Banyumas Raya

– Pada Juli 2018, Xiaomi resmi masuk ke bursa saham melalui initial public offering (IPO) yg digelar di Hongkong, China. Sejak ketika itu, Xiaomi wajib membuka laporan keuangannya tiap kuartal ke publik.
Pada kuartal II-2018, Xiaomi dapat memuaskan ekspektasi para pemegang saham. Produsen ponsel Redmi dan Mi itu menghimpun profit 2,1 miliar dollar AS (Rp 30 triliun) selama periode tiga bulan yg berakhir pada 30 Juni 2018.
Pendapatan totalnya naik 68 persen dibandingkan tahun lalu, mencapai angka 6,6 miliar dollar AS (Rp 96 triliun). Sentimen positif ini memperkuat posisi Xiaomi di bursa saham.
Pada penutupan jam dagang, Rabu (22/8/2018) kemarin, harga saham Xiaomi meningkat 1,6 persen menjadi 17,68 dollar Hongkong (Rp 32.000 per lembar), sebagaimana dihimpun Tekno, Kamis (23/8/2018), dari TechCrunch.
Baca juga: Xiaomi Poco F1 Resmi Meluncur, Ponsel Snapdragon 845 Termurah
Laporan kinerja kuartal II ini membuktikan Xiaomi dapat bangkit pasca dua kali jatuh. Terakhir, saham Xiaomi sempat turun pasca IPO karena dua faktor, salah satunya kekhawatiran munculnya perang dagang antara Amerika Serikat dan China.
Faktor lainnya disebut-sebut karena sentimen negatif para investor terhadap ekuitas global. Banyak pula yg meragukan keberlangsungan model bisnis Xiaomi yg selama ini menjajakan ponsel murah berkualitas tinggi.
Baca juga: IPO Xiaomi Diwarnai Hoaks Bagi-bagi Saham Rp 140 Triliun
Menjawab keraguan masyarakat, Xiaomi pun gencar mengekspansi pasarnya agar tidak hanya besar di China. Belakangan Xiaomi akan memiliki daya saing tinggi di Eropa, persisnya di Spanyol dan Mesir.
Ke depan, Xiaomi pun tidak ingin puas dikenal sebagai produsen smartphone murah semata. Xiaomi berupaya agar bisa menjadi perusahaan internet yg memiliki portofolio lengkap di sektor hardware dan software.
Mampukah Xiaomi unjuk gigi dari sektor produk dan ekspansi pasar? Kita tunggu saja.
Sumber: http://tekno.kompas.com
BanyumasRaya.com

