Banyumas Raya

Jakarta – Jika obat-obatan telah tak efektif bagi mengatasi penyakit parkinsons maka perlu dikerjakan tindakan operasi stimulasi otak dalam atau Deep Brain Stimulation (DBS).
Operasi DBS yaitu standar baku tindakan operasi yg sudah diakui oleh Food Drug Administration Amerika Serikat bagi pengobatan essential tremor (ET), penyakit parkinsons (PD), dystonia, dan obsessive compulsive disorder (sindrom Tourette).
“Setelah pemberian obat jangka panjang, maka obat bisa menjadi kurang efektif dan mempunyai efek samping. Operasi DBS memungkinkan sel dopamin bisa dirangsang bagi memproduksi dopamin dan bekerja optimal kembali sehingga gejala penyakit parkinsons mampu diatasi dan dosis obat berkurang,” terang Dr. dr. Made Agus Mahendra Inggas, Sp.BS, dokter spesialis bedah saraf dari Parkinsons & Movement Disorder Center Siloam Hospitals Kebon Jeruk, Jakarta, Jumat, (28/06/2019).
DBS yaitu operasi buat mengatasi tremor, kaku, dan gerak yg lambat. Teknik operasi ini dikerjakan melalui penanaman elektroda atau chip pada area tertentu di otak bagian dalam.
Elektroda atau chip tersebut dihubungkan dengan kabel ke baterai yg diletakkan di dalam dada sebagai sumber arus listrik. Prosedur operasi yg dikerjakan dalam beberapa tahap ini tergolong aman dan memiliki tingkat kesuksesan yg tinggi.
Pada tahap pertama, pasien mulai menerima anestesi lokal dan dibiarkan dalam kondisi sadar. Kabel yg tipis dan kecil mulai ditanamkan di area tertentu di dalam otak pada tahap ini.
Tahap kedua adalah anestesi umum yg dikerjakan dengan menghubungkan kabel yg ditanam pada tahap pertama ke baterai seperti pacemaker yg ditanam di daerah dada (neurostimulator).
Neurostimulator inilah yg nantinya mulai diprogram oleh dokter spesialis saraf guna menghilangkan gejala-gejala serta mendapatkan respon gerak pasien yg paling optimal.
Rata-rata pasien merasakan peningkatan perbaikan motorik sekitar 75 persen -87 persen setelah dioperasi pada kondisi tanpa obat.
Berdiri sejak tahun 2016, Parkinsons & Movement Disorder Center Siloam Hospitals Kebon Jeruk sudah menangani pasien – pasien penyakit parkinsons dan gangguan gerak lainnya, diantaranya adalah Wijoyo Santoso (61 tahun) yg menceritakan kesannya setelahmenjalani operasi DBS. (tka)
Sumber: http://gayahidup.inilah.com
BanyumasRaya.com

