Banyumas Raya

Jakarta – Kanker menjadi salah sesuatu penyebab penyumbang angka kematian di Indonesia.
Meningkatnya angka kejadian kanker di Indonesia dan di segala dunia melahirkan kekhawatiran tersendiri. Mengapa?
Sudah dua dekade perlawanan dikerjakan terhadap penyakit kanker, namun angka kematian masih tinggi. Berbagai penelitian di bidang terapi buat kanker selalu dikerjakan buat menghasilkan terapi kanker yg efektif.
Beberapa tahun terakhir, dunia penelitian akan menaruh harapan besar pada imunoterapi yg kini menjadi harapan baru buat pasien kanker.
Menurut Dr. dr. Andhika Rachman, SpPD, KHOM, staf pengajar Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSCM menjelaskan, imunoterapi memiliki tujuan yg sama dengan terapi kanker yg telah dikembangkan sebelumnya, merupakan terapi target. Artinya terapi menyasar segera kepada sel kanker yg dituju.
“Hanya saja, pada imunoterapi, konsepnya sedikit berbeda. Imunoterapi memberikan kesempatan kepada sel kekebalan tubuh agar lebih aktif melawan sel kanker,” kata Andhika seperti yg dikutip dari siaran pers yg diterima dari forum Ngobras, Jakarta, Selasa, (05/06/2018).
Imunoterapi memutus ikatan antara PD-1 (Programmed Cell Death-1) merupakan reseptor yg ada di permukaan sel-T, sel yg berperan utama dalam sistem imun, dengan PD-L1 (Programmed Death-Ligand 1) yg ada di permukaan sel kanker.
Ketika PD-1 dan PD-L1 berikatan, maka sel T tidak bisa mengenali sel kanker sehingga terjadi kegagalan buat membunuh sel kanker sebagaimana seharusnya.
“PD-1 itu dijadikan salah sesuatu kaki dari sel kanker tadi buat melumpuhkan sel imun kita. PD-1 ditempel dan dimodifikasi, sehingga program buat melumpuhkan sel kanker tak berjalan,” papar dr. Andhika.
Dibandingkan kemoterapi atau pengobatan kanker lainnya, pengobatan imunoterapi memiliki efektivitas yg cukup signifikan. Itulah sebabnya sejak pertengahan tahun 2016 dunia mengalami euforia dengan imunoterapi karena telah kehilangan harapan terhadap pengobatan konvensional yg responnya tak signifikan.
Imunoterapi diharapkan bisa melawan seluruh macam kanker, yg sel-selnya mengekspresikan PD-L1. Untuk menentukan apakah sel kanker mengekspresikan PD-L1, maka perlu dikerjakan pemeriksaan biomolekular. Untuk ketika ini, pembrolizumab yg yaitu penghambat PD-1 (PD-1 inhibitor) adalah satu-satunya imunoterapi di Indonesia yg telah disetujui oleh BPOM digunakan buat terapi kanker paru dan kanker kulit macam melanoma.
Namun penelitian bagi pengobatan macam kanker yang lain masih selalu dilakukan. Menurut dr. Andhika, hasil pengobatannya cukup signifikan yg ditandai dengan respon terapi yg lebih baik dan peningkatan angka kesintasan pasien.(tka)
Sumber: http://gayahidup.inilah.com
BanyumasRaya.com

