Banyumas Raya

Kontroversi yg ditimbulkan kebocoran data Facebook masih menyisakan kepanikan dunia. Pasalnya jejaring sosial itu digunakan buat menyadap, mencuri, dan memanfaatkan data para penggunanya buat tujuan ilegal. Apalagi data-data ini sempat dijual buat kampanye politik Donald Trump.
- 6 Fakta seru tentang Stray Kids, boyband yg debutnya kalahkan Wanna One
- Heboh pesta pra-tunangan anak pria terkaya India, dihadiri artis-artis Bollywood
- DJ Butterfly tepis tuduhan transgender Mbah Mijan, sebut paspor tidak dapat bohong
Masyarakat USA dan negara barat lainnya segera bereaksi atas skandal kebocoran data Facebook ini. Rasa tidak yakin atas jaminan data privat pun memuncak. Banyak pengguna facebook yg menetapkan meninggalkan platform sosial media ini.
Meskipun ketika ini facebook adalah perusahaan teknologi terbesar, kemarahan netizen tidak terbendung. Terbukti dengan merebaknya tagar kampanye #DeleteFacebook dan diikuti merosotnya saham facebook dalam 10 hari ini.
Mark Zuckerberg sendiri sudah mengatakan penyesalannya secara pribadi. Namun hingga ketika ini tidak ada pernyataan resmi oleh facebook dilevel perusahaan.
Telah banyak netizen yg merasa resah atas skandal ini. Mereka pun menghapus facebooknya demi menjaga privasi digital mereka. Tren ini diikuti oleh pesohor Elon Musk, yg menghapus akun bisnis Tesla di facebook.
Hal ini juga diikuti oleh Majalah Playboy internasional yg menghapus akun mereka Rabu (28/03). Cooper Hefner anak pemilik Playboy, alm Hugh Hefner, menetapkan hal ini karena merasa resah aturan facebook dan keselamatan datanya.

Cooper Hefner beri pernyataan soal hapus akun Facebook Playboy 2018 Twitter.com/cooperhefner
“Aturan konten Facebook sebenarnya berkontradiksi dengan aturan perusahaan kami. Selama ini kalian sudah coba menyuarakan aspirasi kalian kepada platform ini, bagi bisa lebih ekspresif secara seksual. Menimbang skandal terbaru facebook pada pemilihan presiden Amerika, ini memperlihatkan konsern kalian atas keselamatan serta privasi data pengguna layanan kami. Terdapat lebih dari 25 juta penggemar Playboy di facebook. Hal ini membuat kita percaya saatnya meninggalkan sosial media ini,” tulis Cooper Hefner.
Perlu diingat, Mark Zuckerberg tidak cuma memiliki Facebook. Perusahaan teknologi miliknya juga meliputi WhatsApp dan Instagram. Walaupun ketika ini data yg diincar dari pengguna Amerika dan sekitarnya, bukan tidak mungkin privasi kami mulai terancam.
Untuk perusahaan yg sudah survive sejak 2007 seperti facebook, tidak bisa menjaga data penggunanya adalah sangat fatal. Bukan tidak mungkin aktivitas digital kami ketika ini sebenarnya juga sedang diintai ‘mata’ tidak terlihat. KLovers tak mampu memasrahkan keselamatan data kepada pihak penyedia layanan digital.
Bahkan Mark Zuckerberg dan istrinya tidak mengunggah banyak privasi ke dalam akun sosial media mereka. Tampaknya mereka paham betul mulai pentingnya memproteksi data pribadi. Mungkin kami juga harus melakukan hal yg sama. Bukan tak mungkin data kami yg dimiliki pihak yang lain disalahgunakan. Akibatnya pun dapat membahayakan kami sendiri.
Sumber: KapanLagi.com [tsr]
Sumber: http://www.merdeka.com
BanyumasRaya.com

