaan rintisan digital yg mencapai angka valuasi tersebut.
Sumber: http://tekno.kompas.com
BanyumasRaya.com

